Kamis, 30 Jul 2020

MORFOLOGI TANAMAN SAGU

MORFOLOGI TANAMAN SAGU Google.com

Tanaman sagu (Metroxylon sp.) merupakan salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropic basah. Secara ekologi, sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut, daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau hutan-hutan rawa. Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah, air, mikro iklim, dan spesies vegetasi dalam habitat itu. Secara umum terdapat tiga (3) jenis tanaman sagu yang dominan baik pada daerah pasang surut dekat laut maupun daerah rawa yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut yaitu: sagu Molat/Roe  (Metroxylonsagus Rottbol), sagu Tuni/Runggamanu (Metroxylonrumphii Martius), dan sagu Rotan/rui (Metoxylon microcanthum Martius). Jenis sagu Molat/Roe paling banyak populasinya dibandinkan dengan jenis sagu lainya karena jenis sagu tersebut lebih diminati dan lebih dikembangkan oleh masyarakat. Sagu  jenis  Molat/Roe  memiliki ciri : aci yang dihasilkan berwarna putih dan rasanya enak sehingga jenis sagu ini yang banyak diolah untuk dijadikan bahan makanan.

Sagu tumbuh dalam bentuk rumpun. Setiap rumpun terdiri atas 1-8 batang sagu, dan pada setiap pangkal tumbuh 5-7 batang anakan. Pada kondisi liar, rumpun sagu akan melebar dengan jumlah anakan yang banyak dalam berbagai tingkat pertumbuhan. Tanaman sagu tumbuh berkelompok membentuk rumpun mulai dari anakan sampai tingkat pohon. Tajuk pohon terbentuk dari pelepah yang berdaun sirip dengan tinggi pohon dewasa berkisar antara 8-17 m, tergantung pada jenis dan tempat  tumbuhnya.

Batang

Batang merupakan bagian terpenting dari tanaman karena merupakan gudang penyimpanan pati atau karbohidrat yang lingkup penggunaannya dalam industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, alkohol, dan berbagai industri lainnya. Batang sagu berbentuk silinder yang tingginya dari permukaaan tanah sampai pangkal bunga berkisar 10-15 m, dengan diameter batang pada bagian bawah mencapai 35-50 cm, bahkan dapat mencapai 80-90 cm. Umumnya diameter batang bagian bawah lebih besar daripada bagian atas, dan batang bagian bawah umumnya mengandung pati lebih tinggi daripada bagian atas. Pada waktu panen, berat batang sagu dapat mencapai lebih dari dari 1 ton, kandungan patinya berkisar antara 15-30% (berat basah), sehingga satu pohon sagu mampu menghasilkan 150-300 kg pati basah.

Daun

Daun sagu berbentuk memanjang (lanceolatus), agak lebar dan berinduk tulang daun di tengah, bertangkai daun. Antara tangkai daun dengan lebar daun terdapat ruas yang mudah dipatahkan. Daun sagu mirip dengan daun kelapa, mempunyai pelepah yang menyerupai daun pinang. Pada waktu muda, pelepah tersusun secara berlapis, tetapi setelah dewasa terlepas dan melekat sendiri-sendiri pada ruas batang. Tanaman sagu yang tumbuh pada tanah liat dengan penyinaran yang baik, pada saat dewasa memiliki 18 tangkai daun yang panjangnya 5-7 m. Dalam setiap tangkai sekitar 50 pasang daun yang panjangnya bervariasi antara 60-180 cm dan lebarnya sekitar 5 cm. Pada waktu muda daun sagu berwarna hijau muda yang berangsur-angsur berubah menjadi hijau tua, kemudian menjadi coklat kemerahan apabila sudah tua dan matang. Tangkai daun yang sudah tua akan lepas dari batang. Tanaman sagu memiliki sekitar 1000 stomata per mm2 daun, sehingga sangat efisien dalam melakukan fotosintesa. Tanaman sagu mengikat CO2 sepanjang tahun, kemudian dikonversi sebagai karbohidrat yang tersimpan pada batang dalam jumlah yang besar.

Bunga dan Buah

Tanaman sagu berbunga dan berbuah pada umur 10-15 tahun, bergantung pada jenis dan kondisi pertumbuhannya. Sesudah itu pohon akan mati. Awal fase berbunga ditandai dengan keluarnya daun bendera yang ukurannya lebih pendek daripada daun-daun sebelumnya. Bunga sagu merupakan bunga majemuk yang keluar dari ujung atau pucuk batang, berwarna merah kecoklatan seperti karat. Bunga sagu tersusun dalam manggar secara rapat, berukuran kecil-kecil, warnanya putih berbentuk seperti bunga kelapa jantan, dan tidak berbau. Bunga sagu bercabang banyak yang terdiri atas cabang primer, sekunder dan tersier. Pada cabang tersier terdapat sepasang bunga jantan dan betina, namun bunga jantan mengeluarkan tepung sari sebelum bunga betina terbuka atau mekar. Oleh karena itu diduga bahwa tanaman sagu adalah tanaman yang menyerbuk silang, sehingga bilamana tanaman ini tumbuh soliter jarang sekali membentuk buah. Bila sagu tidak segera ditebang pada saat berbunga maka bunga akan membentuk buah. Buah berbentuk bulat kecil, bersisik dan berwarna coklat kekuningan, tersusun pada tandan mirip buah kelapa. Waktu antara bunga mulai muncul sampai fase pembentukan buah berlangsung sekitar dua tahun.

 

 

Disusun  oleh  :  Rahmawati Penyuluh Pertanian Ahli

Sumber   :    

Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain;

Jurnal Berkala Penelitian Agronomi 7 (2): 130 –138 (2019);

http://www.litbang.pertanian.go.id/buku/bahan-bakar-nabati/sagu.pdf

TERBARU
BUMI SEMAKIN PANAS, PERTANIAN BAGAIMANA?

bumi semakin panas, pertanian bagaimana?

PERTANIAN ORGANIK, PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

pertanian organik, pertanian ramah lingkungan

PENGELOLAAN PUPUK BERSUBSIDI

pengelolaan pupuk bersubsidi

DIVERSIFIKASI PANGAN LOKAL TEPUNG MOCAF  DI BANJARNEGARA

diversifikasi pangan lokal tepung mocaf di banjarnegara

ALTERNATIF PENGGELOLAAN RAMAH LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG KEAMANAN PANGAN

alternatif penggelolaan ramah lingkungan dalam mendukung keamanan pangan