Diseminasi Teknologi Pertanian

PERBAIKAN KUALITAS LAHAN KERING MELALUI KOMBINASI PUPUK KALIUM DAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PADI LADANG

Sumber Gambar: BPTP Bengkulu

Pada umumnya lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah. Kondisi ini makin diperburuk dengan terbatasnya penggunaan pupuk organik, terutama pada tanaman pangan semusim. Di samping itu, secara alami kadar bahan organik tanah di daerah tropis cepat menurun, mencapai 30?60% dalam waktu 10 tahun.
Mulai tahun 1982 peningkatan produksi padi tidak sejalan dengan meningkatnya penggunaan pupuk. Hal ini menunjukkan telah terjadi penurunan efisiensi penggunaan pupuk untuk padi, dimana kenaikkan produksi pada satuan pupuk semakin menurun.
Berbagai analisis dan asumsi terjadinya penurunan efisiensi pemupukan yang ditandai dengan gejala stagnasi peningkatan produksi disebabkan oleh terkurasnya unsur hara lain akibat pemupukan N dan P yang berlebihan, sehingga terjadi ketidak seimbangan unsur hara dalam tanah. Untuk mengatasi hal tersebut telah diterapkan konsepsi pemupukan berimbang. Konsepsi pemupukan berimbang menyarankan agar dalam budidaya padi tidak hanya pupuk N dan P saja, tetapi perlu dipupuk K, S dan unsur mikro.
Kesuburan tanah memberikan kontribusi sebesar 55% terhadap produksi tanaman. Pada lahan yang diusahakan secara intensif, terjadi pengurangan kadar bahan organik tanah yang menyebabkan kesuburan biologi dan fisik tanah menurun drastis. Pengembalian kesuburan tanah dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik berbentuk kompos, pupuk kandang, dan pupuk hijau.
Penambahan bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, menambah kapasitas menahan air, dan hasil tanaman termasuk biomas dan biji. Bahan organik berfungsi sebagai pengompleks unsur hara, pengendali logam, dan residu bahan kimia di tanah.
Sementara itu kalium mempunyai sifat sifat yang perlu dipertimbangkn dalam pengelolaannya, karena jika ketersediaan hara K berlebihan banyak tanaman yang mampu menyerap lebih banyak K dari jumlah yang diperlukan. Oleh karena itu tidak baik memeberikan K melebihi yang diperlukan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yunizar, Joni dan Elda (2016); pemberian pupuk Kalium sebanyak 75 kg per hektar dan sumber bahan pupuk organik berbeda-beda (Mukuna, Flamengia, Sisa tanaman jagung, dan pupuk kandang sebanyak 2 ton per hektar), menunjukkan hasil berupa jumlah anakan produktif per rumpun masing-masing: 13,4 ; 12,0 ; 12,8 ; dan 13,6 anakan dan produktivitas masing-masing: 5,2 ; 4,8 ; 5,1 ; dan 5,7 ton per hektar (Ahmad Damiri).

Tanggal Artikel : 07-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Teknik Pembuatan Silase Lengkap
  2. Padi Balok Varietas Lokal Berumur Genjah
  3. Petani Modern Sadar Iklim
  4. Primadona Beras Merah