Materi Penyuluhan >> Hortikultura >> Tanaman Buah >> Pisang

Peran Penyuluh dalam Peningkatan Pendapatan Petani Pisang Mas Melalui Teknologi dan Informasi Pertanian

Sumber Gambar: www.google.com
Kegiatan peningkatan pendapatan petani pisang mas melalui teknologi dan informasi pertanian tentulah tidak terlepas dari masalah dan tantangan yang telah dihadapi. Masalah teknis yang dihadapi dalam usaha pengelola kelompok dan petani adalah: a) Perlunya mengajak dan membuktikan pada petani produk buah yang berkualitas dari hasil contoh pembrongsongan buah pisang, b). Kesulitan membentuk kelompok agribisnis diwilayah yang sama, c). Tidak mudah menerapkan pembibitan massal untuk memenuhi skala tanam yang lebih luas. Masalah non teknis yang ditemui adalah sulitnya mencari pasar buah dalam bentuk segar dengan skala yang lebih luas, akses permodalan petani pisang masih sulit, petani sebagian telah terjerat dalam sistem ijon dengan pedagang lokal, dan kelembagaan ekenomi petani belum mendapatkan tempat dihati petani.
Tantangan yang dihadapi penyuluhan dalam menggerakkan peningkatan pendapatan petani pisang mas melalui teknologi dan informasi pertanian juga tidak ringan antara lain adalah melakukan Participatory Rural Appraisal (PRA), penyusunan programa penyuluhan desa, pembuatan proposal pembelajaran, memfasilitasi kelompok dalam kemitraan dengan pengusaha, membangun rantai pasok komoditas yang efektip, serta menelaah rantai komoditas.
Peran penyuluh dalam peningkatan pendapatan petani pisang mas melalui teknologi dan informasi pertanian tak luput dari proses pembelajaran oleh petani itu sendiri. Adapun materi teknologinya adalah demplot budidaya pisang mas, selain itu untuk lebih memperdalam kegiatan demplot juga dilakukan workshop dengan topik membangun rantai pasok dan kemitraan yang dihadiri oleh petani dan calon calon mitra (perusahaan yang usahanya dominan komoditas pisang mas).
Proses bembelajaran dimulai dari penentuan masalah yang digali dari kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang telah dilakukan unit pengelola kelompok tani dan Tim Penyuluh, akar permasalahan yang telah berhasil diidentifikasi adalah produksi dan kualitas buah pisang rendah, harga buah pisang rendah dan modal petani yang kurang. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu diatasi melalui kegiatan pengujian pembrongsongan buah pisang hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, perguruan tinggi, praktisi dan petani sukses yang yang dibimbing tenaga peneliti dan penyuluh pertanian.
Dalam melakukan kegiatan pembelajaran peningkatan produksi dan mutu kualitas buah pisang, unit pengelola kelompoktani membuat alat pembrongsongan buah pisang menggunakan bahan Polythylene biru, karung bekas, atau plastik putih dengan ketebalan 0,03-0,04 mm, panjang pembrosonggan sekitar 100 cm dengan diameter 80 cm. Adapun cara melakukannya yaitu dengan menyiapkan karung/plastik yang sudah diolah siap dengan talinya dibagian atas atau bawah lubang kantong (dijahit melingkar dan tali mudah untuk dikencangkan. Kemudian memilih tanaman pisang emas yang sudah berbuah selanjutnya dilakukan pembrongsongan dengan cara memasukkan kantong plastik/karung ke buah pisang/jantung pisang yang sudah mulai merunduk, kemudian ditarik talinya sehingga terikat dibagian pangkal tandang/jantung pisang. Secara berkala perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencegah tersangkutnya seludang/sisiran-sisiran bunga pisang yang sudah mulai rontok.
Setelah ditemukan teknologi pembrongsongan pisang emas dan hasilnya dapat meningkatkan produksi dan mutu pisang maka dilakukanlah demplot teknis dengan tujuan untuk merekrut dan menarik banyak petani untuk melihat secara langsung. Adapun tindak lanjut pendalaman materi demplot perlu juga dilakukan melalui workshop-workshop ke daerah sekitarnya.
Rendahnya harga jual pisang ini disebabkan karena petani menjual secara individual atau menjual secara injon dan pada pengepul. Pembinaan pembelajaran pemasaran pisang petani diajak untuk menerapkan demplot manajemen kemitraan yang dipandu oleh penyuluh dan peneliti selanjutnya dihasilkan kesepakatan bersama dalam menjalin kemitraan pemasaran pisang emas dengan harga yang telah disepakati bersama. Untuk kelangsungan rantai pasok komoditas petani diwajibkan bergabung ke dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB). Dalam pelaksanaanya petani secara individu mengumpulkan pisang di pos pengepul desa yang merupakan unit pengepul milik KUB. Selanjutnya unit pengepul akan menyalurkan pisang yang telah terkumpul pada pengepul besar (perusahaan ekspor pisang emas). Demplot manajemen kemitraan selanjutnya harus diterapkan dalam rangka membangun lembaga ekonomi dan untuk mengatasi masalah pemasaran dan permodalan.
Setelah kemitraan dibangun antar KUB dan perusahaan mitra, maka volume penjualan pisang telah mengikat dan terwujudlah keseraian dalam bermitra, sehingga bisa memasok seluruh permintaan pasar baik di dalam maupun diluar daerah setempat. Tidak hanya itu yang didapatkan prgram tersebut juga dapat memperluas areal tanam, bisa mendapatkan modal usaha dari pedagang pengepul besar/perusahaan, sehingga dapat meningkatan pendapatan petani pisang mas secara masal.
Ditulis : Dalmadi BBP2TP Bogor
E-mail : dmdl2011@yahoo.com
Sumber : Pangarsa.N, Mamik Sri Utami,A. Muhariyanto, B.Pamudji. Pembelajaran Partisipatip Berujung Pada Usaha Agribisnis Mandiri
Gambar : http://www.search.ask.com/picdetail selebsexy.com

Tanggal Artikel : 13-12-2013

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Manfaat Tanaman Pisang
  2. Penyiapan Bibit Pisang Anakan Dan Bonggol
  3. Jenis Pisang Unggulan Yang Banyak Dicari Oleh Pasar Internasional
  4. Manfaat Pisang Bagi Kesehatan Dan Pengobatan Penyakit