Diseminasi Teknologi Pertanian

PADI BALOK VARIETAS LOKAL BERUMUR GENJAH

Sumber Gambar: Koleksi BPTP Bangka Belitung

Pendahuluan

 

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki sumber daya hayati sangat beragam sehingga dinyatakan sebagainegara "mega-biodiversity". Meskipun luas daratan Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan di bumi, Indonesia memiliki 10% spesies bunga, 12% spesies mamalia, 17% spesies burung, lebih dari 400 spesies palem dan sekitar 25.000 jenis tumbuhan berbunga dari seluruh spesies yang diketahui di dunia (Bappenas, 2003). Masyarakat Indonesia selama ini telah memanfaatkan keanekaragaman sumber daya genetik sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kultural yang dimiliki oleh masing-masing individu ataupun kelompok masyarakat.

 

Keanekaragaman sumber daya genetik telah dimanfaatkan untuk keperluan bahan makanan, pakaian, dan obat-obatan. Lebih dari 100 spesies biji-bijian, umbi-umbian, dan sagu di Indonesia dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, dan sedikitnya 940 spesies tanaman telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional, untuk kosmetikaatausebagai bagian penting dalam upacara tradisional. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya genetik oleh masyarakat tradisional pada umumnya didasarkan pada akumulasi pengetahuan local dan kebijakan yang telah dipatuhi sebagai tradisi dan hokum adat yang turun temurun (Sutrisno dan Silitonga, 2004). Lebihdari 400 etnis masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan hutan dalam kehidupannya sehari-hari, dan mereka memiliki pengetahuan tradisional yang tinggi dalam pemanfaatan tumbuhan lokal. Namun demikian, masih banyak jenis sumber daya genetik yang tumbuh di kawasan tropis belum dimanfaatkan secara optimal (Sulandjari, 2009).
Di Indonesia, banyak terdapat bahan pangan lokal yang merupakan komponen penting dalam kehidupan sebagai sumber kalori, vitamin dan mineral yang berupa tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Bahan pangan local tersebut merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan.


Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 37 Tahun 2011, plasma nutfah tanaman atau SDG (Sumber daya Genetik) tanaman adalah materi genetik dari tanaman yang mempunyai nilai atau potensial.


Plasma nutfah yang sangat beragam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan kekayaan alam yang harus dilestarikan keberadaannya. Salah satu varietas lokal tanaman yang sangat beragam tersebut adalah padi ladang. Tercatat puluhan varietas padi lokal khas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebar di setiap kabupaten. Walaupun pada kenyataannya saat ini Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi yang kebutuhan berasnya sangat bergantung dari luar provinsi. Penyediaan beras dalam jumlah yang cukup dan harga ternjangkau menjadi prioritas utama pembangunan nasional. Beras selain menjadi bahan makanan poko untuk masyarakat, padi juga berperan dalam penyediaan tenaga kerja bagi petani di perdesaan (Suparman, 2012)

 


Karakteristik Padi Balok

 

Keadaan Tanaman "Padi Balok" asal Kabupaten Bangka. Tanaman : Tinggi tanaman : 125 cm, Tipe tumbuh : Sedang, Umur berbunga : 85 hari, Jumlah anakan produktif : 14, Umur panen: 110 hari. Batang : Panjang batang : 48 cm, Warna antosianin buku : Tidak ada, Warna antosianin ruas : Tidak ada. Daun : Panjang daun : 74 cm, Lebar daun : 1,71 cm, Intensitas warna hijau : 143 a, Bentuk lidah daun : Berlekuk, Warna lidah daun : Tidak ada, Warna antosianin telinga daun : Tidak ada, Perilaku helai daun bendera : Agak tegak. Malai : Panjang malai : 21 cm, Jumlah malai/rumpun : 14, Bulu ujung gabah : Tidak ada, Warna bulu ujung gabah : Tidak ada, Posisi malai terhadap gabah : Agak tegak. Gabah : Bobot 1000 butir : 24,27 gram, Jumlah gabah per malai : 155, Bobot gabah per malai : 2,47 gram, Bobot gabah per rumpun : 18,38 gram, Produktivitas : 3,82 ton/ha.

 

Keunggulan Padi Balok


Salah satu keunggulan padi balok sebagai varietas lokal adalah berumur genjah. Hasil karakterisasi yang telah dilakukan bahwa umur padi balok adalah 110 Hst. Penanaman di lakukan dengan cara di tugal. Bagi sebagian masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menanam Padi Balok merupakan warisan leluhur yang hingga saat ini masih terus dilakukan.

 

Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)
- Sumber Bacaan : - Peraturan Menteri Pertanian No. 37 Tahun 2011
- Suparman. 2012. Petunjuk Teknis PTT Padi Sawah Irigasi. BPTP Kalimantan Tengah..
- Sumber Gambar : Koleksi Feriadi, SP

Tanggal Artikel : 13-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Petani Modern Sadar Iklim
  2. Primadona Beras Merah
  3. Perbenihan Kelapa Dalam
  4. Putri Dewa Durian Eksotis Babel

  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani