Diseminasi Teknologi Pertanian

SEKILAS TENTANG JARAK PAGAR

Sumber Gambar:

Di Indonesia, pengembangan jarak pagar ini dapat dilakukan pada areal pertanian yang sudah digunakan pada daerah-daerah potensial lainnya yang belum digunakan, seperti lahan alang-alang atau lahan-lahan tidur yang berada di antara lahan kering dataran rendah yang cukup luas jumlahnya. Di luar pulau Jawa, lahan kering yang tidak potensial sangat luas, sehingga pengembangan jarak pagar tidak berkompetisi dengan tanaman pangan dalam hal penggunaan lahan. Jarak pagar dapat tumbuh pada lahan-lahan marjinal yang miskin hara dengan drainase dan aerasi yang baik, namun produksi terbaik akan diperoleh pada lahan dengan lingkungan optimal. Pertumbuhannya cukup baik pada tanah-¬tanah ringan (terbaik mengandung pasir 60-90 %), berbatu, berlereng pada perbukitan atau sepanjang saluran air dan batas-batas kebun. Bila perakarannya sudah cukup berkembang, jarak pagar dapat toleran terhadap kondisi tanah-tanah masam atau alkalin (terbaik pada pH tanah 5,5-6,5).
Jarak pagar sebelumnya memang tidak mendapatkan perhatian khusus di Indonesia, padahal sangat potensial sebagai penghasil minyak nabati yang dapat diolah menjadi bahan bakar minyak pengganti minyak bumi (solar dan minyak tanah). Hal ini disebabkan kebijakan subsidi yang sangat besar untuk BBM sehingga mengolah minyak jarak tidak menguntungkan. Kini saatnya kita mulai memanfaatkan potensi jarak pagar secara maksimal. Tanaman ini secara umum terdapat di pagar-pagar rumah pedesaan, di pekuburan, bahkan tumbuh liar ditepi-tepi jalan. Daerah¬-daerah yang berpeluang untuk pengembangan tanaman jarak pagar di Indonesia sangat banyak dan luas. Namun demikian, untuk menjadikan jarak pagar sebagai suatu usahatani baik skala rumah tangga dan kecil maupun skala menengah dan besar masih belum banyak berkembang.
Tanaman ini umumnya ditanam sebagai pagar hidup di kebun dan lahan-lahan pertanian, karena tidak diganggu oleh hewan dan merupakan tanaman tahunan yang mudah diperbanyak. Karena tahan kering dan akar lateralnya menyebar dipermukaan tanah, jarak pagar seringkali digunakan bersama akar wangi (vetiver) untuk pencegah erosi atau mengurangi kecepatan angin dan melindungi tanggul-tanggul kecil dari kerusakan erosi akibat aliran air permukaan.
Jarak pagar berbentuk pohon kecil atau belukar besar dengan tinggi mencapai 5 meter, cabang-cabangnya bergetah, serta diperbanyak dengan biji dan setek. Biasanya dari biji yang berkecambah tumbuh 5 akar, 1 akar tunggang dan 4 akar cabang, sedangkan bibit yang berasal dari setek tidak mempunyai akar tunggang. Bentuk daun agak menjari (5-7) dengan panjang dan lebar 6-15 cm yang tersusun berselang-seling. Tandan bunga terben¬tuk secara terminal di setiap cabang dan sangat kompleks.
Tanaman berumah satu ini perkawinan dilakukan oleh serangga (ngengat, kupu-kupu) dan bila tidak ada serangga perkawinan harus dilakukan secara buatan. Panen pertama 6-8 bulan setelah tanam dengan produktivitas 0,5 ton biji kering per hektar per tahun kemudian meningkat secara gradual dan stabil sekitar 5,0 ton pada tahun ke 5 setelah tanam. Biji berwarna hitam dengan ukuran panjang 2 cm dan tebal 1 cm.
Tanaman ini juga dapat digunakan sebagai tiang panjat panili atau lada. Upaya-upaya penghijauan dengan menggunakan jarak pagar sangat bermanfaat bagi penyerapan polusi udara (carbon credits) karena kemampuannya yang dtinggi dalam menyerap C dari atmosphere. Pemanfaatan lainnya dari jarak pagar yang tidak kalah penting dari yang telah disebutkan di atas adalah sebagai obat dan bahan bakar minyak.
Jarak pagar (Jatropha curcas) sudah lama dikenal oleh masyarakat kita sebagai tanaman obat dan penghasil minyak lampu, bahkan sewaktu zaman penjajahan Jepang minyaknya diolah untuk bahan bakar pesawat terbang. Tanaman ini berasal dari daerah tropis di Amerika Tengah dan saat ini telah menyebar di berbagai tempat di Afrika dan Asia. Jarak pagar merupakan tanaman serbaguna, tahan kering, dan tumbuh dengan cepat, dapat digunakan untuk kayu bakar, mereklamasi lahan-lahan tererosi atau sebagai pagar hidup di pekarangan dan kebun karena tidak disukai oleh ternak.
Hampir semua bagian tanaman, mulai dari biji, daun dan batang segarnya atau sebagai simplisia dapat digunakan sebagai obat tradisional. Minyak jarak merupakan obat pencuci perut dan juga digunakan sebagai obat kulit dan mengurangi rasa sakit akibat reumatik. Daun yang dikeringkan dapat dipakai sebagai penyembuh batuk dan zat antiseptik setelah kelahiran. Getah jarak mempunyai sifat-sifat antimikrobiol melawan bakteri Staphylococcus, Streptococcus dan E.coli. di samping itu getahnya juga dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan pada luka.
Manfaat lain dari minyaknya selain sebagai bahan bakar juga sebagai bahan untuk pembuatan sabun dan bahan industri kosmetika. Di tengah krisis energi akhir-akhir ini, perhatian kita semua tertuju untuk mencari sumber energi alternatif, terutama sumber energi terbaru biodesel. Beberapa lembaga penelitian dan Perguruan Tinggi di Indonesia, seperti Institut Teknologi Bandung telah membuat prototipe pengolahan minyak jarak. Untuk bahan bakar biodesel, minyak jarak harus diolah melalui proses transesterifikasi. Untuk diektrak minyaknya, biji dijemur pada sinar matahari langsung di atas lembaran plastik hitam. Pengekstrakan minyak dari bijinya dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pengepres yang digerakkan dengan tangan atau mesin. Alat-alat ini umumnya sederhana dan murah.Setelah itu biji dapat disimpan segera di ruang teduh yang berventilasi. Proses pengupasan kulit buah dapat dilakukan dengan meletakkan buah yang sudah kering di atas suatu permukaan yang keras seperti permukaan lantai semen atau meja. Lalu giling sambil ditekan dengan sebuah kayu sehingga kulit buah pecah dan biji keluar. Kulit buah dan biji dapat dipisah dengan cara penampian atau pengayakan. Minyak jarak bersifat higroskopis dan bereaksi masam, sehingga cenderung cepat rusak. Pada mesin-mesin yang telah dimodifikasi, minyak jarak kasar dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar. Setelah diambil minyaknya ampas biji jarak masih dapat digunakan untuk kegunaan lain, tetapi tidak dapat dipakai langsung sebagai pakan ternak karena mengandung racun, yaitu zat curcin dan diterpene sesters. Ampas merupakan 70-80% dari berat biji dan cukup baik digunakan sebagai pupuk organik, karena banyak mengandung nitrogen (6% N), fosfat (2,75%, dan kalium (0,94% K2O). Ampas juga masih mempunyai sifat-sifat pestisida karena masih terdapat sedikit kandungan minyaknya dan dapat digunakan untuk menekan populasi nematoda di dalam tanah.
Biji jarak mengandung 20-30% minyak yang dapat digunakan untuk pembuatan sabun, bahan bakar penerangan atau memasak ataupun sebagai minyak pelumas. Untuk pemanfaatannya sebagai obat, biji jarak pagar dapat dipanen menurut kebutuhan yang berbeda-beda. Sedangkan untuk kegunaan sebagai sumber energi, biji dapat dipanen sekaligus. Buah yang matang berwarna kuning, yang kemudian akan mengering dan kulit bijinya akan mengeras dan berwarna hitam. Buah-buah yang telah mengering tersebut akan tetap menempel pada percabangan tanaman. Cara terbaik untuk memetik buah adalah dengan menggunakan galah yang diberi kantung pada ujungnya, sehingga buah akan jatuh dan terkumpul di kantung tersebut. (Sumber : Balitas- Malang)
Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP)

Tanggal Artikel : 17-07-2014

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. “probion” Bahan Pakan Aditif Multifungsi
  2. Potret Rumah Pangan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri-jawa Timur
  3. Anggur
  4. Membasmi Hama Tikus Dengan Kompor Tikus