Cyber Extension - Pusbangluh Deptan http://cybex.pertanian.go.id/rss id “hadirkan” Fungsi Penyuluhan Di Era Perubahan Kelembagaan http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9046/hadirkan-fungsi-penyuluhan-di-era-perubahan-kelembagaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menjadi bagian penting dalam pencapaian sukses pembangunan pertanian, diantaranya melalui pengawalan dan pendampingan terhadap program UPSUS 11 (sebelas) komoditas strategis nasional, yaitu swasembada padi, jagung dan kedelai serta peningkatan produksi cabai, bawang merah, daging sapi, gula, kelapa sawit, kakao, kopi, dan karet. Pengawalan dan pendampingan terpadu tersebut dilakukan oleh Penyuluh Pertanian bersinergi dengan mahasiswa dan babinsa yang menyentuh langsung kegiatan sehari-hari petani dan kelompoktani di lahan usaha taninya serta secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Gerbang Daerah 2017-03-21 10:02:34 admin http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9046/hadirkan-fungsi-penyuluhan-di-era-perubahan-kelembagaan Pertemuan Sinkronisasi Dan Koordinasi Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian Tahun 2017 http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9045/pertemuan-sinkronisasi-dan-koordinasi-penyelenggaraan-penyuluhan-pertanian-tahun-2017 Terbitnya Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan dampak terhadap perubahan kelembagaan penyuluhan pertanian di daerah. Perubahan kelembagaan di daerah ini tetap harus disikapi bahwa arah kebijakan penyuluhan pertanian tetap mengacu pada penguatan sistem penyuluhan pertanian, baik dari aspek kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan, sarana prasarana dan pembiayaan. Penguatan sistem penyuluhan pertanian harus dapat bersinergi dengan jelas dan pasti, serta dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan teknis di lingkup Kementerian Pertanian untuk mencapai target swasembada pangan menuju cita-cita Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045. Gerbang Daerah 2017-03-20 23:20:41 admin http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9045/pertemuan-sinkronisasi-dan-koordinasi-penyelenggaraan-penyuluhan-pertanian-tahun-2017 Bulir-bulir Padi, Tonggak Keberhasilan Dari Kuantan Singigi http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9044/bulir-bulir-padi-tonggak-keberhasilan-dari-kuantan-singigi Desa Seberang Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singigi,Provinsi Riau memiliki sumberdaya alam yang sangat luas dengan potensi tanaman pangan yang cukup menjanjikan. Namun besarnya potensi tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal. Pada tahun 2005-2008 sumber daya manusia petani di Desa Seberang Taluk masih sangat terbatas, pengelolaan lahan dan sistem budidaya masih bersifat tradisional yang kental dengan tradisi nenek moyang. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya penyuluhan dari petugas lapangan tentang teknologi dan inovasi baru dalam budidaya pangan. Hal ini dikarenakan hanya ada 2 (dua) PPL yang memegang wilayah binaan lebih dari 20 Desa dan Kelurahan. Produksi komoditas padi sawah saat itu hanya berkisar 2-3 Ton/Ha.(nurlaily). Gerbang Daerah 2017-03-17 10:09:15 admin http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9044/bulir-bulir-padi-tonggak-keberhasilan-dari-kuantan-singigi Eksistensi Penyuluh Pertanian Dalam Menumbuhkembangkan Produksi Ternak http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9043/eksistensi-penyuluh-pertanian-dalam-menumbuhkembangkan-produksi-ternak Memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar, selayaknya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan asal ternak sendiri dan bahkan berpotensi menjadi negara pengekspor produk peternakan. Namun, saat ini usaha budidaya ternak di Indonesia belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri. Indonesia masih mengimpor sapi hidup dan produk susu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.Kemerosotan populasi ternak di Indonesia diakibatkan rendahnya produktivitas, adanya beberapa penyakit, manajemen, modal dan kelembagaan serta sosial-ekonomi peternakan. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi peternakan di Indonesia, terutama untuk pengembangan ternak sapi, termasuk upaya meningkatkan mutu genetik ternak lokal dan meningkatkan produksi ternak melalui hubungan yang saling mendukung antara tanaman dan ternak.Dengan kondisi seperti ini, sudah saatnya Pemerintah Pusat dan Daerah serta pihak swasta dan masyarakat bekerjasama secara sinergis bagi perkembangan industri peternakan, serta memanfaatkan keunggulan sumber daya alam dan Sumber Daya Manusia yang ada sehingga mempunyai daya saing dalam pasar global. Kebijakan pengembangan peternakan perlu lebih difokuskan pada peningkatan populasi berbasis pakan lokal dan integrasi dengan usaha lainnya, juga peningkatan konsumsi serta perbaikan manajemen dan kualitas produk. Melalui kelompok tani yang dikembangkan sebagai suatu unit usaha yang profesional, beberapa manfaat dapat diperoleh antara lain dalam hal efisiensi faktor produksi dan biaya pemasaran, akses pasar dan sumber permodalan dan lain-lain.Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor yang letaknya hanya sekitar 40 km dari DKI Jakarta, memiliki potensi sektor peternakan yang cukup besar disamping sektor pertanian yang sangat menjanjikan. Usaha di sektor pertanian dan peternakan memang masih banyak dilakukan petani Jonggol. Salah satunya Bapak Kanta, yang telah menggeluti usaha peternakan sapi selain bertani sawah. Berawal dari usaha yang telah diwariskan orang tuanya, Bapak Kanta yang juga mendapatkan kepercayaan menjadi Ketua Poktan Ternak Sapi Potong Mekar Tani II, itu mengakui memiliki empat ekor sapi. Poktan Mekar Tani II dengan jumlah anggota kelompok 22 (dua puluh dua) orang memiliki 235 ekor sapi dengan beragam jenis, seperti limousin, simmental, dan peranakan ongole. Setiap tahun, dari satu ekor sapi paling tidak melahirkan satu anak. "Tiga bulan setelah melahirkan, sapi-sapi ini akan disuntik inseminasi buatan agar kembali bunting," ujarnya. Hal ini sudah sejalan dengan program Upaya Khusus (Upsus) Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab) Kementerian Pertanian yang bertujuan meningkatkan populasi dan produksi ternak rumanansia besar. Dengan adanya program Siwab ditargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada daging sapi dalam kurun waktu lima tahun kedepan.Poktan Mekar Tani II telah menjadi juara I kelompok peternakan tingkat Kabupaten Bogor pada 2013. Kedepan, kelompok tani ini diharapkan menjadi pemasok daging untuk pasar hewan Jonggol. Kanta menuturkan, dari hasil penjualan pupuk dan bertani dengan sistem jajar legowo pada luasan lahan kurang lebih 1 ha dapat memperoleh penghasilan kurang lebih Rp. 5 juta per bulan. Penghasilan tersebut, akan bertambah saat ternak sapi terjual, dimana pada hari-hari biasa, satu ekor sapi usia 1,5 sampai 2 tahun dihargai sekitar Rp20 juta, sedangkan pada Idul Adha bisa mencapai Rp.27 juta. Selain dari penjualan ternak, para petani masih bisa mengolah dan menjual kotoran sapi menjadi pupuk, yang dijual per karung berisi 5 kilogram seharga Rp5.000. Laki-laki berusia 55 tahun tersebut menuturkan dari penghasilan tersebut, beliau dapat membangun rumah dan menyekolahkan kedua anaknya hingga menjadi guru. Keberhasilan Bapak Kanta menggeluti usaha tanaman padi dan peternakan maupun bertani tidak terlepas dari peran seorang penyuluh pertanian yang telah mendampingi dan berbagi pengetahuan dalam menumbuhkembangkan produksi ternak di kecamatan Jonggol. Jajang, SP merupakan sosok Penyuluh Terbaik tingkat Kabupaten pada tahun 2014, penerima penghargaan Pelayanan Ketahanan Pangan Tingkat Provinsi Tahun 2015 dan Juara III Peningkatan Pajale Tingkat Kabupaten pada tahun 2016 inilah yang berada dibalik kisah sukses produksi peternakan dan pertanian di Kecamatan Jonggol. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Jajang untuk mendukung program pemerintah dalam peningkatan produksi padi antara lain dengan melakukan kunjungan kelompok untuk melaksanakan penyuluhan kepada petani. Selain itu sosialisasi dan penerapan teknologi jajar legowo pun diterapkan kepada poktan-poktan binaannya. Saat ini Jajang mendampingi 12 Poktan dan 2 KWT di Desa Singasari dan Desa Cibodas. Peningkatan sumber daya manusia (petani) dilakukan melalui pelatihan, kursus tani, percontohan, demplot, pertemuan rutin. Hal ini secara internsif dilakukan oleh Jajang,untuk menumbukan motivasi para petani untuk mau menerapkan teknologi dan inovasi terbaru dibidang pertanian pada umumnya dan peternakan pada khususnya. Selain untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (petani), Jajang menyadari dirinya pun harus terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. Untuk itu Penyuluh Pertanian ini selalu berusaha memperluas wawasannya dengan memanfaatkan teknologi internet antara lain melalui cyber eksensionselain membaca literatur yang ada. Pada tahun 2013, Jajang telah megikuti Sertifikasi Penyuluh di bidang budidaya padi di Balai Besar Pelatihan Pertanian Kayu Ambon, Lembang, Jabar.Pada Tahun 2016, Poktan Mekar Tani II telah berhasil melakukan 3 (tiga) kali panen pada lahan semi irigasi. Penyediaan air irigasi di desa Singasari pun diupayakan melalui peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Dalam melakukan penyuluhan pertanian khususnya dalam bidang peternakan, Jajang selalu bekerja sama dengan Dinas Peternakan setempat. Untuk pemeriksaan biasa maupun pemberian vaksin dapat dilakukan oleh Jajang, namun bila ternak di desa Singasana terjangkit penyakit maka akan ditangani oleh mantri ternak atau Dokter Hewan dari Puskeswan Kecamatan Jonggol. Mengingat potensi peternakan dan pertanian di desa Singasana, kecamatan Jonggol yang cukup besar, Jajang yakin kesejahteraan petani di kecamatan Jonggol akan meningkat, bahkan kedepan kecamatan Jonggol akan dapat mensuply produksi ternak untuk kabupaten Bogor. (nurlaily). Gerbang Daerah 2017-03-16 16:20:36 admin http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9043/eksistensi-penyuluh-pertanian-dalam-menumbuhkembangkan-produksi-ternak Rapat Koordinasi Penas Petani Nelayan Ke Xv Tahun 2017 http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9042/rapat-koordinasi-penas-petani-nelayan-ke-xv-tahun-2017 Untuk mengetahui perkembangan kesiapan panitia Penas Petani Nelayan ke XV Tahun 2017 baik di Pusat maupun di Daerah maka dilaksanakan rapat koordinasi pelaksanaan PENAS Petani Nelayan ke XV Tahun 2017di Ruang Serba Guna Kantor Gubernur Provinsi Aceh pada tanggal 8 Maret 2017. Rapat ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Aceh, Ketua Umum Kelompok KTNA Nasional, Plh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Pejabat Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan dan Perikanan, Pejabat Pemerintah Daerah Provinsi Aceh, Ketua Kintingen dan Kerua KTNA Provinsi seluruh Indonesia serta penangggung jawab masing-masing bidang kegiatan. Pemerintah Daerah Provinsi Aceh sedang mengupayakan perbaikan sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan PENAS Petani Nelayan ke XV Tahun 2017. Akomodasi selain hotel, guest house dan mess, disediakan juga pemondokan (rumah penduduk) yang dapat menampung peserta yang akan berjumlah 35.000 orang. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Aceh dalam sambutannya pada acara pembukaan rakor PENAS Petani Nelayan ke XV Tahun 2017. Plh. Kepala BPPSDMP,Dr. Ir. Momon Rusmono, MS menyampaikan perlu adanya sinergi antara panitia pusat dan daerah serta pihak- pihak terkait dalam menghadapi pelaksanaan PENAS Petani Nelayan ke XV Tahun 2017 yang kurang dari 56 hari ini. Adanya komitmen dan komunikasi yang terbuka antara semua bidang dan seksi dalam penyelenggaraan PENAS Petani Nelayan ke XV Tahun 2017,sangat diperlukan demi kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan PENAS XV. Pengamanan baik pada saat kunjungan Presiden RI maupun selama pelaksanaan PENAS Petani Nelayan ke XV Tahun 2017 diharapkan mendapatkan perhatian khusus. Gelar Teknologi sebagai show window kegiatan ini diharapkan dapat mencerminkan perkembangan pertanian Indonesia, dimana telah banyak kemajuan teknologi dan inovasi di bidang pertanian. Gelar Teknologi diupayakan untuk mengubah image pertanian (petani) yang kumuh menjadi pertanian (petani) modern. Perubahan tersebut diawali dengan adanya perubahan pola fikir petani yang awalnya hanya sebatas sub sistem menjadi agribisnis, mulai dari budidaya hingga pasca panen. Sejalan dengan Tema PENAS, "Melalui PENAS Petani Nelayan XV 2017 Kita Mantapkan Kelembagaan Tani Nelayan dan Petani Hutan sebagai Mitra Kerja Pemerintah dalam rangka Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan menuju Kesejahteraan Petani Nelayan Indonesia", Kementerian Pertanian ingin membuat posisi tawar petani semakin kuat melalui penguatan kelembagaan petani dimulai dari kelompok tani, gabungan kelompok tani dan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP). Tujuan akhir dari penguatan kelembagaan petani melalui Kelembagaan Ekonomi Petani adalah meningkatnya kesejahteraan petani. Ungkap Plh. Kepala BPPSDMP, Petani Sejahtera Bangsa Berjaya.(Nurlaily). Gerbang Daerah 2017-03-13 10:26:10 admin http://cybex.pertanian.go.id/gerbangnasional/detail/9042/rapat-koordinasi-penas-petani-nelayan-ke-xv-tahun-2017