Diseminasi Teknologi Pertanian

PEMANFAATAN ARANG SEKAM SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER ENERGI

Sumber Gambar: Buku : BIOSIKLUS TERPADU PADI-SAPI DI LAHAN IRIGASI

Menipisnya ketersediaan bahan bakar fosil mendorong untuk mencari sumber energi lain yang terbarukan. Limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai alternative sumber energi terbarukan, salah satunya adalah briket arang sekam. Briket arang sekam dibuat dengan cara sederhana dan mudah. Bahan pembuatan briket arang sekam berupa tepung arang sekam sebagai bahan utama, tepung tapioka sebagai perekat, dan air. Tepung arang sekam dibuat dengan cara pembakaran sekam menjadi arang dan dihancurkan menjadi tepung. Semakin halus tepung arang sekam, maka semakin lama pula daya bakar briketnya. Selanjutnya tepung arang dicampur dengan bahan perekat (tepung tapioka) dan air. Selain tepung tapioca, pati sagu juga dapat digunakan sebagai bahan perekat organic karena harga lebih murah dibandingkan perekat an-organik. Disamping itu perekat dari bahan organic menghasilkan abu sisa pembakaran yang lebih sedikit dari bahan an-organik. Penggunaan tepung tapioca Hasil pengkajian di Kebun Percobaan Bandongan BPTP Jawa Tengah, setiap 1 kg tepung arang sekam, dibutuhkan tepung tapioka sekitar 400 g yang dengan 1,5 liter air. Campuran tersebut merupakan komposisi yang paling tepat dan menghasilkan briket terbaik. Semakin halus arang sekam, briket yang dihasilkan akan menjadi semakin padat dan kompak. Dengan campuran tersebut dari 1 kg arang sekam, dapat dihasilkan 565 gram briket. Briket yang telah dicetak dengan alat cetak berbentuk kotak persegi atau bulat panjang kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering, briket dapat dikemas dalam plastik untuk digunakan pada waktu yang akan datang. Keuntungan yang didapat dari bahan bakar briket arang adalah nilai kalor/panas yang tinggi, asap dan sisa pembakaran lebih rendah dari bahan asalnya, bahan mudah didapatkan dan cara pembuatannya sederhana. BPTP Jawa Tengah melakukan pengkajian efektifitas panas dengan membandingkan briket arang sekam, batok kelapa, batu bara dan arang kayu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa briket arang sekam lebih mudah terbakar dibandingkan briket lainnya. Kondisi ini kurang menguntungkan karena briket cepat terbakar habis menjadi abu dalam waktu yang relatif cepat. Hasil pengujian juga mendapatkan hasil bahwa pemanasan air dengan menggunakan briket arang sekam membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan briket lainnya. Berdasarkan uji yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa briket batu bara memiliki efisiensi panas yang paling baik, diikuti briket arang kayu, dan briket batok kelapa. Briket arang sekam menempati urutan terakhir dalam hal efisiensi panas dibandingkan briket dari bahan lainnya. Walaupun demikian, briket arang sekam dapat dijadikan peluang dalam pemanfaatan limbah arang sekam yang selama ini cukup berlimpah ketersediaannya untuk dijadikan alternatif sumber energi bahan bakar yang terbarukan.

Ditulis kembali oleh : Dedi Untung Nurhadi, S.TP, M.Ec.Dev. (Penyuluh BPTP Jateng)
Sumber : Indrie Ambarsari, dkk (Potensi Pengembangan Briket Arang Dari Limbah Pertanian Sebagai Sumber Energi Alternatif dalam buku Biosiklus Terpadu Padi-Sapi di Lahan Irigasi)

Tanggal Artikel : 09-04-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi
  2. Sekilas Tentang Jarak Pagar
  3. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi
  4. Potret Rumah Pangan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri-jawa Timur