Materi Penyuluhan >> Perkebunan >> Tanaman Rempah dan Penyegar >> Kakao

PERKEMBANGAN COKELAT INDONESIA (2)

Sumber Gambar: www.google.com
Penanaman baru yang sebagian besar dilakukan di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Irian Jaya dengan jenis cokelat lindak kemudian menurun jumlahnya pada tahun 1990, karena harga yang terus menurun sejak akhir 1980-an dan adanya kebijakan uang ketat. Pada tahun 1984 beberapa perusahaan mulai menggunakan fasilitas PBSN (Perkebunan Besar Swasta Nasional) cokelat untuk areal pengembanga mencapai 15.000 ha. Walaupun sebagian besar terealisasi pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Beberapa alasan yang menjadi penyebabnya adalah manajemen perkebunan cokelat yang begitu kompleks dan kurangnya sumber daya manusia Indonesia yang mampu menangani perkembangan cokelat skala besar.
Berbeda dengan perkembangan cokelat di perkebunan besar swasta dan PTP, perkembangan cokelat di perkebunan rakyat (terutama di luar Jawa) ternyata amat lambat. Sebagian besar perkembangan cokelat rakyat dibiayai oleh pemerintah daerah. Pembiayaan untuk pengembangan cokelat mula-mula dilakukan oleh Sulawesi Tengah dan Kalimantan Timur yang umumnya berlangsung pada periode 1986-1989.
Setelah tahun 1989: Deregulasi. Beberapa kebijakan yang diambil pada akhir tahun1989 dan awal 1990 telah memberikan pengaruh kuat terhadap perkembangan cokelat di Indonesia, terutama cokelat rakyat. Misalnya, kebijakan untuk mempercepat pembangunan di Indonesia bagian timur (Sulawesi, Maluku, Papua, beberapa bagian Kalimantan dan Nusa Tenggara) telah memacu pengembangan cokelat di wilayah itu.Pada Indonesia bagian timur yang umumnya masih terisolasi, miskin prasarana, dan tidak padat penduduk, perkembangan cokelat memeberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi daripada perkembangan karet dan kelapa sawit. Karet dan kelapa sawit membutuhkan areal yang luas dengan fasilitas tempat pengolahan di dalam lokasi, serta menyerap tenaga lebih besar sehingga tergolong industri skala besar.
Meskipun pada bulan Januari 1990 telah diluncurkan paket deregulasi ekonomi yang dikenal sebgai Pakjan 1990 untuk menghentikan/menguragi subsidi pemerintah, namun pemerintah masih memberikan kesempatan untuk mengunakan fasilitas Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) jika permohonan diajukan sebelum 30 April 1990.
Kebijakan pemerintah tentu saja memberikan gairah terhadap perusahaan yang tidak terlibat dalam usaha perkebunan untuk menggunakan fasilitas ini. Akhirnya dari 1,8 juta ha areal perkebunan yang disetujui menggunakan fasilitas PBSN, 40.000 ha di antaranya untuk pengembangan cokelat. Dampak dari proposal yang hanya dipersiapkan dalam waktu 3 bulan itu adalah sebagian proyek menghadapi masalah pembebasan tanah dan masalah sosial lainnya, sehingga tidak mudah mengembangkan perkebunan cokelat dengan cepat. Pada akhirnya pemerintah mengijinkan proyek-proyek pengembangan cokelat untuk diubah dan/atau direlokasikan untuk tanaman lain. Keadaan kredit macet dalam waktu 3 tahun lalu juga menghalangi bank-bank pemerintah untuk menyetujui seluruh permohonan penggunaan fasilitas PBSN..
Untuk areal perkebunan rakyat Indonesia bagian Timur, Kementerian Pertanian pernah meluncurkan pola pengembangan yang dikenal dengan Pengembangan Perkebunan Wilayah Khusus, dibiayai dengan anggaran rutin APBN. Wilayah khusus yang dimaksud terutama mencakup wilayah Indonesia bagian timur, daerah dataran rendah atau dataran tinggi yang terisolir,lahan-lahan marginal, dan daerah miskin. Pola yang dilaksanakan mulai tahun 1990/1991 ini bertujuan untuk mengantisipasi gangguan yang mungkin timbul dalam upaya mencapai target pemerintah dalam pengembangan perkebunan rakyat.
Melihat dari statistik cokelat Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa peningkatan luas areal penanaman cokelat rakyat pada beberapa tahun, terutama yang berasal dari Program Pengembangan Perkebunan Wilayah Khusus. Walaupun masih terlalu dini untuk menilai keberhasilan program tersebut, namun dianggap program tersebut amat efektif untuk menjangkau te mpat-tempat sulit dan terisolir. (Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertama BBP2TP
Sumber: Seri Budidaya Tanaman; Pedoman Bertanam Coklat, penulis Yrama Widya, Tim Bina Karya Tani)

Tanggal Artikel : 16-12-2013

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Sejarah Penyebaran Coklat
  2. Pemeliharaan Hasil Sambung Samping Pada Tanaman Kakao
  3. Meningkatkan Kesejahteraan Pekebun Kakao
  4. Upaya Penunjang Dalam Rehabilitasi Tanaman Kakao.