Diseminasi Teknologi Pertanian

GROBOGAN, PRIMADONA DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

Sumber Gambar: Kegiatan Demfarm kedelai di Kabupaten Sambas

Kita ketahui bahwa lahan pasang surut merupakan lahan marginal yang memiliki masalah dan kendala didalam pengelolaannya untuk pertanian salah satunya kendala fisik yaitu rendahnya kesuburan tanah, pH tanah rendah dan adanya zat beracun Aluminium (Al), besi (Fe) dan Higrogen Sulfida (H2S), genangan air dan peresapan air garam. Namun siapa sangka lahan pasang surut di Kabupaten Sambas bisa menjadi lahan yang potensial bagi penanaman kedelai. Petani di Kabupaten Sambas sukses menanam kedelai dilahan pasang surut pada tipe luapan C, dimana tipe ini tidak terpengaruh oleh pasang besar maupun pasang kecil air laut. Produktivitas kedelai di Kabupaten Sambas terus meningkat dari tahun ke tahun, tercatat selama lima tahun (2012 – 2016) produktivitas meningkat sebesar 26,31 %. Jika dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Barat, peningkatan produktivitas kedelai di Kabupaten Sambas paling tinggi, sehingga tidak mengherankan sampai saat ini Kabupaten Sambas menjadi daerah sentra mengembangan kedelai dengan luas panen mencapai 1.029 Ha (Badan Pusat Statistik Prov. Kalimantan Barat, 2017).
Peningkatan produktivitas kedelai di Kabupaten Sambas tidak lepas dari penggunaan inovasi teknologi pertanian terutama penggunaan varietas unggul baru. Hal ini tidak lepas dari peran BPTP Kalimantan Barat selaku kepanjangan tangan dari Badan Litbang Pertanian di daerah dalam memperkenalkan dan menyebarluaskan varietas unggul baru tersebut. Dimulai tahun 2012 dalam rangka pendampingan SL-PTT di Kab. Sambas diintroduksikan varietas unggul kedelai yang berbiji besar, varietas Grobogan, Argomulyo dan Burangrang. Mengapa diintroduksikan varietas kedelai yang berbiji besar? Hal ini terkait dengan begitu banyaknya kedelai impor yang berbiji besar beredar dipasaran dan disukai oleh konsumen. Dari Introduksi tersebut varietas Grobongan memiliki adaptasi dan produksi 2,5 t/ha lebih tinggi dari Argomulyo 2,1 t/ha dan Burangrang 1,5 t/ha (Nurita et al., 2012). Dengan produktivitas yang tinggi serta bijinya besar maka varietas Grobogan ini mendapatkan respon yang positif dari petani. Selanjutnya dalam rangka mendukung UPSUS di Kabupaten Sambas tahun 2015 varietas Grobogan kembali diujicoba bersama-sama dengan varietas Argomulyo, Anjasmoro dan Burangrang, dan ternyata varietas Grobogan tetap menunjukkan produktivitas yang tinggi dibandingkan varietas lainnya dengan produktivitas 2,88 t/ha (Nurita et al., 2015). Varietas Grobogan kembali memperlihatkan kehandalannya dalam kegiatan Sistem Usahatani kedelai dengan menunjukkan kembali adaptasi dan produktivitas yang tinggi yaitu 3,06 t/ha dibandingkan varietas Anjasmoro hanya 2,4 t/ha (Dewi et al., 2017).
Adaptasi dan produktivitasnya yang tinggi membuat varietas Grobogan disukai oleh petani. Kesukaan petani bertambah karena varietas Grobogan memiliki umur tanaman yang lebih pendek dari varietas yang lain serta hasil olahan tahunya kenyal dan tidak mudah patah. Dengan kelebihan yang dimiliki varietas Grobogan dibandingkan varietas lainnya, tidak mengherankan varietas Grobogan ini menjadi primadona di Lahan pasang surut Kabupaten Sambas.

(Ir. Sari Nurita (Penyuluh BPTP Kalbar)

 

Sumber :
Badan Pusat Statistik Prov. Kalimantan Barat, 2017. Kalimantan Barat dalam Angka Tahun 2017. Pontianak.

Nurita, S. et al., 2012. Pendampingan SL-PTT DI Kabupaten Sambas Tahun 2012. Pontianak

Nurita S. et al., 2015. Pendampingan Upaya-Upaya Khusus Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi dan kedelai di Kabupaten Sambas. Pontianak.

Dewi D. Omayani. et al., 2017. Pengkajian Sistem Usahatani kedelai di Lahan Pasang Surut Kalimantan Barat.

Tanggal Artikel : 06-07-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi
  2. Sekilas Tentang Jarak Pagar
  3. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi
  4. Potret Rumah Pangan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri-jawa Timur