Diseminasi Teknologi Pertanian

STABILITAS PRODUKTIVITAS JAGUNG

Sumber Gambar: BPTP Balitbangtan Bengkulu

Jagung merupakan salah satu komoditas palawija yang memiliki potensi pasar yang cukup luas, kondisi ini berhubungan dengan potensi pemanfaatannya yang cukup beragam mulai dari potensinya sebagai bahan pangan, pakan, maupun sebagai bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, jagung memiliki peranan penting dan strategis dalam mempertahankan ketahanan pangan. Tanaman jagung memiliki nilai strategis dan ekonomis yang cukup tinggi, karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras.
Secara empiris keragaman produktivitas jagung antar wilayah di Indonesia dan antar petani disebabkan oleh perbedaan penerapan teknologi budidaya yang mencakup benih, varietas, pupuk, dan pengelolaan air. Pada hal produktivitas jagung terjadi karena adanya pengaruh interaksi antara genotipe dengan lingkungan. Secara umum, iklim sangat menentukan pertumbuhan tanaman, terutama suhu, curah hujan, dan intensitas cahaya matahari. Dari aspek iklim, hampir seluruh wilayah di Indonesia sesuai untuk memproduksi jagung.
Di Provinsi Bengkulu, usahatani jagung yang dilakukan petani, masih banyak yang belum secara komersil penuh. Hal ini diketahui dari pemeliharaan yang dilakukan seperti pupuk yang diberikan belum sesuai dengan rekomendasi pemupukan berdasarkan KATAM Terpadu, pembumbunan kebanyakan tidak dilakukan, pengairan tidak dilakukan walaupun ditanam pada musim kemarau. Namun demikian, benih yang digunakan sudah menggunakan benih unggul dari varietas hibrida, dan penambahan suplementasi.
Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan suatu jenis varietas adalah kemampuan daya adaptasi dari setiap varietas yang digunakan terhadap kondisi agroekosistem baik iklim maupun lingkungan dimana varietas tersebut diusahakan. Kemampuan adaptasi dari suatu jenis varietas dengan lingkungan hidup dimana varietas tersebut dikembangkan menjadi penentu apakah varietas tersebut cocok untuk dikembangkan atau tidak.
Keinginan petani pada banyaknya tempat terhadap varietas yang sama biasanya ditunjukkan oleh produktivitasnya yang relatif tinggi dibandingkan dengan varietas lain yang ditanam. Ini menunjukkan bahwa varietas tersebut mampu beradaptasi dengan baik pada banyak tempat. Di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, varietas yang banyak diinginkan petani adalah varietas Bisi 18.
Melalui demplot yang dilakukan BPTP Bengkulu menggunakan varietas Bisi 18, Bima 19 Uri, dan Bima 20 Uri, diketahui bahwa Bisi 18 menunjukkan produktivitas yang lebih stabil bila dibandingkan dengan Bima 19 Uri, maupun Bima 20 Uri. Penanaman yang dilakukan pada tahun 2016 di Kabupaten Bengkulu Utara dengan membandingkan sistem tanam tegel dengan sistem tanam jajar legowo; produktivitas Bisi 18 yaitu 11,90 dibanding 12,46 t/ha, Bima 19 Uri yaitu 8,98 dibanding 11,26 dan Bima 20 Uri yaitu 9,40 dibanding 12,32 t/ha.
Penanaman yang dilakukan pada tahun 2017 di Kabupaten Bengkulu Selatan dengan membandingkan sistem tanam tegel dengan sistem tanam jajar legowo; produktivitas Bisi 18 yaitu 11,50 dibanding 12,19 t/ha, Bima 19 Uri yaitu 12,04 dibanding 10,41 dan Bima 20 Uri yaitu 12,25 dibanding 11,66 t/ha (Ahmad Damiri).

Tanggal Artikel : 13-11-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi
  2. Sekilas Tentang Jarak Pagar
  3. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi
  4. Potret Rumah Pangan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri-jawa Timur