Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Sawah

Rice Transplanter dapat mempercepat waktu tanam bibit padi

Sumber Gambar:

Usaha pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mewujudkan program penyediaan padi sebesar 75,7 juta ton GKG pada tahun 2010 – 2014 menghadapi berbagai kendala, antara lain: (i) menurunnya luas areal sawah akibat laju konversi lahan sawah ke non-sawah; (ii) ancaman perubahan iklim global; (iii) terbatasnya air irigasi dan menurunnya kinerja sebagian besar sistem irigasi; (iv) masih tingginya susut panen padi; (v) kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian; dan (vi) menurunnya minat generasi muda pada usaha sektor pertanian.
Kendala tersebut dapat mengancam dilakukannya keseragaman waktu tanam, peningkatan produktivitas dan susut panen tanaman padi di suatu hamparan atau wilayah yang pada akhirnya akan menganggu tercapainya target swa-sembada beras nasional. Salah satu strategi untuk mengatasi ancaman tersebut adalah dengan penerapan mesin tanam bibit padi dan pemanen padi. Penerapan mesin-mesin tersebut diperlukan untuk: (i) meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja; (ii) mempercepat dan mengefisiensikan proses; dan sekaligus (iii) menekan biaya produksi.
Rice transplanter adalah inovasi teknologi mesin tanam pindah bibit pada tanaman padi. Mesin Rice Transplantar berpeluang dapat mempercepat waktu tanam bibit padi dan mengatasi kelangkaan tenaga kerja tanam bibit padi pada daerah-daerah tertentu. Dalam budidaya padi, salah satu kegiatan yang banyak menyerap tenaga kerja adalah kegiatan tanam bibit padi (tanam bibit pindah). Kegiatan tersebut memerlukan tenaga kerja sekitar 25% dari seluruh kebutuhan tenaga kerja budidaya padi. Petani dalam pelaksanaan usahatani padi masih menanam bibit padi secara manual dengan tenaga manusia. Permasalahan tentang kelangkaan tenaga kerja tanam padi mulai terjadi di beberapa sentra produksi padi. Meskipun seluruh areal lahan sawah dapat ditanami namun tidak tepat waktu. Hal tersebut disebabkan karena telah mulai terjadi keterbatasan tenaga kerja tanam. Keadaan demikian tentunya sangat memprihatinkan bagi pemerintah dalam peningkatan ketahanan pangan. Dengan adanya kelangkaan tenaga kerja khususnya penanaman padi menyebabkan jadwal tanam sering mundur dan tidak serempak sehingga berpengaruh terhadap indeks pertanaman padi, ganguan OPT yang akhirnya berpengaruh terhadap produksi padi. Oleh karena itu, sejak beberapa tahun terakhir ini mulai diperkenalkan dan dikembangkan mesin tanam pindah bibit padi (rice transplanter).
Inovasi teknologi rice transplanter merupakan inovasi teknologi yang dipergunakan untuk menanam bibit padi yang telah disemaikan pada areal khusus dengan umur tertentu, pada areal tanah sawah kondisi siap tanam, mesin dirancang untuk bekerja pada lahan berlumpur (puddle). Oleh karena itu mesin ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat pengapung.
Persyaratan utama penggunaan rice transplanter meliputi:
1. Bibit : tinggi bibit padi 12-17 cm, umur bibit 15-20 hari, kerapatan merata 2 s/d 3 bibit/cm2, merata dan datar seragam, ketebalan tanah 20-25 mm, dan
2. Lahan/sawah: datar, terolah sempurna, level ketinggian di satu petak kurang 40 cm, ketinggian genangan 1 – 3 cm. Untuk tanah lempungan perlu pengendapan sekitara 1 – 2 hari sedangkan tanah pasiran tidak diperlukan pengedapan.
Beberapa keunggulan rice transplanter diantaranya:
1. Produktivitas tanam cukup tinggi 5 – 6 jam/ha atau 1 ha per hari,
2. Jarak tanam dalam barisan dapat diatur dengan ukuran 12, 14,16, 18, 21 cm,
3. Penanaman yang presisi (akurat),
4. Tingkat kedalaman tanam dapat diatur dari 0,7 cm hingga 3,7 cm (5 level kedalaman),
5. Jumlah tanaman dalam satu lubang berkisar 2 – 4 tanaman per lubang dan
6. Jarak dan kedalaman tanam seragam sehingga pertumbuhan dapat optimal dan seragam.
Disamping mempunyai keunggulan, ada beberapa kelemahan rice transplanter diantaranya:
1. Jarak antar barisan (gawangan 30 cm) tidak dapat diubah,
2. Tidak bisa dioperasionalkan pada kedalaman sawah lebih dari 40 cm,
3. Untuk membawa mesin ke sawah, diperlukan alat angkut,
4. Perlu bibit dengan persyaratan khusus dan
5. Harga masih relatif mahal.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa rice transplanter hanya memerlukan tenaga kerja 3 orang, dan biaya tanam Rp. 400.000-500.000/ha atau Rp 1.200.000 - Rp. 1.480.000/ha bila bibit dari pengelola jasa mesin transplanter. Ditinjau dari pengguna jasa mesin transplanter (petani) dapat menghemat biaya Rp.110.00 - 340.000 atau 6,91- 21,38%, waktu tanam 5 - 6 jam/ha, serta dapat meningkatkan hasil 7-18% dibandingkan dengan cara tanam manual. Dengan demikian mesin transplanter mempunyai prospek cukup baik untuk dikembangkan terutama di wilayah yang mengalami kelangkaan tenaga kerja waktu tanam padi. Dengan menggunakan mesin transplanter dapat menghemat waktu kerja 10 kali lebih singkat bila dibandingkan dengan cara manual, jarak tanam dapat diatur dengan penyetelan (setting) pada kuku penanam (planting claw) dengan jarak tanam yang paling ideal 30 x 18 cm, hasil uji coba transplanter pada beberapa daerah menunjukkan dapat meningkatkan hasil 10 – 15 % per ha di lahan sawah beririgasi. Untuk luasan 1 ha penggunaan alat tanam padi ini hanya memerlukan waktu ± 5 jam dengan 3 orang tenaga kerja dan hanya memerlukan bahan bakar (bensin) 4,5 liter.
Penyusun : Sundari, SST
Sumber Data
Ekaningtyas dan Suhendrata,BPTP Jawa Tengah. 2013

Tanggal Artikel : 11-12-2014

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Peningkatan Intensitas Tanaman Padi Di Lahan Tadah Hujan
  2. Indo Jarwo Transplanter, Mesin Tanam Padi Sistem Legowo
  3. Pengendalian Hama Dan Penyakit Padi Tabela
  4. Manfaat Beras Merah Bagi Kesehatan