Diseminasi Teknologi Pertanian

MENGENAL JAGUNG TONGKOL DUA NASA 29

Sumber Gambar: litbang.pertanian.go.id

Jagung merupakan komoditas pangan utama setelah padi. Sama dengan padi kebutuhan jagung terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan masyarakat, baik untuk pakan ternak maupun sebagai bahan baku industri. Guna memenuhi permintaan jagung yang terus meningkat, diperlukan upaya peningkatan produksi jagung, salah satunya dengan meningkatkan produktivitas tanaman.
Di Kalimantan Barat, budidaya jagung sebagian besar dilakukan dilahan kering dan lahan sawah tadah hujan dengan produktivitas hanya 32,57 ku/ha. Potensi hasil ini masih terbuka lebar untuk ditingkatkan bahkan menyamai produktivitas jagung Nasional yang mencapai 51,78 ku/ha melalui inovasi teknologi budidaya seperti penggunaan varietas unggul baru.
Varietas Unggul merupakan salah satu faktor dalam menentukan keberhasilan usahatani. Varietas unggul jagung yang akan diusahakan sebaiknya mempunyai kriteria sebagai berikut: 1) hasil per satuan luas relatif tinggi; 2) tanggap terhadap pemupukan; 3) berumur pendek; 4) beradaptasi baik pada berbagai kondisi lingkungan; 5) batang kokoh dan tahan rebah; 6) tahan terhadap hama dan penyakit utama; 7) biji keras dengan warna biji merata dan 8) kandungan protein biji cukup tinggi.
Badan Litbang Pertanian samapi dengan saat ini telah cukup banyak menghasilkan varietas unggul baru jagung baik yang bersari bebas dengan potensi hasil 4 – 8 ton/ha, maupun Hibrida dengan potensi hasil 6 – 11,0 t/ha. Tahun 2016, Badan Litbang kembali memperkenalkan jagung hibrida Tongkol 2 Prolifik pada kegiatan gelar teknologi lahan kering Hari Pangan Sedunia di Boyolali, Jawa Tengah pada 29 Oktober 2016 yang kemudian oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo diberi nama Nakula Sadewa 29 (NASA 29). Keunggulan jagung hibrida NASA 29 adalah pengisian biji pada tongkol penuh dan kelobot tertutup sempurna, rendemen biji >80%, batang kokoh, tahan terhadap serangan hawar daun, penyakit bulai dan busuk tongkol. NASA 29 mempunyai adaptasi yang cukup luas baik didataran rendah sampai dataran tinggi, memiliki gen prolifik yang dapat mencapai 70% pada dataran tinggi (>1000 m dpl), potensi hasil 13,5 t/ha dan rata-rata hasil 11.93 t/ha sesuai dengan deskripsi varietas berdasarkan SK Mentan No. 820/Kpts/TP.010/12/2017.
Deskripsi Varietas Jagung Hibrida Bertongkol Dua Nakula Sadewa 29
Umur : Berumur sedang
50% keluar pollen : 56 HST
50%nkeluar rambut : 58 HST
Masak fisiologis : 102 Hari
Batang : Agak bulat
Warna batang : Hijau
Tinggi Tanaman : ± 219 cm
Tinggi Tongkol : ± 113 cm
Daun : Bentuk pita dengan pola helai agak tegak
Warna Daun : Hijau
Keseragaman tanaman : Seragam
Bentuk Malai (anther) : Semi Kompak dan terkulai
Warna Sekam (glume) : Hijau dengan antosianin pada pangkal (cincin)
Warna malai : Krem antosianin lemah
Warna rambut (silk) : Merah
Tipe biji : Semi mutiara – semi gigi kuda (semi flint –semi dent)
Warna biji : Kuning Orange
Jumlah baris biji per tongkol : 14 – 18 baris
Baris biji : Lurus
Bentuk Tongkol : Silindris mengerucut dengan susunan biji yang lurus dan rapat
Penutupan tongkol : Menutup dengan baik sampai ke ujung tongkol
Ukuran tongkol : Panjang ± 19,20 cm, diameter ± 4,89 cm
Perakaran : Kuat
Kerebahan : Tahan
Potensi hasil : 13,7 ton/ha pipilan kering pada KA 15%
Rata-rata hasil : 11,9 ton/ha pipilan keringh pada KA 15%
Bobot 1000 butir : 340,5 gram pada KA 15%
Kandungan karbohidrat : 71,6 %
Kandungan protein : 9,7 %
Kandungan lemak : 4,2 %
Ketahanan terhadap hama dan penyakit : Tahan terhadap penyakit bulai, hawar daun dataran rendah, dan karat daun
Keterangan : Baik ditanam pada dataran rendah sampai tinggi dan prolific ? 30 % pada lingkungan yang sesuai

Ukuran tongkol yang besar dan panjang serta stay green menjadikan jagung bertongkol dua NASA 29 ini sangat disukai oleh petani karena batang dan daun bagian atas tongkol dapat dimanfaatkan sebagai pakan hijauan ternak
Jagung Hibdrida tongkol dua NASA 29 telah didesiminasikan di daerah sentra pengembangan jagung hibrida seperti di Provinsi Jawa Timur seluas 15 ha dengan produktivitas 12,5 – 13,5 t/ha, Jawa Barat dengan luasan 10 ha, produktivitas mencapai 11,5 – 12,5 t/ha, di Jambi dengan luasan 5 ha, produktivitas 11,35 – 12 t/ha, sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai luasan 30 ha dengan produktivitas 11,5 – 12,6 t/ha, Sulawesi Utara luasan 10 ha, produktivitas 12,15 – 13,0 t/ha, Sulawesi Tenggara dengan luasan 15 ha, produktivitas11,25 – 12 t/ha dan di NTB juga dengan luasan 30 ha menghasilkan 12,13 – 13,41 t/ha.
Dengan potensi hasil yang tinggi serta hasil ujicoba dibeberapa lokasi yang memberikan hasil yang sangat memuaskan, maka tidak heran jagung hibrida bertongkol dua NASA 29 sangat diharapkan dapat mendukung swasembada pangan berkelanjutan dengan memperluas penggunaan jagung bertongkol dua NASA 29 ini dibeberapa daerah termasuk di Kalimantan Barat agar produksi jagung Nasional dapat meningkat secara nyata.

(Ir. Sari Nurita, Penyuluh BPTP Kalimantan Barat)

Sumber :
Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat, 2017. Kalimantan Barat dalam Angka tahun 2017.

Badan Pusat Statistik Indonesia, 2018. Statistik Indonesia 2018. Jakarta.

Anonim, 2016. Jagung Hibrida Tongkol Ganda: NASA 29. http://pangan.litbang.pertanian.go.id/berita-783-jagung-hibrida-tongkol -ganda-nasa-29.htm. Diakses tanggal 3 Desember 2018

Anonim, 2017. Benih Jagung Ganda NASA 29 Wujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan. https://www.republika.co.id/berita/ nasional /intan/17 /02/17/olhtpu280-benih-jagung-ganda-nasa-29-wujudkan-swasembada-pangan-berkelanjutan. Diakses tanggal 3 Desember 2018.

Menteri Pertanian RI, 2017. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.820/Kpts/TP.010/12/2017 Tanggal 18 Desember 2017 tentang Pelepasan Galur Jagung Hibrida MZRO72 (MALO3/G102612) Sebagai Varietas Unggul Dengan Nama Nakula Sadewa 29. Jakarta.

Hartono, R., 2011. Budidaya Jagung di Lahan Kering. http://rudiagroteknologi.blogspot.com/2011/12/budidaya-jagung-dilahan-kering.html. Diakses tanggal 4 Desember 2018

Tanggal Artikel : 06-12-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Budidaya Bawang Merah
  2. Perbenihan Pisang
  3. Mengenal Penyakit Vascular Streak Dieback (vsd) Pada Tanaman Kakao
  4. Pertumbuhan Seledri Meningkat Dengan Pemberian Kotoran Kambing Dan Serasah Daun Bambu