Diseminasi Teknologi Pertanian

UJICOBA JARWO SUPER DI LAHAN PASANG SURUT KALIMANTAN BARAT

Sumber Gambar: Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc. BPTP Kalbar

BPTP Kalimantan Barat bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Terentang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, melakukan uji adaptasi inovasi teknologi Jajar Legowo Super. Inovasi teknologi yang awalnya diarahkan pada lahan sawah irigasi menggunakan VUB Inpari-30, Inpari-32, dan Inpari-33 ini diujicoba pada lahan pasang surut di BP3K Terentang, Kab. Kubu Raya. Varietas padi yang digunakan adalah Inpari-22 yang juga tahan penyakit blas ras 073 yang juga memiliki potensi produksi tinggi 7,9 ton GKG/ha. Varietas ini juga tahan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe III. Tekstur nasinya yang pulen akan memudahkan dipasarkan ke Kota Pontianak.
Pengomposan jerami menggunakan decomposer eksisting merk BEKA sedangkan pupuk hayati menggunakan hasil penelitian Balai Penelitian Tanah, Bogor, yaitu merk Agrimeth. Persemaian dilakukan menggunakan Sistim Dapok. Umur semaian adalah 14 hari. Benih yang digunakan Varietas Unggul Baru Inpari-22. Alat tanam yang digunakan bukan Indojarwo Rice Transplanter tetapi menggunakan Rice Transplanter Kubota buatan swasta karena alsin yang diperlukan belum tersedia. Untuk mendiseminasikan informasi inovasi Jajar Legowo Super ini maka diadakan Temu Lapang yang dipimpin oleh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Kubu Raya, Drs. Agus Supriadi, dan para penyuluh pertanian lapangan Kabupaten Kubu Raya.
Dari hasil temu lapang ini diperoleh umpan balik sebagai berikut: (1)Penggunaan alat tanam Rice Transplanter ini masih menyebabkan ada tanaman yang lowong atau tidak tertanam sehingga mengharuskan petani menyulang tanaman yang kosong, (2) Dengan menggunakan bibit umur muda ternyata penggunaan alat tanam Rice Transplanter ini menyebabkan banyak bibit padi yang helai pelepahnya patah ketika terkena alat tanam, (3)Untuk satu hektar sawah diperlukan sekitar 200 dapok. Harga dapok masih relataif mahal bagi petani. Mereka menyarankan menggunakan sistim persemaian basah tetapi perlu meramu media tanamnya agar sesuai dengan kondisi persemian menggunakan dapok. (4)Dari hasil litkaji ini juga diperoleh hasil bahwa hasil semaian dapok masih mudah patah bila digulung karena petani mengharapkan hasil semaian mereka seperti karpet yang dapat digulung. Berdasarkan hasil diskusi dengan para operator Rice Transplanter ternyata perlu modifikasi. Modifikasi pertama terkait dengan media tanam yang bila menggunakan tanah mineral dibandingkan tanah lumpur di daerah pasang surut. Modifikasi lainnya adalah perlunya persemaian dapok ini dibiarkan terkena panas sinar matahari sejak umur semaian 7 hari hingga umur semaian 13 hari yang siap tanah.
(Penulis : Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc BPTP Kalimantan Barat)
Sumber: Hasil Ujicoba dan Adaptasi Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super pada Agro-ekosistem Pasang Surut di BP3K Terentang, Kubu Raya, Kalimantan Barat

Tanggal Artikel : 10-11-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Stabilitas Produktivitas Jagung
  2. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi
  3. Sekilas Tentang Jarak Pagar
  4. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi