Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Pasang Surut

Keragaan Varietas Padi Rawa Pasang Surut meningkatkan Produksi Padi

Sumber Gambar:

Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah rawa pasang surut terdepan yang berhubungan langsung dengan laut lepas dan dipengaruhi pasang surut air laut. Pada tanah yang dipengaruhi air payau, tanah umumnya bereaksi mendekati netral pH 6,5 – 7,5. Luas lahan pasang surut di Indonesia diperkirakan 24,7 juta ha yang sebagian besar terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Dari total luas lahan pasang surut tersebut, 9,53 juta ha diantaranya berpotensi dikembangkan untuk pertanian (Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian, 2007. Lahan rawa pasang surut berpotensi dikembangkan untuk komoditas padi namun untuk meningkatkan produktivitas sebagai sumber produksi padi diperlukan teknologi yang tepat. Salah satu teknologi yang murah untuk diterapkan oleh petani adalah penggunaan varietas unggul. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang memiliki peran nyata dalam meningkatkan produksi dan kualitas hasil komoditas pertanian.
Untuk mengatasi perubahan iklim global, yang mengakibatkan adanya pergeseran musim serta terjadinya iklim yang ekstrim, diperlukan varietas padi yang toleran seperti Varietas Unggul Baru (VUB) Inpara 1 sampai dengan Inpara 5. Teknologi yang diterapkan yaitu : Varietas Unggul Baru (Inpara 1, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Indragiri, Bayuasin), Sistem Tanam (jajar Legowo), Jarak Tanam (20x10x40 cm), Umur Bibit (20 hari setelah tanam), jumlah bibit/lubang (3batang), dosis pupuk: Urea 200kg, SP-36 100 kg, KCL 100 kg. Waktu pemberian pupuk I : 7 HST (1/3 bag Urea, 100 % SP-36 dan KCl), pemberian pupuk II : 45 HST (2/3 bag Urea)
Jumlah anakan aktif yang terbanyak yaitu varietas Inpara 4 sedangkan yang terkecil yaitu Banyuasin. Jumlah anakan produktif berpengaruh langsung terhadap jumlah malai yang dihasilkan. Makin banyak anakan produktif makin tinggi gabah yang akan diperoleh. Jumlah anakan produktif paling banyak dihasilkan pada varietas Inpara 1 (15,67) dan yang paling sedikit varietas Banyuasin (12,25).
Deskripsi padi, tinggi tanaman saat panen varietas Inpara 1 sudah sesuai namun untuk varietas Inpara 3 lebih rendah dari deskripsinya, sedangkan tinggi tanaman varietas Inpara 4, Inpara 5, Indragiri dan Banyuasin sudah mendekati dari deskripsinya.
Keragaan Hasil dan Produksi
Produksi Varietas Inpari 1 – 5 sangat berbeda dari panjang malai, gabah isi dan Produksi yang dihasilkan. Hasil panen yang terendah varietas Inpara 3 (3,03 t GKG ha) , produksi sedang Inpara 1, Inpara 4 dan Indragiri masing-masing (5,60 t GKG ha, 6,36 t GKG ha, 5,05 t GKG ha), dan produksi tinggi varietas Inpara 5 (8,27 t GKG ha) dan Banyuasin (8,44 t GKG ha). Dari keenam varietas yang dikaji pada umumnya menunjukkan hasil yang baik, karena pengaruh curah hujan, kesuburan tanah (pemupukan) yang optimal. Curah hujan yang cukup dapat membantu pencucian tanaman yang terkena resapan air laut disamping itu juga pemberian pupuk yang penuh dapat meningkatkan hasil.
Perbedaan produksi pada keenam varietas tersebut karena dipengaruhi oleh faktor dalam maupun faktor luar dari tanaman itu sendiri. Faktor dalam dari tamanan itu adalah genetika dari tanaman tersebut yang terekspresikan melalui pertumbuhan sehingga diperoleh hasil. Faktor luarnya adalah faktor biotik maupun abiotik yang meliputi unsur – unsur yang menjadi pengaruh pada kualitas dan kuantitas produksi alam, antara lain iklim, curah hujan, kelembaban, intensitas cahaya, kesuburan tanah, serta ada tidaknya hama dan penyakit.

Penyusun : Sundari. SST
Sumber : Umi Pudji Astuti dan Wahyu Wibawa (BPTP Bengkulu)

Tanggal Artikel : 12-09-2014

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Pembuat Sistem Lahan Surjan Untuk Usahatani Padi Di Lahan Pasang Surut
  2. Varietas Unggul Baru Padi Lahan Rawa
  3. Mengoptimalkan Lahan Rawa Lebak Untuk Usahatani Padi
  4. Teknis Persemaian Padi Di Lahan Rawa / Lebak