Materi Penyuluhan >> Hortikultura >> Tanaman Sayuran >> Bawang Merah

HAMA UTAMA BAWANG MERAH DAN PENGENDALIANNYA SECARA ORGANIK

Sumber Gambar:


Sumber gambar:
Hand book of vegetable pest
Tanaman bawang merah dibudidayakan untuk diambil hasil umbinya dan akan digunakan sebagai bumbu masak atau lansung dikonsumsi sebagai lalap atau campuran acar. Untuk itu, tanaman bawang merah harus tumbuh sehat dan normal agar menghasilkan umbi bermutu. Umbi bermutu tersebut agar aman dikonsumsi, tanaman bawang merah yang terserang hama tanaman perlu dikendalikan tanpa bahan kimia yang disebut pengendalian organik.
Berikut diinformasikan pengendalian secara organik untuk hama tanaman yang sering menyerang tanaman bawang merah.
1. Hama ulat grayak (Spodoptera exiqua HBN sin. Laphygma exiqua HBN)
Hama ini termasuk ulat pemakan segala macam tanaman (polyphage). Ulat muda berwarna hijau rumput dan ulat tua berwarna hijau atau cokelat dengan garis kekuningan dengan panjang sekitar 25 mm.Gejala serangannya terlihat daging daun dimakan dan meninggalkan bercak putih panjang seperti membran. Serangan yang hebat tanaman bawang merah habis dalam semalan, layu dan mati.

Pengendalian secara organik, antara lain: 1) Kultur teknis dengan penanaman varietas toleran seperti varietas Kuning dan Bima, dilakukan rotasi/pergiliran tanaman selain tanaman inangnya (tanaman inangnya: bawang daun, asparagus, bit, brokoli, bawang putih, kucai, cabai, tomat, kentang, lobak, bayam, kapas, padi, jagung, kacang-kacangan, jeruk dan melon; 2) Mekanis: terutama pada saat umur 7 – 35 hari dilakukan penangkapan ulat dan telur pada malam hari, lalu dimasukkan dalam kantomg plastik dan diikat, kemudian untuk dimatikan; 3) Bersihkan lingkungan lahan dari gulma; 4) Jika ditanam di sawah, sebelum ditanami lahan perlu digenangi selama 24 jam agar ulat dan pupa mati.

2. Hama Kutu thrips
Menyerang saat jarang hujan dan temperatur tinggi dengan kelembaban udara di atas 70%. Gejala yang ditunjukkan pada daun bernoda putih mengkilat seperti perak, kemudian berubah menjadi kecoklatan dengan bintik-bintik hitam, akhirnya daun mati dan mengering.

Cara pengendalian secara organik, antara lain : 1) Ditanam di sawah, sebelum ditanami lahan digenangi dahulu untuk mematikan thrips dan pupa yang ada di dalam tanah; 2) Dilakukan rotasi dengan tanaman bukan tanaman inang Tanaman inangnya: cabai, kentang, cabai, kentang, kubis, tomat, brokoli, wortel, kubis bunga, bayam, mentimun, bawang putih, waluh, kapas, kacang-kacangan, melon, papaya, nenas, dan tembakau); 3) Penanaman dilakukan pada masa peralihan musim kemarau dan musim penghujan; 4) Bersihkan lingkungan lahan dari gulma; 5) Penyiraman pada tanaman yang terserang pada siang hari untuk menurunkan suhu di sekitar tanaman dan menghilangkan nimfa trips yang menempel pada daun; 6) Penggunaan mulsa plastik perak yang dapat memantulkan cahaya matahari, sehingga dapat menghalau trips pada waktu terbang; 7) Memberikan pengairan yang cukup dan menciptakan lingkungan lembab di sekitar tanaman, misalnya mempertahankan permukaan air di parit pada ketinggian 15 – 20 cm di bawah permukaan bedengan dan 8) Tanaman yang telah diserang kutu disemprot dengan insektisida alami.

3. Hama Nematoda umbi
Ditylenchs dipasci (Khun) Filipjen menyerang dengan gejala daun bawang menjadi pucat, terkulai, dan ujungnya mati. Jika menyerang pada saat umbi bawang mulai membesar, umbi menjadi lunak dan bertepung. Serangan dalam penyimpanan umbi menjadi ringan dan agak gembung. Bila lingkungan kurang mendukung, nematoda akan dorman (istirahat) dalam waktu yang lama di dalam tanah atau tanaman yang telah mati.

Pengendalian secara organik, antara lain: 1) Tanamlah umbi yang sehat dan bebas nematoda; 2) Pilihlah lahan yang bebas dari nematoda; 3) Tanamlah kenikir (Tagetes patula, T. erecta) sebelum menanam bawang merah. Setelah berbunga kenikir dicabut dan dipotong kecil-kecil, lalu dipendam secara merata. Kenikir akan mengeluarkan tiophen yang dapat mematikan nematoda.

4. Hama Lalat Penggorok Daun (Liriomyza chinensis)
Gejala yang nampak, daun terdapat bintik-bintik putih dan liang kotoran ulat yang berkelok-kelok. Serangan sejak tanaman umur 1 – 10 hari setelah tanam dan berlanjut hingga fase pematangan umbi (51 – 65 hari setelah tanam). Jika serangan hebat, hamper seluruh daun penuh korokan, sehingga daun menjadi kering seperti terbakar. Ulat penggorok daun dapat masuk sampai umbi bawang. Serangan berat biasanya terjadi pada akhir musim kemarau.

Cara pengendalian organik, antara lain: 1) Penanaman varietas toleran seperti Varietas Filipina; 2) Penggunaan mulsa plastik berwarna perak yang dipasang sebelum tanam, untuk menghalangi ulat yang jatuh dari daun ke tanah untuk berkepompong; 3) Upayakan tanaman tumbuh subur melalui pengairan yang cukup dan pemupukan berimbang; 4) Pengambilan daun terserang untuk dimusnahkan.

 

Penulis: Susilo Astuti Handayani
(Penyuluh Pertanian Pusluhtan)

Sumber informasi:
1. Prospek Pertanian Organik di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2002.
2. Sayuran Organik. Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. 2008.
3. Pedoman Pengendalian OPT pada Komoditas Sayuran Utama. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura. 2008.
4. Pracaya. Bertanam Sayur Organik. Cimanggis-Depok, Jawa Barat. 2009.
5. Berbagai sumber dari Internet.

 

Tanggal Artikel : 08-12-2014

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Meyiapkan Media Tanam Jamur Kuping Yang Baik Dan Benar
  2. Penyakit Utama Bawang Merah Dan Cara Pengendalian Organik
  3. Varietas Bawang Merah Ditanam Di Luar Musim
  4. Megenal Beberapa Jenis Varietas Bawang Merah