Minggu, 01 Des 2019

ALFAFA SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK

ALFAFA SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK

ALFAFA SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK

Bila kita berbincang-bincang tentang pakan ternak, hijauan yang sering dibahas adalah rumput gajah, kaliandra dan rumput raja. Namun kini ada satu lagi hijauan pakan ternak yang sedang banyak diujicobakan dan dikembangkan oleh instansi maupun peternak rakyat. Alfalfa adalah nama hijauan pakan tersebut. Meskipun bagi beberapa peternak di Indonesia, hijauan jenis leguminosa (kacang-kacangan) ini masih asing di telinga karena berasal dari wilayah subtropics, namun saat ini mulai dikembangkan di Indonesia karena juga  bisa dibudidayakan di wilayah tropis.

Alfalfa banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi potong, sapi perah, domba, kambing bahkan kelinci.  Tumbuhan dengan nama Medicago sativa ini memiliki kandungan protein, vitamin, dan mineral yang tinggi. Dibandingkan dengan pakan ternak dari tanaman lainnya, alfalfa memiliki kandungan protein dan kalsium yang tinggi, tetapi energi termetabolisme dan kadar fosfor di dalamnya relatif rendah. Alfalfa juga termasuk berserat rendah sehingga mudah mencapai rumen (perut besar) dan mudah dicerna oleh ternak.

Selain kandungan proteinnya mencapai 32 persen, kandungan alfalfa lainnya yang dicari adalah zat anti depressant yang akan sangat berpengaruh terhadap produksi ternak. Alfalfa juga diyakini  mengandung  galactagogue, zat yang menginduksi laktasi untuk meningkatkan produksi susu. Bahkan pada anak kelinci yang diberi asupan alfalfa dalam bentuk hay (jerami) mempunyai pertumbuhan yang lebih bagus dibandingkan yang tidak diberi alfalfa. Indukan kelinci yang diberi alfalfa hay selama masa kebuntingan, diamati mempunyai anak kelinci yang relatif lebih tahan terhadap penyakit dan (Survival Rate/SR) daya hidupnya  tinggi.

Aplikasi alfalfa di luar negeri lebih banyak  berupa pelet, karena dengan pelet alfalfa efisiensi pakan akan lebih terjamin. Sesuai dengan kandungan gizinya maka pemakaian alfalfa tidak bisa diperlakukan sama dengan komoditas hijauan yang lain. Harga dasar alfalfa cukup mahal yaitu  Rp 15.000 per kg basah jadi pemakaian alfalfa hijauan harus tepat sasaran agar produksi ternak makin bagus.

Di Indonesia, budi daya alfalfa sudah mulai dilakukan di daerah Baturaden (Jawa Tengah) dan Cisarua (Jawa Barat). Perusahaan importer  benih rumput dan legume Heritage  dan Southedge mengeluarkan beberapa  varietas. Untuk heritage varietasnya seperti, genesis, pegasis, sardi 10, sardi 5, sardi 7, sardi 7 seri 2, sardi grazer, venus.  Sementara dari southedge varietasnya Queensland 11™ (Medicago sativa). Hasil pengamatan, ada dua jenis yang paling cocok ditanam di Indonesia yaitu sardi 5 dan venus, karena sudah melalui seleksi.

Ciri tanaman ini  yaitu berakar tunggang, batang menyelusur tegak dari dasar kayu dan tingginya berkisar 30-120 cm, serta daun tersusun tiga. Tangkai daun berbulu dan berukuran 5-30  mm. Kedalaman akar alfalfa dapat mencapai 2-4 meter. Saat memulai perkembangan batang, tunas aksiler di bagian bawah ketiak daun akan membentuk batang sehingga mahkota pada bagian dasar menjadi pangkal dan tunas aksiler di atas tanah membentuk percabangan. Perbungaan tersusun pada tandan yang padat dengan bunga kecil berwarna kuning. Tumbuhan ini mampu hidup hingga 30 tahun, bergantung dari keadaan lingkungan. Alfalfa juga memiliki bintil (nodul) akar yang mengandung bakteri Rhizobium meliloti. Bakteri ini mampu menfiksasi (mengikat) nitrogen. Hal inilah yang membuat alfalfa dapat dijadikan pakan ternak dengan kandungan protein tinggi, tergantung pada ketersediaan nitrogen di dalam tanah.

Untuk melakukan budidaya alfalfa, kondisi tanah yang harus diperhatikan adalah pH (tingkat keasaman) tanah berkisar 6,3-7,5 dan kandungan garam dalam tanah tidak boleh terlalu tinggi. Selama masa aktif pertumbuhannya, alfalfa tidak membutuhkan tanah yang basah.  Musim penanaman alfalfa biasanya berlangsung pada peralihan antara musim semi ke musim gugur, namun pertumbuhan utama terjadi pada akhir musim semi atau awal musim panas. Tumbuhan ini memerlukan waktu penyinaran yang panjang. Perkebangan perbungaan dari setiap kultivar alfalfa dapat berbeda satu sama lain karena lama penyinaran yang diperlukan juga berbeda. Tanaman alfalfa lebih tahan terhadap kekeringan bila dibandingkan tanaman kacang-kacangan lainnya. Hal ini dikarenakan akar yang panjang dan tanaman memiliki kemampuan melakukan dormansi (tidak aktif) saat musim kemarau yang parah. Saat mencapai kelembaban tertentu, alfalfa dorman dapat kembali aktif.

Dengan pemberian irigasi, tanaman alfalfa dapat memproduksi 25-27 ton per hektar kadar kering pada tahun pertama dan turun hingga 8-15 ton per tahun pada tahun ketiga. Produksi tersebut bergantung pada densitas tanaman, tingkat resistensi hama dan penyakit, aktivitas di musim dingin, dan hujan yang memengaruhi kelembaban tanah. 

Penulis : Gregorius Galu, SP

BPP Sandaran, Kutim-Kaltim

 

TERBARU
Pemberdayaan Kelembagaan Petani dan KEP diKabupaten Sumba Tengah

pemberdayaan kelembagaan petani dan kep dikabupaten sumba tengah

Implementasi Peran Kostratani di BPP Pray Au

implementasi peran kostratani di bpp pray au

GENTA ORGANIK SOLUSI PUPUK MAHAL

genta organik solusi pupuk mahal

OPTIMALKAN DIGITALISASI PENYULUHAN PERTANIAN

optimalkan digitalisasi penyuluhan pertanian

Indonesia Jadi Eksportir Besar Tanaman Hias

indonesia jadi eksportir besar tanaman hias