Diseminasi Teknologi Pertanian

BUDIDAYA BAWANG MERAH

Sumber Gambar: Balitsa

PENDAHULUAN

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan di wilayah dataran rendah sampai dataran tinggi. Ditinjau dari segi ekonomi, usaha tani bawang merah cukup menguntungkan karena mempunyai pangsa pasar yang luas. Konsumsi bawang merah penduduk Indonesia mencapai 725 t/tahun dan meningkat sekitar 5% setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bawang merah, pemerintah berupaya memperluas daerah pengembangan di wilayah luar pulau jawa, salah satunya Provinsi Lampung. Sementara produksi saat ini 70% di P.Jawa. Oleh karena itu Tahun 2018 Lampung mencoba mengembangkan bawang merah di Kabupaten Lampung Timur seluas 25 ha, dengan harapan produksi dan kualitas yang dihasilkan sama seperti di Berebes 4 kg per meter, yang telah dilakukan salah seorang petani di Kecamatan Batanghari, Lampung Timur.

A. Syarat Tumbuh

Tanaman bawang merah dapat tumbuh mulai dataran rendah–dataran tinggi, optimal di dataran rendah (0- 450 m dpl). Sementara untuk menghasilkan umbi lebih besar tanam bawang nerah pada ketinggian 15 m dpl dengan suhu 250 C- 300 C, seperti di Brebes, Tegal, Cirebon.

Jenis Lahan

  • Tumbuh di lahan sawah (seperti di Brebes, Cirebon, Tegal) pada jenis tanah Alluvial
  • di lahan kering (tegalan, kebun, pekarangan) pada jenis tanah latosol, podsolik, Andisol.
  • Media tumbuh tanah: bertekstur sedang sampai liat, mengandung bahan organik yang cukup, reaksi tanah tidak masam (pH 5.6-6.5), tanah yang cukup lembab dan berair, tidak menggenang.
  • IKlim

  • Iklim kering/tidak banyak hujan, cahaya matahari penuh minimal 70% cahaya ( pembentukan umbi optimal)
  • Musim Kemarau ketersediaan air cukup.
  • Perlu cahaya penuh untuk pertumbuhannya, jika ternaungi kurang cahaya akan terjadi etiolasi (daun memanjang, lemah, permukaan bergelombang) sehingga pembentukan umbi kurang.
  • Peka terhadap iklim dengan curah hujan tinggi dan cuaca berkabut ( menyebabkan kan munculnya penyakit Antraknose/otomatis, mati pucuk/Trotol, embun tepung/lodoh akibat nya gagal panen)
  • B. Pemilihan varietas

  • Permintaan pasar (rasa, warna, penampakan, ukuran, dll.) :
  • varietas lokal: aroma lebih tajam, warna lebih merah 
  • varietas impotr ukuran besar, aroma dan warna kurang menarik
  • Produktivitas tinggi
  • Adaptif terhadap kondisi agroekosistem dan iklim setempat (Dataran rendah, medium dan tinggi) atau musim hujan dan kemarau.
  • Varietas Musim Kemarau : Bma, Brebes, Sembrani, Trisula, Katumi, dan Maja varietas
  •  Musim Hujan : Bangkok, Filipin, Bima, Brebes, Trisula, Sembrani, dan Katumi
  •  Lahan Gambut: Sumenep, Moujung dan Bima, Sembrani, Pancasona.
  • C. Pemilihan Benih Yang Baik

  • Cukup umur tanam di lapangan lebih dari 65 hari.
  • Cukup umur simpan(3-4 bulan) dengan ciri tunas sudah sampai ujung. Apabila bawang merah belum cukup umur simpan, lakukan pemotongan ujung umbi 0,5 cm dengan tujuan memecah masa dormansi
  • Penampilan segar dan sehat, tidak mengandung penyakit, bernas (padat atau kompak, tidak keriput) dan kulit umbinya tidak luka, serta warnanya berkilau dan cerah (tidak kusam)
  • umbi berukuran sedang (1,5 –1,8 cm)
  • Perlakuan Benih

  • Bibit (umur 3 bulan) sudah diprotol dan dibersihkan dari kulit luar yang mengelupas
  • untuk mencegah serangan penyakit layu fusarium dilakukan perlakuan benih dengan cara setiap 1 kg benih bawang ditaburi dengan fungisida Mankozeb sebanyak 1-2 g
  •  Benih yang telah ditaburi fungisida disimpan dalam karung plastik selama 1 –2 hari sebelum tanam
  • D. Persiapan Tanam

    (a) PengolahanTanah

    Tujuan untuk membuat lapisan olah yang gembur dan sesuai untuk pertumbuhan tanaman bawang merah (untuk perkembangan akar dan menekan populasi OPT tanah)

  • Lahan dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma
  • Lahan bekas padi sawah: leba rbedengan1.50-1.75 m kedalaman parit 0,5 – 0,6 m, lebar parit 0,4 –0,5 m, panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan.
  • Lahan tegalan: lebarbedengan1.-1.2 m kedalamanparit0,3 –0,4 m, lebar parit 0,4 –0,5 m, panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan.
  • (b) Pengapuran.

    Tanaman dapat tumbuh baik pada tanah yang mempunyai kisaran pH tertentu, karena pH tanah berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara oleh tanaman. Beberapa unsur hara tersedia/ tidak tersedia di dalam tanah tergantung pH tanah. Jika pH tanah tidak sesuai, maka pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimum. Tanaman juga rentan terhadap serangan OPT. Pada umumnya kemasaman tanah untuk tanaman bawang merah pada pH 5,6-6,5. Jika pH tanah kurang dari kisaran angka tersebut dapat dilakukan pengapuran mengg unakan dolomit atau kaptan yang dilakukan minimal 1bulan sebelum tanam.

    Pemulsaan

    Tujuan memodifikasi iklim mikro. Aplikasi mulsa dapat meningkatkan suhu tanah, mempertahankan kelembaban tanah, menghindari erosi tanah bedengan, menekan pertumbuhan gulma disekitar tanaman.

  • Bedengan yang telah diberi pupuk dasar dan insektisida kemudian ditutup dengan mulsa plastik hitam perak.
  • Dilahan tegalan Dataran rendah: menggunakan jerami pada musim kemarau
  • Dilahan kering Dataran Tinggi menggunakan mulsa plastik hitam perak(MH/MK)
  • F. Penanaman

  • Untuk mencegah serangan penyakit layu fusarium, sebelum ditanam benih bawang merah diberi perlakuan dengan fungisida Mankozeb (100 kg benih + 100 g fungisida), selanjutnya benih disimpan dalam karung plastik selama 1-2 hari
  • Jarak tanam yang dianjurkan adalah 15 cm x 20 cm (MK) atau 20 cm x 20 cm,
  • Benih ditanam dengan cara dibenamkan seluruh bagian umbi ke dalam tanah.
  • G. Pemupukan

    Tanaman memerlukan unsur makro dan mikro yang sesuai dengan kebutuhan nya agar dapat tumbuh optimal. Tanaman yang kelebihan atau kekurangan unsur hara akan rentan terhadap serangan OPT. Pemupukan Nitrogen yang berlebihan akan mengakibatkan ukuran sel tanaman membesar dengan dinding sel yang lebih tipis. Akibatnya patogen dan hama lebih mudah menembus. Kekurangan unsur Fosfat dan Kalium akan mengakibatkan tanaman mudah terserang oleh penyakit. Fosfat dan Kalium juga berperan dalam pembentukan umbi dan kualitasnya. Dengan demikian pemupukan harus berimbang. Oleh karena itu sebelum tanam perlu dilakukan analisis tanah terlebih dahulu agar pemberian pupuk tepat.

    Cara Pemupukan:

  •  Sebar diatas bedengan pertanaman
  • Lakukan penyiraman setelah pemupukan,
  • Digarit pada barisan antar tanaman,
  • Disiramkan kelubang tanam (pake mulsa plastik hitam perak
  • H. Penyiraman

    Tanaman bawang merah membutuhkan air yang cukup banyak selama pertumbuhan dan pembentukan umbi, terutama pada musim kemarau

  • Pada musim hujan, penyiraman dilakukan untuk membilas daun tanaman dari tanah yang menempel dan menghilangkan embun di ujung daun yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit.
  • Umur 26-50, penyiraman dilakukan 2 kali/ hari (pagi dan sore hari)
  • Umur 51-60 HST, penyiraman dilakukan 1 kali/ hari pada siang hari
  • I. Penyiangan

    bertujuan menghilangkan tumbuhan pengganggu (gulma) yang dijadikan inang bagi OPT. Penyiangan dilakukan 2-3 kali selama satu musim tanam, terutama pada umur 2 minggu setelah tanam. Lakukan penyiangan sebelum pemupukan Jika tanpa mulsa, perbaikan pinggir bedengan dilakukan bersamaan dengan waktu penyiangan

    Panen

  • pada umur 50-60 hari (konsumsi)
  • Umur 60-70 hari (untuk benih)
  • Keadaan tanah kering dan cuaca cerah untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi.
  • J. Ciri-ciri bawang merah siap panen

  •  Pangkal daun sudah lemas-leher batang kosong /gembos
  •  80% daun rebah menguning
  •  Umbi sudah kompak, menyembul ke permukaan tanah
  •  Umbi berwarna merah
  • K. Penanganan Segar Bawang Merah

  • Pelayuan dengan cara penjemuran daun untuk mendapatkan kulit umbi berwarna merah dan berkilau (2-3 hari) di bawah sinar matahari langsung
  • Pengeringan dengan cara menjemur umbi bawang merah di bawah sinar matahari langsung (7-14 hari) dengan melakukan pembalikan setiap 2-3 hari.
  •  

    Disusun kembali: Nasriati, Ely Novrianty, Betty Meilina (Balai Pengkajian Teknologi pertanian Lampung)

    Sumber: Balai Penelitian Tanaman Sayuran ( Balitsa)

     

    Tanggal Artikel : 06-12-2018

    Dibaca: x

    Printer-friendly Version

    Artikel Terkait
    1. Perbenihan Pisang
    2. Mengenal Penyakit Vascular Streak Dieback (vsd) Pada Tanaman Kakao
    3. Pertumbuhan Seledri Meningkat Dengan Pemberian Kotoran Kambing Dan Serasah Daun Bambu
    4. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi