Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Sawah

Keuntungan dan Kelemahan Sistem Panen Padi Pethekan

Sumber Gambar:

Cara panen pethekan sangat berbeda dengan cara-cara panen yang dilakukan petani pada umumnya. Panen dengan cara ini dilakukan baik di MH maupun MK I pada pertanaman padi gogo. Luas areal pethekan paling banyak berada di Desa Jatipayak, Sumberagung dan Yungyang.
Cara penen pethek dilakukan dalam rangka mengantisipasi : (a) cuaca yang kurang mendukung untuk pengeringan gabah (curah hujan tinggi saat panen), (b) lokasi desa terpencil, sulit dijangkau kendaraan angkutan, (c) tenaga kerja panen terbatas khususnya untuk angkut dan jemur serta (d) serta tempat untuk pengeringan gabah (di rumah petani).
Kebiasaan tanam padi di wilayah Modo menggunakan bibit tanaman umur 25-35 hari, varietas padi yang digunakan antara lain Ciherang, Way Apu Buru dan Inpari 13. Jarak tanam yang digunakan (20x20) cm dengan jumlah bibit sebanyak 2-3 batang. Pupuk yang digunakan Urea 350 kg dan Phonska 350 kg/ha. Jerami tegakan sisa panenan langsung dibenamkan dalam tanah 1-2 minggu sebelum tanam. Produksi padi pada MH maupun MK rata-rata sebanyak 3,5 ton/ha GKP.

Sistem panen padi secara pethekan merupakan panen padi yang dilakukan petani lahan tadah hujan (padi gogo) yaitu dengan cara potong atas ± 4 cm dari leher malai (menggunakan sabit). Setelah rumpun padi dipotong, kemudian sebanyak 3-4 rumpun diikat dengan tali jerami dan selanjutnya diletakkan di atas tunggul jerami yang masih tegak selama 2-3 hari. Apabila setelah 3 hari, tenaga kerja untuk mengangkut panen ke rumah belum tersedia, maka gabah yang masih terikat pada tangkai malai tersebut ditempatkan di galengan. Bila tenaga kerja sudah ada, maka ikatan gabah tersebut diangkut ke rumah. Pengangkutan biasanya dengan dipikul. Gabah dirontok dengan power threser dan kemudian dapat disimpan untuk waktu yang cukup lama sesuai kebutuhan, karena kadar air gabah telah mencapai 17-19% (kering lumbung). Jika gabah belum sempat dirontok, ikatan gabah masih dapat disimpan hingga 1 minggu. Kalau gabah akan di giling, perlu dijemur lagi kurang lebih 4-5 jam (kondisi cuaca terang), setelah itu langsung diselep.
Hasil rata-rata dari 25 rumpun persentasi kerontokan gabah dan kadar air sistem panen pethekan pada varietas Way Apu Buru mencapai 16 %. Dan perbandingan biaya panen antara sistem pethekan dengan sistem panen konvensional (potong bawah dan dirontok langsung dengan pedal thresher . Perbedaan Sistem panen pethekan dan konvensional dengan varietas padi Ciherang semua perlakuan sama kecuali cara panen rumpun padi kalau dengan system pethekan dilakukan dengan potong atas dan cara conventional dilakukan dengan potong bawah, perlakuan setelah panen cara pethekan, rumpun diikat 3-4 dan diletakan pada tunggul jerami. Setelah 2 hari rumpun diangkut/dipikul kerumah. Perontokan gabah dilakukan dengan power thresher. Sedangkan dengan cara konvensional Rumpun dikumpulkan di pinggir sawah. Gabah langsung dirontok dengan Pedal Thresher (pakai mesin)
Dengan harga gabah kering panen Rp 2,800,- kering lumbung Rp 3,200,-

Sistem pethekan mempunyai beberapa kelemahan di bandingkan dengan cara konvensional. Kelemahannya terletak pada adanya faktor keamanan yang mendukung kondisi lapangan. Sebab jika faktor ini diabaikan, maka gabah yang diletakkan di sawah niscaya akan hilang dicuri orang (atau dimakan tikus). Kelemahan kedua adalah kehilangan gabah pada saat panen yang mencapai 16%, sedangkan menurut pustaka kehilangan panen dengan menggunakan sabit hanya mencapai 9.56%. Keuntungan cara pethekan adalah pada biaya panen yang lebih murah sekitar 42.25%, curah hujan yang tinggi pada saat panen tidak mempengaruhi panenan, tenaga kerja yang dibutuhkan sedikit. Ada kemungkinan kehilangan hasil pada proses perontokan gabah lebih kecil dari cara konvensional, karena perontokan selalu dilakukan di rumah. Kadang kala, ketika musim panen, daya tampung lantai jemur menjadi masalah dalam pengeringan padi yang sudah dirontokkan menjadi gabah. Petani punya cara yang unik untuk mengatasinya.

Caranya, saat tiba musim panen, tanaman padi dipotong seperti biasa. Kemudian, setiap 2-3 rumpun diletakkan di atas bekas potongan rumpun (Jawa: singgang) tadi. Setelah dibiarkan 3-4 hari di sawah, hebatnya, tanpa dijemur lagi, gabah hasil "Pethek" dapat disimpan 3-4 bulan di gudang, dengan kadar air 17-20%. Jumlah rumpun yang ditumpuk di atas singgang perlu betul-betul diperhatikan. Sebab, kalau lebih dari 3 rumpun, tumpukan menjadi terlalu lembab dan dapat mengundang penyakit atau bisa mengalami proses pembusukan. Yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan padi yang sudah dipotong. Sebab, potongan yang diletakkan di atas singgang beresiko hilang diambil orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Penyusun : Sundari. SST
Sumber : Nugraha Pangarsa dan Nasimun, BPTP Jatim

Tanggal Artikel : 29-08-2014

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Pemupukan Hara Spesifik Lokasi (phsl) Melalui Hp
  2. Rice Transplanter Dapat Mempercepat Waktu Tanam Bibit Padi
  3. Peningkatan Intensitas Tanaman Padi Di Lahan Tadah Hujan
  4. Indo Jarwo Transplanter, Mesin Tanam Padi Sistem Legowo