Diseminasi Teknologi Pertanian

PENAMFAATAN URIN SAPI SEBAGAI PUPUK CAIR ORGANIK

Sumber Gambar: Dokumentasi BPTP Lampung


PENDAHULUAN


Saat ini, penggunaan pupuk kompos dan pupuk organik cair menjadi pilihan karena bebas residu yang aman bagi pertumbuhan tanaman dan menghasilkan produk pertanian yang aman dikonsumsi oleh manusia. Salah satu bahan yang bisa dan mulai dimanfaatkan petani untuk membuat pupuk organik cair adalah urine sapi, yang dalam pemanfaatannya melalui proses fermentasi dan dicampur dengan beberapa bahan lain agar kandungan hara yang terdapat pada urine meningkat dan tidak menimbulkan bau menyengat. Hasil penelitian menyebutkan bahwa urine sapi memiliki kandungan unsur kimia yang lebih banyak dari kotoran sapi padat baik Kandungan Nitrogen, Phosphor, maupun Kalium. Dengan menggunakan urine sapi sebagai pupuk organik dapat menghemat biaya pembelian pupuk kimia, karena dalam sehari dari 2 ekor sapi saja diperoleh 30 liter urine, yang mampu menyuburkan tanah pertanian dan tanaman seluas 1 ha.

Kandungan Kimiawi Urine Sapi
Kandungan kimiawi urine sapi sangat komplek seperti Nitrogen, Fosfor, Kalium (NPK) dan beberapa unsur kimiawi lainnya dengan komposisi utama : Nitrogen (1,4 hingga 2,2 %) , Fosfor ( 0,6 hingga 0,7%) , Kalium (1,6 hingga 2,1% ).
Manfaat Pupuk Organik Cair Urine Sapi
• Memperbaiki struktur kandungan organik tanah
• Menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan yang ramah lingkungan
• Sebagai zat perangsang tumbuh akar tanaman pada benih/bibit,
• Sebagai Pupuk Daun Organik
• Bila dicampur pestisida organik bisa membuka daun yang keriting akibat
serangan thrip.
• Mencegah datangnya berbagai hama tanaman, seperti ulat pada tanaman sayuran.

Keunggulan Pupuk Organik Cair (Bio Urine)
• Secara cepat mengatasi defesiensi hara
• Tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat dan tidak merusak tanah meskipun digunakan secara terus menerus
• Mempunyai jumlah kandungan nitrogen, fosfor, kalium dan air lebih banyak jika dibandingkan dengan kotoran sapi padat.
• Mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh.
• Mempunyai bau khas urine ternak yang dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman.
• Mudah dibuat, murah harganya dan tidak ada efek samping bagi lingkungan maupun tanaman,
• Aman karena tidak meninggalkan residu, juga tidak mencemari lingkungan


PROSES PEMBUATAN
A. Bahan dan Alat:
• Ember/drum, plastik dan karet/pengikat.
B. Bahan:
• Urine sapi (kencing sapi) 20 liter,
• Jahe 1/2 kg, lengkuas 1/2 kg, kunyit 1/2 kg,
• Temu ireng 1/2 kg, temulawak 1/2 kg,
• Kencur 1/2 kg,
• Gula merah 1 kg,
• Rendaman kedelei 1 gelas atau urea 1 sendok makan,
• EM4 100 ml (starter).

Bahan – bahan jahe, lengkuas, kunyit, temu ireng, temulawak dan kencur (empon-empon) berfungsi untuk menghilangkan bau urine sapi dan memberi rasa yang tidak disukai hama tanaman. Gula berguna dalam proses fermentasi dan menyuburkan mikroorganisme yang ada didalam tanah, Urea dan rendaman kedelai berfungsi untuk memperkaya unsur hara yang terdapat dalam pupuk cair serta menyuburkan mikroorganisme. Serta EM 4 sebagai starternya.
Cara pembuatan:
• Siapkan drum/ember kapasitas 20 liter untuk fermentasi
• Empon-empon dihaluskan dan dimasak sampai mendidih.
• Setelah dingin dicampur dengan semua bahan yang lain
• Masukkan dalam ember atau drum plastik, pengisian jangan sampai penuh.
• Drum/ember ditutup rapat dan diamkan selama 3 minggu.
• Setiap hari 2 kali atau tiap pagi dan sore tutup dibuka untuk membuang gas yang dihasilkan atau boleh menggunakan aerator untuk mempercepat proses penguapan gas.


Aplikasi dan penyemprotan
• Pupuk cair yang telah jadi, dapat langsung digunakan yaitu : 1 liter pupuk cair urine sapi dicampur 10 liter air lalu disemprotkan ke tanaman.
• Dapat disimpan selama 12 hari dan harus tertutut rapat agar kadar nitrogen dan urine tidak banyak keluar
• Pupuk cair urine sapi dapat digunakan pada berbagai tanaman pangan (padi, jagung, kedelai ), hortikultura (cabai, jeruk dan tanaman sayuran lainnya) , serta dapat digunakan pada benih/bibit
• Pada tanaman padi penyemprotan dilakukan pada umur 14-21 hst dan pada faseprimordia (45 hst) saat sudah ada satu tanaman yang mengelurkan bunga
• Untuk benih/biji diremdam selama semalam sedangkan untuk bibit perendaman selama maksimal 10 menit.

 

 Penyusun: Suryani, Nasriati, Sri Wardani, dan Gohan Octora Manurung

 

Tanggal Artikel : 31-05-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Peluang Peningkatan Produktivitas Padi Di Lahan Tadah Hujan Dengan Varietas Unggul Baru Inpari 39.
  2. Mudahnya Menanam Bawang Merah Dalam Polybag/pot
  3. Kecundang (tacca Leontopetaloides), Tanaman Pesisir Yang Kaya Manfaat
  4. Nata De Soya "si Limbah” Yang Nikmat