Diseminasi Teknologi Pertanian

TAMBAHAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI PERTANAMAN SELA PADA SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO JAGUNG

Sumber Gambar: BPTP Balitbangtan Bengkulu

TAMBAHAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI PERTANAMAN SELA PADA SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO JAGUNG


Dalam kelompok tanaman pangan, kedelai merupakan komoditas terpenting ke tiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebagainya. Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat, maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam negeri.
Produktivitas kedelai nasional lebih kurang baru mencapai 1,3 t/ha dengan kisaran antara 0,6 – 2,0 t/ha di tingkat petani, sedangkan di tingkat penelitian sudah mencapai 1,7 – 3,2 t/ha atau lebih, tergantung pada kondisi lahan dan teknologi yang diterapkan. Namun secara umum minat petani untuk mengembangkan kedelai masih rendah bila dibandingkan dengan komoditas pangan lain seperti padi, jagung, dan ubikayu, karena pendapatan yang diperoleh dari usahatani kedelai masih tergolong rendah.
Selama ini penanaman jagung monokultur lebih disukai dibandingkan dengan kedelai monokultur. Hal ini karena penanaman jagung monokultur lebih menguntungkan. Oleh karena lahan tanam kedelai adalah juga lahan tanam jagung, akibatnya penanaman kedelai sangat jarang ditanam petani. Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke-20 di dunia serta menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Permasalahannya adalah kedelai juga sangat dibutuhkan guna menghindari impor dari luar. Alternatifnya adalah tetap menanam kedelai diantara tanaman jagung (tumpang sari).
Tumpang sari jagung dengan kedelai merupakan salah satu solusi agar pertanaman jagung tetap, tetapi produksi kedelai masih diperoleh. Melalui penanaman jagung sistem tanam jajar legowo, jumlah tanaman jagung tetap sama dengan jumlah tanaman jagung monokultur, tetapi disela tanaman jagung yang dilebarkan dapat ditanam kedelai. Besarnya produksi kedelai varietas Anjasmoro pada sistem tanam jajar legowo 2:1 jagung masing-masing adalah: a) sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam [(40 x 20) x 100 cm] pada varietas Bisi 18 sebesar 450,793 kg/ha, b) sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam [(40 x 20) x 100 cm] pada varietas Bima Uri 19 sebesar 206,209 kg/ha, dan c) sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam [(40 x 20) x 100 cm] pada varietas Bima Uri 19 sebesar 315,590 kg/ha (Ahmad Damiri).

 

Tanggal Artikel : 05-10-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Peningkatan Produktivitas Padi Lahan Tadah Hujan Melalui Varietas Unggul Dan Pemupukan Sesuai Rekomendasi Katam Terpadu
  2. Menanam Daun Seledri Di Polybag
  3. Teknologi Produksi Kacang Tanah Di Lahan Kering
  4. Urine Sapi Sebagai Pupuk Organik Cair