Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Serealia >> Kedelai >> Hama, Penyakit, Gulma

Pengendalian Gulma secara Kimiawi pada Kedelai

Sumber Gambar: http://www.google.com

Gulma dapat bersaing secara efektif kira-kira seperempat sampai sepertiga umur tanaman. Apabila gulma dibiarkan tumbuh diantara pertanaman kedelai dapat mempengaruhi penurunan hasil 18-76%. Dampak negatif gulma yang tidak dikendalikan pada kedelai sama besamya dengan serangan OPT. Pengendalian gulma merupakan suatu usaha untuk menekan populasi gulma sampai jumlah tertentu sehingga tidak menimbulkan kerugian pada tanaman yang dibudidayakan. Kerugian yang ditimbulkan oleh gulma biasanya disebabkan oleh sifat gulma yang mempunyai daya saing tinggi terhadap lingkungan tumbuh yang digunakan secara bersamaan. Komponen teknologi pengendalian gulma termasuk salah satu komponen budi daya yang memerlukan biaya tinggi. Usaha pengendalian telah dilakukan dengan berbagai cara, namun belum menuntaskan masalah kehadiran gulma di lapang. Banyak faktor yang masih perlu diteliti seperti sifat setiap jenis gulma, pengelolaan tanaman, kesuburan tanah, dan iklim.

Idenlifikasi gulma yang benar merupakan langkah awal untuk menentukan cara pengendalian yang benar. Selama ini, pengendalian gulma yang sering dilakukan oleh petani adalah secara manual yaitu disiang dengan tangan tanpa alat atau dengan menggunakan alat kored, cangkul kecil, garu.Tentunya pepenyiangan dengan cara ini memerlukan waktu lama. Rata-rata tenaga kerja yang diperlukan untuk menyiangi 1 ha pertanaman kedelai sekitar 40-50 hari kerja orang, namun tergantung kerapatan populasi gulma. Jadi cara ini terbatas pada waktu, ketersediaan tenaga, dan biaya. Di beberapa tempaf tenaga sebanyak ini sulit diperoleh sehingga pelaksanaan penyiangan menjadi tertunda. Agar gulma tidak berpengaruh lebih besar terhadap tanaman budi daya, penyiangan harus dilakukan tepat waktu. Penggunaan herbisida di tingkat petani masih belum difahami dengan benar spesifikasinya sehingga hasilnya kurang efektif. Gulma di lahan pertanian tidak harus selalu dikendalikan dari awal sampai panen. Pengendalian harus dilakukan pada waktu yang tepat, sehingga biaya, waktu, dan tenaga dapat lebih hemat. Waktu yang tepat untuk mengendatikan gulma adalah waktu periode kritis tanaman, yaitu periode di mana tanaman sangat peka terhadap faktor lingkungan. Periode ini biasanya terjadi umur 1/4 atau 1/3 sampai 1/2 umur tanaman. Pada tanaman kedelai, gulma mulai banyak tumbuh kira-kira dua minggu setelah tanam, sehingga pada saat tanaman berumur 2-3 minggu perlu segera dilakukan pengendalian atau biasa disebut dengan tindakan penyiangan gulma. Penyiangan kedua dilakukan 6 minggu setelah tanam atau setelah selesai masa berbunga. Di Indonesia, pengendalian gulma pada tanaman kedelai masih belum ada kemajuan kecuali munculnya beberapa herbisida baru di pasaran. Beberapa metode pengendalian gulma pada tanaman kedelai yang telah umum dilakukan petani adalah cara mekanis, cara kimia, rotasi tanaman, penyiapan lahan (olah tanah), cara biologi dan pengendalian gulma secara terpadu. Berikut ini penjelasan pengendalian cara kimiawi.

Herbisida merupakan bahan kimia yang dapat mematikan atau mengh ambat pertumbuhan gulma. Keuntungan dan penggunaan herbisida antara lain dapat menghemat waktu dan tenaga kerja. Penyemprotan herbisida dapat dilakukan satu orang dalam waktu 1-2 han untuk satu hektar, sedangkan apabila dikerjakan dengan tenaga manusia memerlukan tenaga 20-40 orang. Saat penyemprotan dapat disesualkan dengan waktu yang tersedia, mengurangi gangguan terhadap struktur tanah. Penggunaan herbisida yang terus menerus pada lahan pertanian berdampak rnerugikan seperti terjadinya pergeseran gulma dominan, peristiwa resistensi beberapa jenis gulma terhadap herbisida tertentu, gangguan kesehatan pemakai keracunan pada tanaman dan hewan peliharaan. Sebenarnya herbisida untuk tanaman kedelai sudah dikenal oleh petani tetapi tidak berkembang karena penggunaan herbisida dinilai kurang ekonomis untuk tanaman kedelal.

Berdasarkan waktu aplikasi, herbisida dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu: pra tanam (pre planting) yang disemprotkan pada perrnukaan lahan sebelum tanam, biasanya digunakan pada olah tanah minimum, pra tumbuh (pre emergence) yaitu herbisida digunakan sebelum gulma dan tanamam tumbuh misalnya alachior pada kedelai. Aplikasi pasca tumbuh adalah herbisida yang diberikan setelah gulma dan tanaman tumbuh.

Penggolongan herbisida menurut selektivitasnya dibagi menjadi dua yaitu herbisida selektif dan herbisida tidak selektif. Herbisida selektif jika herbisida dapat membrantas jenis gulma tertentu, sedangkan herbisida tidak selektif jika herbisida ini dapat mematikan gulma maupun namanya. Pada umumnya herbisida selektif kurang efektif bila diaplikasikan pada lahan yang sangat beragam jenis gulmanya. Berdasarkan pergerakan dalam tanaman diketahui ada tiga macam herbisida yaitu herbisida kontak, sistemik, dan kontak sistemik. Herbisida bersifat kontak bekerja pada bagian yang terkena semprot saja misalnya daun, yang bersifat sistemik bekerja dengan cara ditranslokasikan dalam jaringan tanaman dan mematikan jangan sasaranya misalnya titik tumbuh dan akar. Herbisida kontak sistemik dapat bekeria melalul kedua cara tersebut di atas. Pemilihan herbisida yang tepat sasaran, tepat dosis dan tepat aplikasi sangat menentukan keberhasilan dan efisiensi pengendalian gulma.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan pada penggunaan herbisida adalah jenis, takaran dan waktu aplikasi harus tepat agar tidak merugikan tanaman yang diusahakan karena herbisida mempunyal spesifikasi daya kerja yang berbeda. beberapa hasil penelitian menunjukkan penggunaan herbisida untuk mengendalikan gulma pada tanaman kedelai cukup efektif. pengguflaan herbisida Glyfosat sebanyak 31/ha secara pra tanam dapat menekan pertumbuhan gulma antara 23,6-58,6%, tetapi hasil ini masih belum menyamai cara manual sebanyak 2 kali penyiangan pada umur 14 hari dan 28 hari. Penyemprotan herbisida berbahan aktif Imazethapyr dan Sulfentrazone satu kali dengan cara yang benar dapat mencegah kehilangan hasil 0,15-0,52 t/ha. Namun pengaruhnya terhadap peningkatan hasil biji belum dapat menyamai cara rekomendasi penyiangan dua kali. Penyemprotan herbisida paraquat sebelum tanam dapat menekan gulma cukup efektif tetapi pengaruhnya terhadap peningkatan hasil biji belum menyamai cara penyiangan manual dua kali.

 

Penyunting: Yulia Tri S

Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id

 

Sumber:

1. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

2. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,1985, Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tanggal Artikel : 22-08-2014

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Pengendalian Gulma Secara Mekanis, Biologis Dan Terpilih Pada Kedelai
  2. Embun Tepung Microsphaera Diffusa, Merugikan Pada Tanaman Kedelai
  3. Hama Pengisap Polong Riptortus Liniaris Fabriccius Pada Tanaman Kedelai Di Musim Kemarau
  4. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Kedelai