Diseminasi Teknologi Pertanian

TEKNOLOGI PRODUKSI UBI JALAR DI LAHAN SAWAH

Sumber Gambar: Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2005. Gambar ubi jalar varietas Sari dengan potensi produksi 30-35 ton/ha rasa enak dan manis

Menurut data BPS Prov. Kalbar (2016) luas panen tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) di Kalimantan Barat pada tahun 2015 mencapai 1.673 hektar dengan rata-rata produktivitas 8.88 ton/ha dan total produksi 14.863 ton. Pertanaman ubi kayu ini menyebar di Kabupaten Bengkayang 230 ha, Landak 52 ha, Sintang 196 ha, dan Sanggau 176 ha. Kabupaten Bengkayang menjadi salah satu sentra produksi ubi jalar di Kalimantan Barat dengan luas panen ubi kayu mencapai 230 ha dengan produktivitas 13.18 ton/ha dan total produksi 3.032 ton. Produktivitas ubi jalar di Kalimantan Barat rata-rata 8.88 ton/ha kurang dari 30 % dari potensi produksi ubi jalar varietas unggul Sari sebesar 30-35 ton/ha atau Sukuh sebesar 25-30 ton/ha, Boko sebesar 25-30 ton/ha dan Jago 25-30 ton/ha (Balai Penelitian Tanaman Kacan-Kacangan dan Umbi-umbian, 2005). Di Jepang, Korea, Cina,Taiwan dan Amerika Serikat, ubijalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan pokok tetapi juga diolah menjadi pangan olahan seperti selai, saos, juice, serta sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Komoditas ini ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Untuk meningkatkan produktivitas ubi jalar di Kalimantan Barat maka Balai Penelitian Tanaman Kacan-Kacangan dan Umbi-umbian (2005) memberikan rekomendasi teknologi sebagai berikut:
1. Penggunaan bibit unggul
• Varietas unggul yang telah dilepas selain produktivitasnyatinggi, juga memiliki sifat agak tahan terhadap hama boleng (Cylas formicarius) dan penyakit kudis (Sphaceloma batata) sseperti Sari, Boko, Sukuh, Jago dan Kidal•Untuk menjaga potensi hasil, stek yang ditanam harus bebasdari hama/penyakit.•Kebutuhan bibit 35.000–50.000 stek/ha.
2. Penyiapan lahan
• Tanah diolah, dibuat guludan selebar 40–60 cm dan tinggi25–30 cm. Jarak antar guludan 80 cm atau 100 cm.
• Pada tanah berat (berlempung) untuk membuat guludanyang gembur perlu ditambah 10 ton bahan organik/ha.
3. Penanaman
• Ubijalar ditanam setelah padi yaitu awal hingga pertengahanmusim kemarau.
• Stek pucuk ditanam di guludan dengan jarak dalam baris20–30 cm, jarak antargulud 100 cm, populasi tanamansekitar 35.000–50.000 tanaman/ha.
• Ubijalar dapat pula ditanam dalam sistem tumpangsari dengan tingkat naungan tidak lebih 30%.
4. Pemupukan dan mulsa
• Takaran pupuk 100–200 kg Urea + 100 kg SP36 + 100kg KCl. Sangat baik bila ditambahkan pupuk kandang yang diberikan bersamaan pembuatan guludan.
• 1/3 dari Urea dan KCl serta seluruh SP36 diberikan padasaat tanam. Sedangkan sisanya, 2/3 Urea dan KCl diberikanpada saat tanaman berumur 1,5 bulan.
• Pupuk diberikan dalam larikan, kemudian ditutup dengantanah.•Untuk pertanaman di lahan sawah setelah padi, pemanfaatanjerami padi sebagai mulsa dapat menekan biaya, karenaselain meringankan penyiangan, dengan mulsa tidak perlupembalikan batang.
5. Penyiangan gulma dan pembalikan batang
• Penyiangan gulma dilakukan sebelum atau selambat-lambatnya bersamaan dengan pemupukan ke dua.
• Perbaikan gulud dan pembalikan batang perlu dilakukanuntuk mencegah munculnya akar dari ruas batang
6. Pengairan
• Pada musim kemarau, pengairan merupakan kunci untuk mencapai produktivitas tinggi. Pengairan yang cukup dapat menghindarkan ubijalar dari serangan hama boleng (Cylas formicarius).
7. Pengendalian hama
• Hama utama adalah hama boleng (Cylas formicarius), penggerek batang (Omphisa anastomasalis) serta nematode (Meloidogyne sp.) yang merugikan ubijalar.
• Hama tersebut dapat dikendalikan secara terpadu dengan:?menanam varietas yang agak tahan?menanam stek bahan tanaman yang sehat atau mencelup stek ke dalam larutan insektisida selama 10 menit,?rotasi tanaman?pembumbunan?penangkapan serangga dewasa jantan dengan seks feromon, dan?penyemprotan insektisida nabati (ekstrak daun atau biji mimba, Azadirachta indica dengan konsentrasi 4%)
• 8.Panen
• Ubijalar dapat dipanen jika umbi sudah tua dan besar. Panendapat serentak maupun bertahap.
• Secara fisik ubijalar siap dipanen apabila daun dan batang mulai menguning. Di dataran rendah, ubijalar umumnya dipanen pada umur 3,5–5 bulan. Sedangkan di datarantinggi ubijalar dipanen pada umur 5–8 bulan.9.PascapanenSelain dikonsumsi langsung, ubijalar dapat diolah menjadi produk antara dalam bentuk pati maupun tepung. Pati dibuat dengan mengekstrak umbi yang telah diparut. Sedangkan tepung diperoleh dengan cara mencuci umbi, mengupas, mengiris,menjemur dan menghancurkan (menepungkan) diayak padaukuran 80 mesh. Pati dan tepung ubijalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie, hingga es krim.

 

(Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc., BPTP Kalimantan Barat)

 

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2005. Teknologi Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang

Tanggal Artikel : 07-12-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Teknologi Pengolahan Susu Kedele
  2. Teknologi Pengolahan Selai Ubi Jalar
  3. Teknologi Pembuatan Es Cream Ubi Jalar Ungu
  4. Teknologi Budidaya Kacang Hijau Pada Lahan Kering