Diseminasi Teknologi Pertanian

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI (BERAS) MERAH DI LAHAN TADAH HUJAN PERBATASAN KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT

Sumber Gambar: Dokumentasi kegiatan pendampingan kawasan padi

Padi (beras) merah sama dengan padi biasa yang memiliki kandungan karbohidrat. Hanya saja beras merah memiliki rasa yang unik dan bergizi tinggi. Beras merah di pasaran memiliki harga yang relative lebih mahal dibandingkan dengan beras putih, tidak terkecuali di daerah perbatasan Malaysia. Seiiring dengan dijadikannya wilayah perbatasan menjadi lumbang pangan yang berorientasi ekspor, maka peluang beras merah untuk di kembangkan di daerah perbatasan cukup tinggi. Hal ini karena beras merah memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena di pasaran Malaysia beras merah dihargai Rp. 15.000 – Rp.20.000/kg. Kabupaten Sanggau yang merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memiliki peluang besar untuk mengembangkan beras merah ini. Hal ini ditunjang lahan sawah yang cukup luas sekitar 46.609 Ha, dimana 54,64% merupakan lahan sawah tadah hujan dengan komoditas utama yang dikembangkan padi.
Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa varietas padi beras merah yaitu Aek Sibundung, Inpari 24 gabusan serta Inpara 7. Ketiga varietas ini berdasarkan ujicoba di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau yang berbatasan langsung dengan Malaysia memberikan produksi yang tinggi, varietas Aek Sibundung 6,78 t/ha, Inpara 7 (7,49 t/ha) dan Inpari 24 (7,79 t/ha), sedangkan produksi rata-rata petani hanya 4,5 ton/ha meningkat 50,67 % - 73,11%. Varietas Inpari 24 Gabusan dan Aek Sibundung berpeluang besar di kembangkan pada lahan sawah tadah hujan, serta Inpara 7 berpeluang dikembangkan pada lahan yang memiliki kandungan besi di untuk memenuhi permintaan pasar lokal maupun Malaysia karena memiliki produktivitas yang tinggi dan tekstur nasinya pulen. Penerapan inovasi teknologi budidaya padi yang tepat menjadi kunci meningkatnya produktivitas padi di lahan tadah hujan di wilayah perbatasan Kab. Sanggau.
Teknologi Budidaya Padi (beras) Merah di Lahan Tadah Hujan
1. Penggunaan varietas unggul dan benih bermutu
Varietas padi (beras merah) yaitu Aek Sibundung, Inpari 24 Gabusan, Inpara 7 dengan kelas benih SS (stock seed)
2. Persiapan lahan
Lahan diolah secara sempurna dengan menggunakan hand traktor .
3. Penyemaian
Persemaian dilakukan dengan semai tabur. Tanah tempat persemaian diolah dengan menggunakan traktor ataupun cangkul kemudian benih yang telah direndam dan ditiriskan langsung ditaburkan ke media semai yang telah disiapkan.
4. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo 4 : 1 dengan jarak tanam 25 x 15 x 40 cm (2 – 3 tanaman/lubang). Bibit ditanam pada umur 18 – 20 hari setelah semai (HSS)
5. Pemupukan
Pemupukan diberikan agar tanaman memperoleh makanan yang cukup untuk tumbuh dan berkembang. Pemupukan diberikan 3 kali, pemupukan dasar pada umur < 14 HST sebanyak 125 kg NPK/ha dan 35 kg urea/ha yang dilakukan secara sebar. Pemupukan susulan I (pupuk ke dua) pada umur 25 – 28 HST dengan dosis 125 kg NPK/ha dan urea berdasarkan pengamatan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan susulan ke 2 (pupuk ke tiga) hanya urea saja yang diberikan pada umur 38 - 42 HST dengan dosis sesuai pengamatan BWD. Pemupukan dilakukan secara sebar.
6. Pengendalian gulma
Pengendalian gulma dilakukan sebelum pemupukan dan tergantung banyaknya gulma. Pengendalian gulma menggunakan herbisida dan secara manual bagi gulma yang tidak mati dengan herbisida. Penyiangan gulma diikuti dengan pembersihan pematang.
7. Pengendalian Hama dan Penyakit
? Lakukanlah pengamatan OPT sejak dari persemaian sampai di pertanaman
? Pengendalian dilakukan setelah serangan mencapai ambang ekonomi
? OPT utama yang menyerang adalah blas. Penyakit ini disebabkan oleh jamur. Gejala serangan terlihat adanya bercak berbentuk belah ketupat yang ditengahnya berwarna keabu-abuan dan dipinggir-pinggirnya mulai mengering. Pengendalian dilakukan menggunakan bahan aktif tembaga oksida 56% (setara dengan tembaga 50%), setelah 5 hari kemudian disemprot lagi dengan fungisida berbahan aktif Trisiklazol serta lahan dikeringkan. Setelah beberapa kali penyemprotan terlihat tanaman yang terserang blas sudah mulai mengering dan tanaman yang kering dibuang dan ditambahkan pupuk pelengkap cair (PPC) untuk menumbuhkan tunas baru. Dengan cara ini penyakit blas dapat dikendalikan dan tanaman dapat pulih kembali.
8. Panen
Panen dilakukan dengan menggunakan sabit, dilakukan pada cuaca cerah. Setelah panen, padi langsung dirontok menggunakan power thresher, jangan sampai menunda perontokan lebih dari 1 malam karena akan membuat gabah menjadi hitam.

 

Penulis : ir. Sari Nurita

 

Sumber : Laporan Akhir Pendampingan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan (Padi) di Kabupaten Sanggau, Tahun 2017

Tanggal Artikel : 08-06-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi
  2. Sekilas Tentang Jarak Pagar
  3. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi
  4. Potret Rumah Pangan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri-jawa Timur