Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Serealia >> Jagung >> Budidaya

Pengeringan Jagung Yang Baik Mendukung Swasembada Berlanjutan

Sumber Gambar:
Jagung mempunyai peran strategis di sektor pertanian dan dalam perekono- mian masyarakat, dan sekarang sudah mencapai swasembada. Untuk mendukung agar swasembada tetap dipertahankan, tentunya banyak hal yang perlu dilakukan. Salah satu yang perlu diusahakan yaitu penanganan pasca panen. Beberapa kegiatan dalam penanganan pasca panen yaitu pengeringan, karena kegiatan ini erat sekali dengan serangan jamur, jika pengeringan tidak dilakukan dengan baik. Penanganan pascapanen jagung sering menghadapi masalah tingginya kontaminasi jamur penghasil mikotoksin, salah satunya aflatoksin. Aflatoksin merupakan senyawa karsinogen yang dapat menyebabkan kanker hati pada manusia dan ternak bila dikonsumsi secara berlebihan. WHO, FAO, dan UNICEF telah menetapkan batas kandungan aflatoksin dalammakanan sumber karbohidrat maksimum 30 ppb. Bahkan European Commission menetapkan batas maksimum total aflatoksin yang lebih rendah, yaitu 4 ppb untuk produk serealia.

Menurut hasil penelitian, serangan jamur pada biji-bijian yang disimpan dapat menurunkan daya kecambah, mengubah warna, menimbulkan bau apek, menyebabkan susut bobot, mengubah kandungan kimia atau nutrisi, serta menyebabkan kontaminasi mikotoksin.
Pengeringan adalah upaya untuk menurunkan kadar air biji jagung agar aman disimpan. Kadar air biji yang aman untuk disimpan berkisar antara 12-13 %. Pengeringan sampai berkisar 12-13% dimaksudkan agar tahan disimpan lama, tidak mudah terserang hama dan terkontaminasi cendawan yang menghasilkan mikotoksin, mempertahankan volume dan bahan sehingga memudahkan penyimpanan. Pada saat jagung dikeringkan terjadi penguapan air pada biji karena panas dari media pengering, sehingga uap air akan lepas dari permukaan biji jagung di sekeliling tempat pengering.

Pengeringan jagung sebetulnya dapat dilakukan secara alami atau buatan. Secara tradisional jagung dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar air berkisar 9-11 %. Biasanya penjemuran memakan waktu sekitar 7-8 hari. Penjemuran dapat dilakukan di lantai, dengan alas anyaman bambu atau dengan cara diikat dan digantung.
Cara penjemuran jagung yang biasa dilakukan oleh petani adalah 1) dikeringkan langsung bersama tongkol setelah panen, 2) dikeringkan setelah dirontok atau dipisahkan dari janggel, 3) tongkol dikupas dan dikeringkan terlebih dahulu selama 2 hari sampai mencapai kadar air <20%, dirontok kemudian dikeringkan lagi.4) penundaan pengeringan dan jagung langsung dikarungkan kemudian disimpan 1-2 hari kemudian dijual 5) tanpa dikeringkan.
Secara buatan dapat dilakukan dengan mesin pengering untuk menghemat tenaga manusia, terutama pada musim hujan. Terdapat berbagai cara pengeringan buatan, tetapi prinsipnya sama yaitu untuk mengurangi kadar air di dalam biji dengan panas pengeringan sekitar 38-43 derajat C, sehingga kadar air turun menjadi 12-13 %. Mesin pengering dapat digunakan setiap saat dan dapat dilakukan pengaturan suhu sesuai dengan kadar air biji jagung yang diinginkan.

Selama proses pengeringan suhu berpengaruh terhadap beberapa komposisi nutrisi biji jagung. Oleh karena itu agar biji tidak rusak maka proses pemipilan dilakukan setelah kadar air biji mencapai 15-20% dengan kecepatan putaran silinder pemipil 500 RPM. Oleh karena itu agar tidak terjadi perubahan komposisi nutrisi secara drastis, sebaiknya suhu pengering cukup dengan kisaran 40 - 500C, dan jika cuaca memungkinkan lebih baik menggunakan pengering lantai jemur. Kelebihan menggunakan mesin pengering adalah mutu biji lebih baik/bersih karena terhindar dari kontaminasi kotoran dibanding dengan lantai jemur.
Panen jagung pada akhir bulan Maret/April dilakukan dengan cara menebang- an batang dekat permukaan. Tongkol kupas jangan dihamparkan di atas permukaan tanah tanpa dialas terpal/tenda, karena kalau penempatan jagung di atas permukaan tanah pada kondisi kadar air biji masih tinggi (± 32%) berpeluang terinfeksi cendawan disamping itu agar tongkol terhindar dari kotoran.

Pengeringan jagung pipilan berlangsung selama 9-10 jam per 2,5-30 ton sekali proses dengan kadar air 14%. Selama dijemur, tongkol dibalik dengan menggunakan alat bantu agar pengeringan merata. Cara mudah untuk mengetahui pengeringan telah mencukupi adalah bila tongkol jagung saling digesekkan akan terdengar bunyi nyaring.
Penulis: Yulia Tri S (Penyuluh Pertanian Madya)
Email : yuliatrisedyowati@yahoo.co id

Tanggal Artikel : 14-09-2011

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Teknologi Tot (tanpa Olah Tanah) Jagung
  2. Pemupukan Jagung Komposit Di Lahan Kering
  3. Pengembangan Jagung Komposit Di Lahan Kering
  4. Antisipasi Masalah Dalam Penerapan Ip 400 Tanaman Jagung