Rabu, 13 Nov 2019

Teknik Budidaya Selada

Teknik Budidaya Selada BPP Kota Soe

I. DESKRIPSI TANAMAN

Tanaman selada daun merupakan salah satu jenis sayuran daun yang banyak diusahakan di dataran rendah hingga dataran tinggi.  Sayuran selada daun memiliki daun yang berwama hijau segar, tepinya bergerigi atau berombak, dan lebih enak dimakan mentah (lalapan).

II. SYARAT TUMBUH

Selada akan tumbuh dengan optimal apabila semua persyaratan tumbuhnya terpenuhi, adapun syarat tumbuh untuk selada adalah sbb :

Selada yang ditanam di dataran rendah cenderung lebih cepat berbunga dan berbiji. Ketinggian tempat bagi tanaman selada ialah 50 – 2200 mdpl, suhu optimal antara 15-25°C.

Jenis tanah yang disukai selada ialah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah yang masih mengandung humus. Meskipun demikian, selada masih toleran terhadap tanah-tanah yang miskin hara asalkan diberi pengairan dan pupuk organik yang memadai. Sebaiknya tanah tersebut bereaksi netral. Jika tanah asam, daun selada menjadi kuning. Oleh karena itu, untuk tanah yang asam sebaiknya dilakukan pengapuran terlebih dahulu sebelum penanaman.

III. PEDOMAN BUDIDAYA

Benih Selada diperbanyak dengan biji. Bijinya, yang kecil diperoleh dari tanaman yang dibiarkan berbunga dan berbuah. Setelah tua tanaman dipetik dan diambil bijinya. Namun, agar produksi  dan mutu hasil panen tetap prima, maka sebaiknya benih selada digunakan adalah benih yang memang berkualitas dan dijamin mutunya. Varieats selada yang biasa dibudidayakan petani adalah: GRAND RAPIDS, BALTO, BRANDO, KARINA, NUANSA, dll. Sekarang benih selada sudah banyak dijual di toko  - toko pertanian.

Gambar  Buah selada yang mengandung                                                                                                                        banyak biji

III.1. PENGOLAHAN TANAH

Pengolahan tanah dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisik, kimia, maupun biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik.

Kegiatan pengolahan tanah dibagi ke dalam dua tahap, yaitu: (1) Pengolahan tanah pertama (pembajakan), dalam pengolahan tanah pertama, tanah dipotong, kemudian dibalik agar sisa tanaman dan gulma yang ada di permukaan tanah terpotong dan terbenam. Kedalaman pemotongan dan pembalikan tanah umumnya antara 15 sampai 20 cm. Gambar 4. Persiapan lahan

III.2. PENGOLAHAN TANAH KEDUA (PENGGARUAN)

Pengolahan tanah kedua, bertujuan menghancurkan bongkah tanah hasil pengolahan tanah pertama yang besar menjadi lebih kecil dan sisa tanaman dan gulma yang terbenam dipotong lagi menjadi lebih halus sehingga akan mempercepat proses pembusukan setelah itu penambahan pupuk kandang dengan dosis 15 – 20 ton/Ha dan pembuatan bedengan dengan ukuran bedengan

  1. Panjang disesuaikan dengan kondisi lahan
  2. Lebar 1 – 1.2 meter
  3. Tinggi bedengan 20 – 25 cm
  4. Jarak antar bedengan 30 cm.

 Gambar 5. Lahan yang sudah dibentuk bedengan               siap untuk ditanami

III.3. PERSIAPAN PESEMAIAN

Umumnya benih selada disemai terlebih dahulu, Penanaman langsung dapat saja dilakukan, namun lebih baik jika disemaikan dulu.

Penyemaian dapat dilakukan di dalam kotak ataupun di lahan. Bila di lahan lakukan pengolahan tanah hingga gembur. Tambahkan pasir dan pupuk kandang. Taburkan bibit secara merata. Lalu tutupi dengan lapisan tanah tipis-tipis. Setelah berumur sekitar 3 minggu bibit siap dipindahkan ke lahan. Untuk satu hektar lahan dibutuhkan sekitar 250 g benih.

 

 

III.4. PENANAMAN

Penanaman dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terik. Adapun syarat bibit untuk dipindahkan ke lapangan antara lain :

  1. Umur bibit 15-21 hss
  2. Bibit sehat dan terlihat segar
  3. Tidak terlihat ada gejala serangan hama dan penyakit

 

Adapun jarak tanam yan ideal untuk tanaman selada yaitu 20 cm x 25 cm dengan jumlah populasi per hektar sebanyak 200.000 Tanaman.

III.5. PEMBUATAN NAUNGAN

Pembuatan naungan ini dilakukan untuk menghindari percikan air hujan secara langsung pada tanaman yang dapat menyebabkan tanaman menjadi rusak dan stres, selain itu dapat juga menjadi penyebab terjadinya serangan penyakit.

Pembuatan naungan ini dilakukan dengan cara memasang tiang naungan dari belahan bambu secara melingkar sebesar 180 ? kemudian di tutup dengan plastik putih transparan

Naungan ini di tutup mpada malam hari dan kondisi hujan sedangkan pagi hari apabila cerah naungan di buka seperti biasa.

 

III.6. PEMELIHARAAN

Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada tanaman berumur 14 hst. Hal ini karena perakaran selada dangkal sehingga kurang mampu bersaing dengan tanaman lain dalam menyerap hara. Penyiangan juga berfungsi untukmenekan serangan hama-penyakit. Interval pengerjaannya adalah seminggu sekali atau di sesuaikan dengan pertumbuhan gulma.

Pengairan

Pada tanaman selada patut mendapat perhatian. Apalagi di dataran rendah di mana udara lebih panas dan sering kekurangan air. Kebutuhan air mutlak dipenuhi pada awal penanaman, saat penyiangan pertama (umur 2 minggu), dan ketika tanaman berumur sebulan. Bila hujan tidak turun, lakukan penyiraman dengan gembor atau melewatkan air melalui parit pengairan. Jaga pula agar parit pengairan mampu melewatkan kelebihan air di saat turun hujan lebat.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan untuk memberikan/menyediakan unsur hara dalam tanah sehingga dapat di serap oleh akar tanaman. Adapun jenis pupuk yang diberikan yaitu pupuk kandang dan pupuk anorganik.

Kebutuhan pupuk kandang untuk tanaman selada adalah 10 ton/ha. Pupuk ini dicampurkan di permukaan areal tanam. Selain pupuk kandang, tambahkan juga pupuk kimia anorganik terutama Urea. Dosis yang diberikan ialah Urea 200 kg, TSP 100 kg (SP 36 138 kg), dan KCI 100 kg/Ha. Pemupukan dilakukan dengan cara dilarikan di kiri-kanan tanaman pada saat setelah penanaman.

 

III.7. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Hama Utama Pada Tanaman Selada:

KUTU DAUN

Tanaman selada sering menjadi sasaran kutu daun. Akibat serangan hama ini daun mengerut dan mengering karena kurang cairan. Insektisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan kutu- ini antara lain DRUSBAN, Bayrusil, atau Orthene 75 SP. Semprotkan dengan dosis 2 cc/l air.

 

 

Thrips
Hama thrips cukup merisaukan petani selada. Ciri serangan thrips ialah daun menguning, mengering, dan terakhir tanaman mati. Hama ini dapat dikendalikan dengan insektisida seperti Confidor , Topdor, Agrimec dan Dhemolis, dengan dosis 2 cc/liter air.

Penyakit Utama Tanaman Selada:

Busuk Hitam

Penyebab: Xantomonas Campestris

Gejala:

Mula-mula pada tepi daun muncul daerah yang berwarna kuning atau pucat, kemudian meluas ke bagian tengah. Pada daerah tulang-tulang daun gejala berubah menjadi coklat tua atau hitam

Tindakan Pengendalian:

Menanam varietas yang tahan dan benih yang sehat

Rotasi tanaman

III.8. PANEN DAN PASCAPANEN

Panen

Selada dapat dipanen ketika berumur 45 hari setelah tanam. Namun, bisa saja kurang dari umur tersebut tanaman sudah layak konsumsi, jadi bisa dipanen lebih cepat. Cara panen selada dengan memotong bagian tanaman di atas permukaan tanah. Bisa juga dengan mencabut semua bagian termasuk akar.

Pascapanen

                Setelah di panen kemudian akar dicuci, daun-daun yang rusak dibuang. Kelompokkan selada berdasar ukuran sesuai dengan grade atau kelasnya. Selada ini harus segera dipasarkan karena tak tahan panas dan penguapan.

 

By Abigail J Kase, S ST.

NIP : 197110152002122007

BPP KOTA SOE

TERBARU
Pemberdayaan Kelembagaan Petani dan KEP diKabupaten Sumba Tengah

pemberdayaan kelembagaan petani dan kep dikabupaten sumba tengah

Implementasi Peran Kostratani di BPP Pray Au

implementasi peran kostratani di bpp pray au

GENTA ORGANIK SOLUSI PUPUK MAHAL

genta organik solusi pupuk mahal

OPTIMALKAN DIGITALISASI PENYULUHAN PERTANIAN

optimalkan digitalisasi penyuluhan pertanian

Indonesia Jadi Eksportir Besar Tanaman Hias

indonesia jadi eksportir besar tanaman hias