Diseminasi Teknologi Pertanian

KECUNDANG (Tacca leontopetaloides), Tanaman Pesisir yang Kaya Manfaat

Sumber Gambar: BPTP JAKARTA

Memang belum banyak yang mengetahui tentang tanaman kecundang (Tacca leontopetaloides). Padahal tanaman yang satu ini mempunyai segudang manfaat, baik sebagai sumber pangan maupun sebagai obat tradisional. Kecundang merupakan tanaman herba penghasil umbi yang tumbuh liar di daerah pesisir mulai tepi laut (0 m dpl) hingga ketinggian sekitar 220 m dpl (Alhamd, 2012 ). Di Indonesia tanaman ini tersebar di daerah pesisir Garut Selatan, Kepulauan Karimunjawa, Sulawesi, Sumatera dan Kepulauan Seribu. Di Kepulauan Seribu, tanaman ini dikenal dengan nama kecundang dan tersebar di beberapa pulau, diantaranya Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Payung, dan pulau lainnya yang berpenghuni.
Tanaman kecundang yang terdapat di Pulau Tidung Kecil, Kepulauan Seribu, mempunyai karakteristik sebagai berikut: tanaman herba tegak dengan tinggi berkisar 90-120cm (Ikrarwatiet al., 2015). Daunnya merupakan majemuk campuran, tepi daun bertoreh berbagi menjari. Umbinya berbentuk seperti ginjal, lebar umbi 7-9 cm, tinggi umbi 4-6 cm, berat umbi 150-300g. Kulit umbi berwarna krem. Bagian dalam berwarna putih seperti ubi. Perbanyakan kecundang dapat dilakukan dengan menggunakan biji, selain menggunakan umbi. Umumnya umbi bisa dipanen pada umur 8 – 10 bulan terkadang bisa mencapai 10 – 12 bulan. Daging umbi mengandung kadar air yang cukup tinggi, berwarna putih, bertekstur halus dan mengandung kadar pati yang cukup tinggi. Umbi merupakan merupakan bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan baik untuk pangan maupun non pangan sebagai obat tradisional untuk beberapa penyakit atau pun pengobatan luar.
Kandungan karbohidrat dalam umbi kecundang yang cukup tinggi ( 44,43%) dapat menjadi sumber pangan alternative bagi masyarakat di daerah pesisir pantai, seperti di Kepulauan Seribu. Melalui teknologi pengolahan menjadi tepung atau pati maka kecundang dapat menjadi bahan baku untuk berbagai macam produk olahan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun sebagai peluang usaha. Di samping itu dalam bentuk siap olah kecundang dapat menjadi alternatif pengganti terigu serta mengatasi keterbatasan bahan baku tepung lainnya pada saat bahan baku tersebut sulit tersedia. Proses pembuatan tepung kecundang sebagai berikut : Umbi yang telah dipanen dikupas dan dibersihkan, selanjutnya umbi diparut untuk memperolah bubur umbi. Bubur umbi kemudian dibilas dengan air bisa sampai 3 kali untuk memaksimalkan jumlah pati, selanjutnya direndam, dan didiamkan selama beberapa saat hingga umbi mengendap. Setelah umbi mengendap, kemudian air rendaman disaring dengan menggunakan kain. Air hasil perasan ditampung dan dikeringkan di bawah sinar matahari atau dengan mekanisasi selanjutnya akan diperoleh pati kecundang.
Tepung kecundang juga memiliki tekstur lebih kenyal atau lengket jika dicampur air, rasanya lebih gurih dibandingkan dengan tepung sagu, serta jika diolah menjadi kue akan membuat kue lebih mengembang (Anonim, 2012). Pati kecundang mempunyai daya kembang atau swelling power yang tinggi, hal ini dipengaruhi oleh kadar amilosa dan amilopektin. Pati kecundang membentuk pasta pada kisaran suhu 50 – 95 oC, sedangkan suhu gelatinisasi pada kisaran 65 – 73 oC.
Kecundang memerlukan perlakuan awal sebelum diolah menjadi bahan makanan maupun bahan baku produk untuk menghilangkan senyawa yang bersifat toksik. Umumnya dalam umbi-umbian terdapat senyawa HCN dengan kadar tertentu yang jumlahnya dipengaruhi oleh karakteristik umbi itu sendiri. HCN merupakan racun kuat penyebab asfiksia, yaitu kondisi kekurangan oksigen yang dapat menyebabkan kematian. Asam ini menganggu oksidasi (pengangkutan O2) ke jaringan dengan cara mengikat enzymesitokrom oksidasi. Oleh karena adanya ikatan ini, O2 tidak dapat digunakan oleh jaringan sehingga organ yang sensitif terhadap kekurangan O2 akan sangat menderita terutama jaringan otak. Akibatnya akan terlihat pada permukaan suatu tingkat stimulasi daripada susunan saraf pusat yang disusul oleh tingkat depresi dan akhirnya timbul kejang oleh hypoxia dan kematian oleh kegagalan pernafasan.
Kadar HCN pada umbi kecundang belum termasuk katagori dosis yang beracun apabila berpatokan pada dosis HCN ubi kayu, yaitu: a) tidak beracun HCN 50 mg/kg umbi segar parut, b) beracun sedikit HCN 50 – 80 mg/kg, c) beracun HCN 80 – 100 mg/kg, d) sangat beracun > 100 mg/kg. Dosis HCN pada golongan beracun mematikan saat dikonsumsi, yaitu 0,5 – 3,5 mg HCN/kg berat badan. Untuk menurunkan kadar HCN dapat dilakukan melalui perendaman dalam berbagai jenis larutan, diantaranya, larutan garam, larutan Na2SO4 dan atau perendaman dalam air bersih selama beberapa waktu dengan konsentrasi tertentu. Oleh karena itu jika umbi kecundang diolah menjadi tepung tentunya akan menurunkan kadar HCN karena adanya perlakuan awal, seperti proses perendaman, pemanasan (blanching), sebelum proses pengeringan dan penepungan.
Selain itu melalui modifikasi dalam pembuatan tepung juga dapat menurunkan kadar HCN. Penambahan BAL pada proses fermentasi dapatmenurunkan kadar HCN tepung modifikasi. Hal tersebut ditunjukkan oleh kadar HCN tepung kecundang modifikasidengan perlakuan fermentasi, yaitu 5,86 ppm sedangkan tanpa fermentasi sebesar 6,14% (Setiarto dan Widhyastuti, 2016). Hal tersebut menunjukkan bahwa fermentasi BAL dapat menurunkan HCN pada tepung kecundang modifikasi atau melalui fermentasi.
Manfaat lain dari kecundang antara lain tepungnya digunakan sebagai obat disentri, dan bahkan di negara bagian Plateu, Nigeria, bagian akar kecundang atau umbinya juga dimanfaatkan untuk mengobati luka gigitan ular (Borokini dan Ayodele, 2012). Selain itu, kandungan pati yang cukup tinggi tidak hanya berpotensi sebagai sumber karbohidrat dan bahan baku pangan, akan tetapi juga dapat bermanfaat untuk pembuatan alkohol dengan cara fermentasi sehingga umbi kecundang juga berpeluang sebagai sumber bahan bakar alternatif. Di daerah Polinesia, kandungan kanji atau starch pada umbi kecundang juga dimanfaatkan sebagai bahan pengeras untuk kain.

Sumber : Syarifah Aminah dan Ikrarwati
Penyusun: Kartika Mayasari
BPTP Jakarta
Jl. Raya Ragunan No. 30 Pasar Minggu, Jakarta Selatan

 

Tanggal Artikel : 25-07-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Penyuluhan Pertanian Berorientasi Teknologi Informasi
  2. Sekilas Tentang Jarak Pagar
  3. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi
  4. Potret Rumah Pangan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri-jawa Timur