Jum'at, 01 Nov 2019

Pengendalian Penyakit Akar Gada

Pengendalian Penyakit Akar Gada

Penyakit akar gada adalah penyakit jamur yang menyerang tanaman kubis,sawi dan merupakan penyakit yang umum di Indonesia yang menyebabkan kerugian signifikan terhadap hasil  panen. Penyakit ini disebabkan oleh patogen Plasmodiophora brassicae. Dengan olah tanah yang baik, cara pemakaian Pupuk Organik dan penggunaan Agensi Hayati Corrin dari awal tanam telah banyak di buktikan oleh para petani mampu menekan angka pertumbuah patogen Plasmodiophora brassicae yang merupakan penyebab dari penyakit akar gada tersebut.
Penyakit akar gada yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae Wor. merupakan salah satu penyakit tular tanah yang sangat penting pada tanaman di seluruh dunia (Karling, 1968; Voorrips, 1995). Penyakit ini juga sering disebut penyakit akar pekuk (Suryaningsih, 1981; Semangun, 1989) atau penyakit akar bengkak (Djatnika, 1989; Hutagalung et al. 1989). Kerugian yang disebabkan oleh P. brassicae pada tanaman kubis-kubisan di Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Asia, dan Afrika Selatan mencapai 50-100% (Karling, 1968). Di Australia, patogen ini menyebabkan kehilangan pendapatan sebesar US$13 juta (Faggian et al., 1999), dan di Indonesia penyakit ini menyebabkan kerusakan pada kubis-kubisan sekitar 88,60% (Widodo dan Suheri, 1995).
Tingkat produksi tanaman kubis-kubisan sering kali dipengaruhi oleh serangan patogen P. brassicae yang menyebabkan bengkak pada akar. Pembengkakan pada jaringan akar dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air dari dalam tanah ke daun. Keadaan ini mengakibatkan tanaman layu, kerdil, kering dan akhirnya mati (Karling, 1968). Jika tanah sudah terinfestasi oleh P. brassicae maka patogen tersebut akan selalu menjadi faktor pembatas dalam budi daya tanaman famili Brassicaceae karena patogen ini mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dalam tanah.
Penyakit akar gada pertama kali diketahui di Indonesia pada tahun 1950 di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Pada musim hujan tahun 1975/1976 penyakit tersebut juga ditemukan di Kebun Percobaan Margahayu, Lembang (Suhardi dan Suryaningsih, 1976). Pada tahun 1988 bahkan sudah ditemukan pada tanaman petsai di Jeneponto, Sulawesi Selatan (Hutagalung et al., 1989). Saat ini penyakit tersebut telah menyebar ke daerah-daerah penghasil kubis dan tanaman dari famili Brassicaceae lainnya (Widodo dan Suheri, 1995). Patogen dapat terpencar di alam melalui tanah dengan berbagai cara atau perantara, misalnya perlengkapan usaha tani, bibit pada saat pemindahan ke lapangan, hasil panen, air permukaan, angin dan melalui pupuk kandang. Patogen juga dapat ditularkan oleh biji melalui konta-minasi permukaan biji dengan tanah yang terinfeksi. Selain itu sejumlah tanaman cruciferae liar dan beberapa tanaman inang lain yang rentan terhadap penyakit akar gada dapat menjadi tempat bertahan hidup patogen pada saat tanaman budi daya tidak ada (Karling, 1968)
Gejala Penyakit Akar Gada
Kelayuan bibit atau tanaman adalah tanda pertama dari infeksi. Hal inimenunjukkan bahwa akar telah rusak. Gejala pertama kali terlihat padaakar adalah pembengkakan yang berkembang menjadi distorsi besar atauseperti gada. Keseriusan bergantung kepada usia tanaman dan waktu
bersentuhan dengan penyakit tersebut.
Gejala awal yang biasanyaterjadi adalahtanaman tumbuh kerdil . Padatanaman di waktu-waktu selanjutnya, ladang -ladang tanaman akan meluas hingga seluruh ladang terinfeksi. Semakin banyak spora yang ada di dalam tanah, maka semakin parah gejalanya.Tanaman kubis mungkin tumbuh tanpa kepala.

Penularan Penyakit Akar Gada
Spora Penyakit akar gada dapat bertahan hidup di dalam tanah hingga 20 tahun. Ini berarti jika penyakit akar gada masuk ke ladang hampir tidak mungkin untuk benar-benar menyingkirkannya.
Spora bangun dan kemudian berkecambah dengan hadirnya akar keluarga kubis. Mereka mengeluarkan spora berenang yang tertarik ke akar kubis dan berenang ke arah mereka ketika tanah sangat basah.

Spora melekat pada akar di mana mereka tumbuh dan menyebabkan pembengkakan.Penyakit akan memburuk dengan meningkatnya kelembaban tanah dan suhu tanah naik di atas 20 °C.Kondisi ideal untuk infeksi penyakit akar gada termasuk tanah asam (pH kurang dari 7), tanah basah,suhu hangat (20-25°C) dan tanaman inang rentan.
Penyebaran spora yang dorman ke ladang adalah dengan obyek yang dapat membawa tanah yang terkontaminasi, seperti alat pertanian, sepatu kotor, bibit terinfeksi, hewan pemakan rumput dan air permukaan. Penyebaran jarak jauh pada umumnya adalah dengan bibit ditanam di tanah pada tanah terkontaminasi.
Pengendalian awalPenyakit Akar Gada
• Kita dapat membantu mengendalikan penyakit akar gada dengan cara pembibitan yang ketat dan kebersihan ladang digabungkan dengan membuat ladang anda kurang menarik bagi Plasmodiophora brassicae.
Pembibitan dan kebersihan lahan
• Cegah agar tanah dan bahan tanaman tidak membawa spora dorman memasuki ladang anda.
• Bersihkan tanah dari alat sebelum meninggalkan ladang.
• Jangan tanam bibit yang terinfeksi.
• Beli bibit anda dari pemasok yang punya reputasi baik dan tidak memiliki penyakit akar gada.
• Jika anda menumbuhkan bibit sendiri, pastikan anda menggunakan tanah steril atau ladang -ladang di mana penyakit akar gada belum pernah ditemukan.
• Pastikan air irigasi yang digunakan pada tempat pembibitan bersih dan tidak terkontaminasi dengan spora penyakit akar gada.
• Jangan membuat bekas air ini ke sungai dan jangan digunakan di luar tempat pembibitan.

Pengendalian lahan
• Pilih tempat-tempat dengan pengeringan tanah yang terbaik.
• Catat pembacaan pH tanah teratur dan gunakan kapur untuk meningkatkan pH sampai 7 – 7,5.
• Jangan berlebihan mengairi tanaman.
• Selang-seling dengan tanaman keluarga non-kubis selama mungkin.
• Gunakan varietas yang lebih toleran atau resisten, misalnya Maxfield.
• Buang dan bakar tanaman yang terinfeksi dari seluruh tanaman itu, untuk mengurangi jumlah spora.
Sistem Pengendaliannya
Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini.
• Olah Tanah yang baik dengan cara pemupukan yang berimbang,sehingga mampu menekan pertumbuhan patogen tersebut.Yaitu dengan cara pemakaian pupuk organik di tambajkan dengan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
• Peggunaan Agensi Hayati yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang dari olah tanah sebelum tanam juga dapat membantu dari serangan penyakit ini.
• Penyemprotan Agensi Hayati yang berupa Corrin Dari Awal Tanam. Bibit yang akan di tanam di rendam denga Corrin kurang lebih sekitar 15 menit.
• Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bibit yang bebas hama dan penyakit.
• Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini.
• Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit.
• Selain itu, penggunaan tanaman perangkap dan perlakuan tanah pembibitan dengan teknik solarisasi juga teruji mengurangi penyakit dan meningkatkan hasil panen.

Disusun Oleh: NUNIK SULISTYOWATI SP
BPP PLAOSAN
.

 

TERBARU
PROGRAM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARAN PERTANIAN DIMASIFKAN PADA AGENDA NGOBRAS

program direktorat jenderal prasarana dan saran pertanian dimasifkan pada agenda ngobras

KEMENTAN MASIFKAN PROGRAM BADAN KARANTINA PERTANIAN TAHUN 2023 MELALUI PROGRAM MSPP

kementan masifkan program badan karantina pertanian tahun 2023 melalui program mspp

KEMENTAN MASIFKAN PROGRAM GENTA ORGANIK MELALUI TALKSHOW MSPP

kementan masifkan program genta organik melalui talkshow mspp

Kementan Masifkan Gerakan Genta Organik Melalui Rapat Koordinasi Penyuluhan Nasional Tahun 2023

kementan masifkan gerakan genta organik melalui rapat koordinasi penyuluhan nasional tahun 2023

DUKUNG PROGRAM GENTA ORGANIK, PENYULUH PERTANIAN KEMBANGKAN BERAS ORGANIK

dukung program genta organik, penyuluh pertanian kembangkan beras organik