Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO

Sumber Gambar:

PENDAHULUAN

Kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan unggulan Provinsi Lampung, tersebar hampir di seluruh Kabupaten, dengan luas areal tanam yang dikelola oleh rakyat tahun 2009 mencapai 39.576 Ha dengan produksi 27.429 ton, sedangkan milik swasta luas areal kakao 3.198 Ha dengan produksi 4.037 ton. Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pasar kakao di dunia. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading pada tahun 2002. Walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003. Menjelang akhir tahun 2011 ini, Indonesia kembali menempati posisi kedua menggeser Ghana dengan peningkatan produksi menjadi 850 ribu ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2012). Sentra perkebunan kakao di Lampung seperti Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Timur, Pesisir Barat, dan Waykanan masih menjadi andalan ekspor komoditas tersebut. harga jual kakao di tingkat petani berkisar Rp 29-30 ribu per kilogram. Namun harga tinggi tidak diikuti dengan peningkatan produksi, sehingga belum berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Permasalahan utama usahatani tanaman kakao adalah adanya beberapa serangan penyakit yang mengganggu produktivitas tanaman. Penyakit-penyakit tersebut antara lain penyakit busuk buah, penyakit kanker batang, penyakit vascular streak dieback (VSD), serta penyakit jamur akar. Dari beberapa penyakit itu, yang paling menimbulkan kerugian yang cukup besar adalah penyakit busuk buah kakao. Penyakit ini pada intensitas serangan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 85%. Jumlah yang sangat besar tentunya. Oleh karena itu, pengenalan gejala serangan, penyebaran dan penularan, serta teknik pengendalian yang tepat perlu dipahami agar kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini dapat ditekan. Penyakit ini menyebabkan kerugian yang sangat besar karena serangan langsung ditujukan pada buah yang notabene menjadi sumber penghasilan petani dari bisnis budidaya tanaman kakao.

GEJALA SERANGAN

Penyakit busuk buah kakao adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cendawan Phytoptora palmivora pada buah kakao. Infeksi dapat terjadi pada buah-buah yang masih pentil muda hingga buah-buah yang sudah siap petik. Gejala serangan awal berupa bercak coklat pada permukaan buah, umumnya pada ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah. Selanjutnya bercak membesar hingga menutupi semua bagian kulit buah. Saat kondisi cuaca lembab, pada permukaan bercak tersebut akan tampak miselium dan spora jamur berwarna putih. Miselium dan spora inilah yang akan menjadi alat reproduksi P. palmivora untuk melakukan penyebaran dan penularan penyakit busuk buah ke buah-buah kakao yang masih sehat. Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah dengan membentuk klamidospora. Penyakit berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi .

PENYEBARAN DAN PENULARAN

Penyakit busuk buah kakao hampir menjangkiti semua areal penanaman kakao di Indonesia. Bahkan penyebarannya diketahui telah merambah ke negara-negara penghasil kakao lainnya seperti Ghana, Pantai Gading, Malaysia, dan Srilanka. Penyebaran penyakit busuk buah kakao memang sangat cepat. Dengan bantuan angin spora cendawan P. palmivora dapat terbang,hinggap, dan menginfeksi buah-buah sehat yang berada jauh dari tanaman inangnya yang awal.Selain dengan bantuan angin, penyebaran dan penularan penyakit busuk buah kakao juga dapat terjadi karena bantuan semut hitam, tupai, bekicot, dan hewan-hewan lain yang sering hidup di sekitar batang dan cabang kakao. Penularan pun dapat terjadikarena adanya sentuhan langsung antara buah yang sehat dan buah yang sakit. Penyebaran dan penularan penyakit busuk buah kakao akan terjadi lebih cepat bila kondisi kebun mendukung pertumbuhan cendawan P. palmivora. Kebun-kebun yang kondisinya lembab karena jarang dipangkas atau karena curah hujan sedang tinggi biasanya lebih sering terkena penyakit ini. Menurut Asni (peneliti BPTP Sulawesi Tengah), mengatakan bahwa penyebab penyakit busuk buah adalah karena adanya jamur Phytophthora palmivora. Penyakit ini ditandai dengan adanya pembusukan pada buah disertai bercak coklat kehitaman dengan batas yang tegas. Serangan biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Perkembangan bercak coklat cukup cepat sehingga dalam waktu beberapa hari seluruh permukaan buah menjadi busuk, basah, dan berwarna coklat kehitaman. Pada kondisi lembab di permukaan buah akan muncul serbuk berwarna putih. Serbuk ini adalah spora Phytophthora palmivora yang sering kali bercampur dengan jamur sekunder (jamur lain)PENGENDALIAN

Untuk menekan tingkat serangan penyakit ini, beberapa tindakan pengendalian harus dilakukan. Tindakan pengendalian tersebut antara lain:

• Gunakan klon unggul yang tahan penyakit busuk buah kakao seperti DRC 16, ICS 6, DR 1 x Sca 12, DRC 16 x Sca 6 atau DRC 16 x Sca 12.
• Lakukan sanitasi dengan pemetikan buah busuk kemudian dibenam ke dalam tanah dengan perlakuan urea 300 gr di campur kapur pertanian 300 gr, ditambah 5 liter air, dan cara pengaplikasianya dengan membuat lubang, lalu masukan 100 buah busuk, kemudian ditaburi kapur pertanian, lalu di siram urea cair, selanjutnya di tutup dengan tanah setebal 20 cm.
• Atur lingkungan agar kelembabannya tidak terlalu tinggi, dengan cara pengaturan naungan dan tanamannya sendiri (pemangkasan), untuk daerah yang sering terjadi genangan air perlu dilakukan pengaturan drainase. Pemangkasan yang dilakukan adalah pemangkasan pemeliharaan, tujuan mengurangi sebagian daun yang rimbun di tajuk tanaman dengan cara memotong ranting-ranting yang terlindung dan yang menaungi, mengurangi daun yang menggantung.
• Tidak menanam tanaman kakao maupun pohon pelindungnya dengan jarak yang terlalu rapat agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kebun dan menjaga tingkat kelembaban udara kebun.

• Pemakaian fungisida sebagai tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara menyemprot buah sehat dengan fungisida Nordox, dengan volume semprot 500 liter/hektar. Penyemprotan dilakukan saat buah telah berumur rata-rata 3 bulan atau panjang buah sekitar 10 cm.

• Penyemprotan agen hayati seperti misalnya Trichoderma spp dengan dosis 200 gram per liter sebagai upaya preventif. Penyemprotan diarahkan pada buah sehat.

Penyusun: Nasriati

 

 

Tanggal Artikel Diupload : 02-01-2018
Tanggal Cetak : 21-01-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386