Profil Kita

Azis Tone Petani Berprestasi, Kabupaten Bolaang Mongodow Th. 2016

Sumber Gambar:

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (sering disingkat Bolmong Utara Bolmut) adalah daerah otonom hasil pemekaran dari kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Provinsi Sulawesi Utara. Keputusan penetapannya sebagai daerah otonom dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dalam sidang Paripurna tanggal 8 Desember 2006.
Asis Tone adalah petani di desa Tombolango sebagai ketua kelompok tani "Keong Emas" yang mengembangkan Usaha tani secara Integrasi antara ternak sapi dengan tanaman pangan ( padi, jagung, aneka jenis cabe). Dengan modal usaha yang bermitra dengan Perbankan (skim kredit pertanian) sehingga usaha tersebut berkembang, yang saat ini telah memproduksi pupuk organik cair dan padat sebagai produk ikutan yang memiliki nilai jual yang telah dilakukan bermitra dengan seluruh Poktan di desa Tombolango.


Budidaya tanaman pangan berupa tanaman padi sawah, tanaman jagung dan tanaman cabe dan usaha pengembangan ternak sapi dan usaha tani tanaman kelapa, dalam usaha tani ternak yang kadangkala sapi – sapi terjual berupa anak sapi, sapi kerja, sapi potong. Pemeliharaan ternak sapi dilakukan sebagai penghasil pupuk organik baik pupuk padat maupun cair pupuk.
Asis Tone (27 tahun) dengan kelompok taninya telah beberapa kali menerima kegiatan magang petani baik petani didaerah maupun petani dari kabupaten lain, dan magang mahasiswa bahkan dikunjungi tamu – tamu dari negeri Belanda serta hingga saat ini melakukan kerjasama dengan BPTPH Sulut.


Asis Tone memulai usahatani yang terintegrasi dengan beternak sapit tiga ekor. Meski cuma punya tiga ekor sapi, Asis Tone selalu konsultasi dengan penyuluh. Dia pun disarankan membentuk kelompok tani. Dibentuklah Kelompok Tani (Poktan) Keong Emas dengan 20 orang anggota di desa Tombolango. Saat ini jumlah ternak sapinya sudah 30 ekor, dimana hasil limbahnya digunakan untuk pupuk kandang sekaligus di proses dalam bentuk cair yang dipasarkan kepada anggota maupun masyarakat umum lainnya.


Ketertarikan Asis Tone menekuni padi organik bermula pada 1996, saat harga pupuk (kimia) melambung tinggi dan tidak terjangkau petani kecil. Dari situ kesadaran Asis Tonebangkit untuk mencoba mengembangkan pertanian terintegrasi dengan ternak sehingga penggunaan pupuk dapat ditekan.
"Saya berpikir bahwa orang zaman dulu dalam bertani tanpa menggunakan pupuk kimia dan panennya padi melimpah. Buktinya beras pada zaman dulu menjadi komoditas penting hingga dikirim ke luar daerah," ujarnya.
Semangat kembali ke alam itu lantas ditindaklanjuti Asis Tone dengan menggali informasi dari penyuluh tentang kearifan lokal dalam mengolah lahan. "Sawah itu sudah membawa pupuk sendiri. Contohnya damen (jerami) harus dikembalikan ke sawah," ujar Asis Tone menirukan saran dari penyuluh.


Petuah selanjutnya, pemilik sawah harus memiliki hewan ternak berupa sapi, kerbau atau kambing, Sebab kotoran tersebut bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik.
Penjelasan penyuluh tersebut dijadikan Asis Tone sebagai bahan masukan yang sangat berharga. Tidak cukup dari situ, Asis Tone mencari informasi tambahan dengan mengikuti berbagai kepelatihan pengelolaan lahan ramah lingkungan yang diselenggarakan oleh Universitas Samratulangi di Menado.
Setelah semua informasi dipadukan, ia mengajak empat rekannya, untuk memulai pertanian organik di sawah masing-masing. Pertanian organik akhirnya diterapkan lima petani yang memiliki lahan di desa itu seluas 5 ha.
Mengawali sesuatu yang tidak lazim memang tidaklah mudah. Panen padi pertama kali yang dilakukan Asis Tone dan kelompoknya lewat metode pertanian organik hasilnya masih jeblok.
Sawah seluas 1,7 ha miliknya hanya menghasilkan 2,4 ton gabah. Padahal hasil panen sawah yang digarap dengan metode nonorganik bisa mencapai 7-9 ton.


Saat melihat kenyataan itu, Asis Tone tidak lantas putus asa. Musim tanam selanjutnya dia tetap menerapkan metode organik. Dan hasil panen yang kurang optimal itu dia sempat rasakan sampai tujuh kali musim tanam.
"Awalnya saya gagal. Banyak warga mencibir dan mencemooh. Mereka mengatakan bahwa saya petani bandel karena mengolah sawah tidak mau keluar modal," kenangnya. Cibiran dan cemoohan tersebut tidak lantas membuat Asis Tone minder. Ia terus belajar untuk menimba teknik pertanian tradisional. Selain ingin membuktikan kepada teman seprofesinya bahwa metode organik lebih berwawasan lingkungan dan hasilnya lebih bagus daripada nonorganik, Asis Tone punya tujuan agar petani di desanya bisa melepaskan diri dari belenggu ketergantungan pupuk kimia.
Hingga akhirnya memasuki 2012, sawah yang digarap Asis Tone sukses menghasilkan 9 ton gabah. Asis Tone semakin optimistis bahwa pertanian ramah lingkungan sangat efektif sekaligus menguntungkan.


Pasalnya hasil panen padi organik setelah dijual dalam bentuk beras langsung terserap pasar. Selain itu, karena pamor beras organik yang semakin tinggi, harganya di pasaran jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan padi nonorganik.
Ia mengisahkan, pada 2013 harga beras organik Rp5.600 per kg. Terus mengalami kenaikan harga sejak mahasiswa dan dosen Universitas samratulangi, Menado, datang ke Desa praktik kerja lapangan. Waktu itu, beras organik hasil panen Asis Tone terserap dengan harga Rp5.600 per kg. "Para dosen sekarang menjadi pelanggan tetap beras organik," ujarnya. Bahkan saat ini harga beras organik di pasaran bisa mencapai lebih Rp11 ribu per kg.
Keberhasilan Asis Tone mengembangkan padi organik itu pada akhirnya mendapat perhatian petani lainnya yang sebelumnya bersikap mencemooh. Hal tersebut dimanfaatkan Asis Tone untuk melakukan sosialisasi lewat pertemuan-pertemuan dalam kelompok tani.


"Dari sinilah petani di Desa Tombolango mulai tertarik dan yang mengembangkan pertanian organik bertambah dari lima orang menjadi 10 orang dengan total lahan seluas 11 ha. Jumlah petani organik di desa kami terus bertambah," ujarnya.
Manfaat lain, pertanian organik yang dirintis Asis Tone tersebut juga mengundang perhatian berbagai pihak. Bahkan sudah ada mahasiswa asal Jerman yang melakukan penelitian di Desa Tabolango
Kini desa yang dulunya tidak dikenal orang mulai dikenal berbagai kalangan dari daerah lain hingga mancanegara. Petani di Desa Tambolango pun merasakan manfaatnya. Paling tidak padi organik produksi mereka dengan cepat terserap pasar dengan harga yang bagus. Dengan mengembangkan padi organik tersebut, para petani di desa tersebut juga mengakui bahwa pendapatan mereka meningkat dan tidak pusing memikirkan harga pupuk kimia yang harganya tidak menentu dan terlalu mahal.

Tanggal Artikel : 07-09-2016

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Misran Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan Kabupaten Pasaman
  2. Dasmawati, Sp Penyuluh Pertanian Pns Teladan Kabupaten Kampar
  3. H. Sayuti Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan Kabupaten Ogan Komering Ulu
  4. Sunardi, Petani Dari Karimun