Senin, 23 Des 2019

PENYAKIT VIRAL (VIRUS) UTAMA PADA TERNAK UNGGAS DAN PENGENDALIANNYA (Bag. 1)

PENYAKIT VIRAL (VIRUS) UTAMA PADA TERNAK UNGGAS DAN PENGENDALIANNYA (Bag. 1) dokumentasi pribadi

Unggas terutama ayam merupakan ternak yang paling popular di tingkat masyarakat di seluruh pelosok permukiman, seiring semakin meningkatnya  jumlah polpulasi ternak unggas menjadi sebuah kekuatiran bagi masyarak terhadap serangan penyakit terhadap ternak ayam yang dipelihara/dikembangkan. Berdasarkan penyebabnya, penyakit pada unggas dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut ;

  • Penyakit Viral: adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh virus
  • Penyakit Bakteri: adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh bakter
  • Penyakit Mikal: adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh jamur
  • Penyakit Parasit: adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh organisme parasite

Beberapa penyakit menular yang telah ditemukan pada unggas lokal di laboratorium diagnostik adalah Newcastle Disease (Tetelo), Flu Burung, Marek, Gumboro, Pox, Infectious Coryza (Snot), Pullorum, Colibacillosis, Cholera unggas, Anthrax, Aspergillosis, Candidiosis, Coccidiosis, Histomoniasis, Cryptosporidiosis, Trichomoniasis, infestasi ektoparasit dan cacing

Jenis Penyakit Viral (Virus)

  1. Penyakit Avian Encephalomyelitis (AE)

Penyebab:

Virus RNA dari family Picornaviridae. Penyakit AE umumnya menyerang anak ayam umur 1-4 minggu, sedang pada ayam petelur hanya mengakibatkan penurunan produksi telur antara 5-20%.

Gejala klinis:

Pada anak ayam umumnya umur 1-2 minggu ditemukan gejala antara lain ayam awalnya tampak sayu, diikuti ataksia karena adanya inkoordinasi dari otot-otot kaki, sehingga ayam dapat jatuh ke samping dengan kedua kaki terjulur ke satu sisi, tremor pada kepala dan leher terutama bila dipacu, keadaan akan berlanjut dengan kelumpuhan dan diakhiri dengan kematian.

Pencegahan dan Pengobatan :

Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi. Pada ayam yang masih hidup dapat diberikan ransum pakan yang baik disertai vitamin dan elektrolit

  1. Penyakit Avian Influenza (AI) / Flu Burung

Penyebeb:

Virus influenza type A subtipe H5 dan H7

Gejala Klinis :

Gejala klinis yang terlihat pada ayam penderita HPAI antara lain adalah, jengger, pial, kelopak mata, telapak kaki dan perut yang tidak ditumbuhi bulu terlihat berwarna biru keunguan.

Adanya perdarahan pada kaki berupa bintik bintik merah (ptekhie) atau biasa disebut kerokan kaki.

Keluarnya cairan dari mata dan hidung, pembengkakan pada muka dan kepala, diare, batuk, bersin dan ngorok.

Nafsu makan menurun, penurunan produksi telur, kerabang telur lembek. Adanya gangguan syaraf, tortikolis, lumpuh dan gemetaran. Kematian terjadi dengan cepat

Pencegahan dan Pengobatan :

Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan Avian Influenza. Usaha yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan merangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral, serta mencegah infeksi sekunder dengan pemberian antibiotic.

  1.  Penyakit Cacar Unggas

Penyebab :

DNA Pox virus ukuran besar.  Terdapat 4 strain Pox virus unggas yang mirip satu sama lain dan secara  lami menginfeksi spesies unggas sesuai dengan namanya, yaitu :  Virus Fowl pox, Virus Turkey pox, Virus Pigeon pox dan Virus Canary pox.

Gejala Klinis :

Cacar dapat terjadi dalam salah satu bentuk yaitu bentuk kulit atau bentuk difterik, ataupun kedua bentuk tersebut. Gejala klinis bervariasi tergantung pada : kepekaan inang/hospes, virulensi virus, distribusi lesi dan faktor komplikasi yang lain. Gejala umum yang timbul adanya pertumbuhan yang lambat pada unggas muda, penurunan telur pada periode bertelur,adanya

Pencegahan dan Pengobatan :

Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksin. Seperti penyakit virus yang lain, untuk penyakit cacar tidak ada obat yang spesifik dan efektif.

  1.  Penyakit Chicken Anemia Syndrome

Penyebab :

Chicken Anemia Agent (CAA), termasuk grup Circovirus. Virus berukuran 18-26,5 nm, tergolong ss-DNA, tidak beramplop dan berbentuk ikosahedral. CAA merupakan penyakit viral yang bersifat akut pada ayam muda. Penyakit ditandai adanya anemia aplastika dan atrofi organ limfoid yang mengakibatkasn terjadinya imunosupresif.

Gejala Klinis :

Pada kasus akut gejala klinis muncul pada ayam umur 7-14 hari, ditandai dengan hambatan pertumbuhan dan anoreksia. Pada bagian muka, pial dan jengger tampak pucat, bulu ayam berdiri disertai dengan terjadinya peningkatan mortalitas ayam sekitar 5-16%, tetapi pernah mencapai 60%.

Pencegahan dan Pengobatan :

Pencegahan dilakukan dengan cara vaksinasi. Pengobatan dengan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dapat membantu menurunkan kasus.

  1.  Penyakit Egg Drop Syndrome 1976 (EDS’76)

Penyebab : 

Adenovirus dari famili Adenoviridae. Virus EDS’76 dapat mengaglutinasi eritrosit ayam, itik dan kalkun. Virus EDS’76 diduga berasal dari adenovirus itik. Musim hujan dan kering tidak mempengaruhi secara langsung penyakit EDS’76, tetapi dapat memperberat kasus penyakit akibat faktor stres.

Gejala Klinis :

Biasanya tampak pada ayam berumur 25-35 minggu dengan gejala khas berupa penurunan produksi telur dengan kualitas jelek. Kualitas telur yang jelek dapat berupa hilang atau berkurangnya warna kulit telur, kulit telur lunak, tipis atau bahkan tanpa kulit dan ukuran telur menjadi sangat kecil.

Pencegahan dan Pengobatan :

Dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi pada ayam menjelang produksi. Tidak ada obat yang efektif dalam menurunkan keparahan ataupun mengurangi gejala penyakit.

  1.  Penyakit Helicopter Disease

Penyebab :

Reovirus, tetapi beberapa agen lain dapat terlibat, seperti rotavirus, parvovirus, enterovirus-like viruses dan toga virus-like agent. Helicopter Disease merupakan penyakit penyebab gangguan pertumbuhan terutama pada ayam pedaging umur 1–6 minggu.

Gejala Klinis :

Anak ayam yang terserang penyakit ini menunjukkan penurunan laju pertumbuhan yang nyata pada umur pemanasan/brooding yaitu 5-7 hari. Kelainan bulu tampak pada ayam yang sakit, termasuk patahnya tungkai bulu sayap primer dan bertahannya warna kuning pada bulu di bagian bawah kepala sampai umur 30 hari.

Pencegahan dan Pengobatan :

Untuk mencegah terjadinya malabsorbsi, formulasi pakan dapat dievaluasi untuk meyakinkan kecukupan zat-zat gizi. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk pengendalian penyakit ini.

  1.  Penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH)

Penyebab :

Adenovirus, familia Adenoviridae. IBH disebabkan oleh sedikitnya 3 serotipe dari DNA Adenovirus dan diperkirakan minimum ada 19 serotipe Avian Adenovirus yang pernah dideteksi dari ayam, kalkun, angsa dan entok. Inclusion Body Hepatitis (IBH) merupakan penyakit akut, menyerang ayam muda umur 4-8 minggu.

Gejala Klinis :

Hampir semua infeksi Adenovirus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Jengger kelihatan pucat, pial dan kulit muka juga pucat, depresi, lemah dan kemungkinan diikuti dengan penyakit lainnya. Gangguan pernafasan sering terjadi pada anak ayam dan pada ayam dewasa kadang terjadi penurunan produksi telur.

Pencegahan dan Pengobatan :

Pencegahan infeksi paling baik dilakukan dengan praktek manajemen pemeliharaan yang optimal. Seperti pada penyakit yang disebabkan virus lainnya, belum ada pengobatan untuk penyakit ini.

  1.  Penyakit Infectious Bronchitis (IB)

Penyebab :

Adalah penyakit pernapasan akut dan sangat menular pada ayam.

Disebabkan oleh virus dari genus coronavirus dari family Coronaviridae. Spesies rentan terhadap penyakit IB hanyalah ayam, baik broiler ataupun layer, tetapi pernah dilaporkan kejadian pada itik dan burung liar.

Gejala Klinis :

Batuk, bersin, ngorok, keluar leleran hidung dan eksudat berbuih di mata. Anak ayam yang terkena tampak tertekan dan akan cenderung meringkuk di dekat sumber panas. Gejala klinis muncul dalam waktu 36 sampai 48 jam.

Pencegahan dan Pengobatan :

Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan infectious bronchitis. Usaha yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan merangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral.

  1.  Penyakit Infectious Bursal Disease (IBD)

Penyebab :

Virus RNA dari genus avibirnavirus dan family birnaviridae. Kerugian ekonomi yang diakibatkan cukup besar karena menyerang anak ayam berumur muda (kurang dari tiga minggu) dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi.

Gejala Klinis :

Depresi, nafsu makan menurun, lemah, gemetar, sesak nafas, bulu berdiri dan kotor terutama bulu di daerah perut dan dubur, selanjutnya diikuti dengan diare, feses berwarna putih kapur dan kematian yang terjadi akibat dehidrasi.

Pencegahan dan Pengobatan :

Cara pencegahan yang paling efektif adalah melakukan vaksinasi. Tidak ada pengobatan yang efektif. Namun perlakuan terhadap ternak ayam yang sakit dapat diberikan  pengobatan, misalnya dengan tetes 5% dalam air minum selama 3 hari, gula rnerah 2% dicampur dengan NaHC03 0,2% dalam air minum selama  2 hari.

  1. Penyakit Infectious Laryngo Tracheitis (ILT)

Penyebab :

Virus herpes, ILT merupakan penyakit akut pada ayam yang ditandai dengan gejala khas pada saluran pernafasan, kesulitan bernafas dan keluarnya eksudat berdarah.

Gejala Klinis :

Gejala khas infeksi akut adalah adanya leleran hidung, suara mengorok yang diikuti dengan batuk dan tarik nafas. Tanda klinis dengan adanya kesulitan bernafas dan keluarnya cairan mukus berdarah adalah khas untuk bentuk penyakit ILT parah.

Pencegahan dan Pengobatan :

Pencegahan daoat dilakukan dengan pemberian vaksin. Tidak ada obat yang efektif dalam menurunkan keparahan ataupun mengurangi gejala penyakit.

  1.  Penyakit Lymphoid Leukosis (LL)

Penyebab :

Virus Leukovirus.

Lymphoid leukosis (LL) merupakan penyakit neoplasma pada unggas yang bersifat menular.

Gejala Klinis : 

Adanya pial yang kering dan gejala umum antara lain kelihatan pucat, jengger dan pial sianosis, nafsu makan menurun, menjadi kurus dan lemah, perut tampak membesar dan bila diraba (palpasi) terasa mengeras.

Pencegahan dan Pengobatan :

Vaksin untuk LL sampai saat ini juga belum tersedia, oleh karena itu usaha pencegahan lebih difokuskan pada manajemen pemeliharaan yang baik dan benar. 

  1.  Penyakit Marek’s Disease (MD)

Penyebab :

Penyebab penyakit Marek’s adalah virus herpes-2 golongan B dari famili Herpesviridae. Penyakit Mareks adalah penyakit menular pada ayam yang ditandai oleh proliferasi dan infiltrasi sel limfosit pada syaraf, organ viseral, mata, kulit dan urat daging.

Gejala Klinis :

Hilangnya keseimbangan tubuh diikuti kelumpuhan pada bentuk klasik (paralisis sebagian atau seluruh kaki dan sayap) dan bilateral. Jika terjadi kelumpuhan spastik (unilateral), maka salah satu kaki direntangkan ke depan dan satu kaki lainnya ke belakang.

Pencegahan dan Pengobatan :

Penyakit Marek’s dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi secara ketat dan teratur serta menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk penyakit Marek’s.

  1. Penyakit Newcastle Disease (ND)

Penyebab :

Virus  yang tergolong Paramyxovirus, termasuk virus ss-RNA yang berukuran 150-250 milimikron, dengan bentuk bervariasi tetapi umumnya berbentuk spherik. Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit menular akut yang menyerang ayam dan jenis unggas lainnya dengan gejala klinis berupa gangguan pernafasan, pencernaan dan syaraf disertai mortalitas yang sangat tinggi.

Gejala Klinis :

Tergantung pada virulensi virus yang menulari, gejala klinis yang ditimbulkan juga bermacam-macam, mulai dari asymptomatis, gejala pernafasan ringan, pernafasan disertai dengan gangguan syaraf, atau kombinasi gangguan respirasi, syaraf dan digesti.

Pencegahan dan Pengobatan :

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan vaksinasi secara teratur. Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan ND. Usaha yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan merangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral.

  1. Penyakit Swollen Head Syndrome (SHS)

Penyebab :

Virus ss-RNA dari genus pneumovirus yang merupakan famili dari Paramyxoviridae. Merupakan penyakit viral yang sangat menular pada ayam yang ditandai dengan kebengkakan pada daerah kepala, menimbulkan gejala pernafasan dan turunnya produksi telur.

Gejala Klinis :

Pembengkakan pada sinus periorbitalis dan sinus infraorbitalis, selain itu terlihat pula adanya torticolis, opisthotonus, inkoordinasi, depresi dan adanya gangguan pernafasan. Pada ayam petelur terjadi penurunan produksi telur.

Pencegahan dan Pengobatan :

Manajemen peternakan yang baik penting dilakukan untuk mencegah kejadian penyakit SHS. Pemberian antibiotik memperlihatkan keberhasilan yang bervariasi. Berdasarkan laporan, keberhasilan  pemberian antibiotik pada kasus SHS berat, ternyata hanya mampu mencegah infeksi sekunder oleh bakteri.

  1. Penyakit Viral Arthritis

Penyebab :

Virus  Orthoreovirus yang tergolong famili Reoviridae. Viral Arthritis (VA) merupakan penyakit viral pada ayam dengan gejala khas berupa lesi pada membran synovial, tendo dan pembungkus tendo.

Gejala Klinis :

Kepincangan, ayam tampak malas bergerak, pertumbuhan terhambat, Ada 2 (dua) bentuk gejala klinis, yaitu bentuk tenosynovitis atau arthritis dan sistemik.

Pencegahan dan Pengobatan :

Tindakan pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi. Sampai saat ini tidak ada obat yang efektif untuk pengobatan terhadap VA.

Daftar Referensi:

Hanik Malichatin, 2017. Penanganan Penyakit Unggas .Disnak Lebak

  1. Sartika dan E. Raheni, 2012. Perkembangan Populasi Ternak Besar dan Unggas Jurnal Peternakan Indonesia, Vol. 14

Priyanti dan Ismeth Inounu, 2015. Prospek Dan Arah Pengembangan Komoditas Peternakan, Unggas, Sapi dan Kambing-Domba. Wartazoa Vol. 15

Penulis : Ir. I Made Suditayasa (PP. pertama BPP Layana Indah)

TERBARU
BUMI SEMAKIN PANAS, PERTANIAN BAGAIMANA?

bumi semakin panas, pertanian bagaimana?

PERTANIAN ORGANIK, PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

pertanian organik, pertanian ramah lingkungan

PENGELOLAAN PUPUK BERSUBSIDI

pengelolaan pupuk bersubsidi

DIVERSIFIKASI PANGAN LOKAL TEPUNG MOCAF  DI BANJARNEGARA

diversifikasi pangan lokal tepung mocaf di banjarnegara

ALTERNATIF PENGGELOLAAN RAMAH LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG KEAMANAN PANGAN

alternatif penggelolaan ramah lingkungan dalam mendukung keamanan pangan