Diseminasi Teknologi Pertanian

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI LAHAN TADAH HUJAN MELALUI VARIETAS UNGGUL DAN PEMUPUKAN SESUAI REKOMENDASI KATAM TERPADU

Sumber Gambar: BPTP Balitbangtan Bengkulu

Lahan sawah tadah hujan merupakan lumbung padi kedua setelah lahan irigasi bagi Indonesia. Pengertian lahan sawah tadah hujan adalah lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat diairi dengan ketinggian dan waktu tertentu secara kontinyu. Oleh karena itu pengairan lahan sawah tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga risiko kekeringan sering terjadi pada daerah tersebut pada musim kemarau. Lahan ini adalah lahan yang dalam setahunnya minimal ditanami satu kali padi sawah (lahan tergenang dan petakan berpematang) dengan air pengairan bergantung pada hujan. Umumnya tidak subur (miskin hara) dan sering mengalami kekeringan. Oleh karena itu hasil padi di lahan sawah tadah hujan biasanya lebih rendah dibandingkan dengan di lahan irigasi, karena keterbatasan air akibat dari pemanfaatan air hanya berasal dari air hujan yang tertampung dalam petakan sawah bila turun hujan. Rata-rata produktivitas padi di lahan ini masih rendah, berkisar antara 2-2,5 t/ha.
Masalah agronomis yang dihadapi petani pada lahan sawah tadah hujan umumnya adalah: (1) penggunaan varietas lokal berdaya hasil rendah dan berumur panjang, (2) mutu benih rendah, (3) pemupukan tidak tepat dan cenderung kurang, (4) cara tanam tidak teratur dan populasi tanaman rendah, dan (5) pengendalian gulma tidak optimal. Selain itu, tingkat penerapan teknologi introduksi di lahan sawah tadah hujan relatif rendah karena pendapatan dan modal petani tidak memadai. Untuk wilayah miskin sumber daya, penggunaan varietas unggul merupakan cara yang murah dan mudah bagi petani. Pada lahan sawah tadah hujan petani umumnya melakukan satu kali atau dua kali tanam padi. Namun, melalui pembinaan dan percontohan demplot dengan sistem penanaman menggunakan varietas unggul dan pemupukan sesuai rekomendasi katam terpadu, produktivitas lahan tadah hujan dapat ditingkatkan.
Hasil demplot BPTP Balitbangtan Bengkulu yang ditanam bulan Mei tahun 2017, melalui penerapan inovasi teknologi varietas unggul baru menggunakan varietas Situ Bagendit, Inpari 39, dan Inpari 41 serta pemupukan sesuai rekomendasi katam terpadu di Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma, terjadi peningkatan mencapai 30% lebih dibandingkan penanaman yang sama pada tahun sebelumnya. Hasil panen pada tahun sebelumnya produksi yang dicapai petani antara 3 – 3,5 ton/ha. Hasil demplot yang dicapai setelah menerapkan varietas padi ladang (Situ Bagendit ) dan varietas amphibi (Inpari 39 dan 41), produksi masing-masing varietas yaitu : a) Situ Bagendit = 4,36 t/ha, b) Inpari 39 = 4,25 t/ha, dan Inpari 41 = 4,50 t/ha (Ahmad Damiri).

Tanggal Artikel : 05-10-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Menanam Daun Seledri Di Polybag
  2. Teknologi Produksi Kacang Tanah Di Lahan Kering
  3. Urine Sapi Sebagai Pupuk Organik Cair
  4. Susut Umbi Bawang Merah Varietas Lokal Bali