Materi Penyuluhan >> Perkebunan >> Tanaman Tahunan >> Kelapa Sawit >> Budidaya

PEMBIBITAN UTAMA KELAPA SAWIT

Pembibitan utama merupakan tahap kedua dari sistem pembibitan dua tahap. Pada tahap ini bibit dipelihara dari umur 3 bulan hingga 12 bulan. Pelaksanaan pembibitan utama dan kualitas bibit yang dihasilkan sangat menentukan keberhasilan rencana penanaman di lapangan dan capaian tingkat produksi dikemudian hari.

 

 

Tahapan kegiatan pembibitan utama meliputi:
1) Persiapan dan pengolahan tanah, dilakukan dengan meratakan areal menggunakan builldozer. Tanah dikikis setebal ± 10 cm dikumpulkan ke bagian tepi areal. Tanah hasil kikisan dapat digunakan sebagai media tanam, prosedur pembukaan areal pembibitan sama seperti prosedur pembukaan areal untuk pertanaman kelapa sawit.
2) Kebutuhan air dan instalasi penyiraman, faktor yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan pembibitan adalah kemampuan menyediakan air untuk bibit dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik. Kebutuhan air di pembibitan bertambah sejalan dengan pertambahan umur bibit. Di pembibitan utama, bibit akan tumbuh secara normal bila kebutuhan airnya terpenuhi, yaitu sebesar 12,5 mm (ekivalen hujan) setiap 2 hari. Volume air yang diberikan dengan sistem sprinkler di pembibitan utama harus memenuhi kebutuhan tersebut. Sistem penyiraman dengan sprinkler dianjurkan pada areal dengan ketersediaan sumber air yang cukup. Pada sumber air yang terbatas, penyiraman dianjurkan menggunakan pipa dan selang plastik yang dilengkapi dengan kepala gembor. Sistem ini dapat menghemat pemakaian air sesuai kebutuhan bibit di dalam polybag.
3) Pemasangan pipa untuk penyiraman sistem gembor, pipa primer dipasang di tengah-tengah yaitu di pinggir jalan utama (Ø 6 inch), dari pipa primer ini dibuat cabang-cabang dengan pipa ukuran Ø 2 inch, kemudian dari pipa Ø 2 inch dibuat cabang lagi dengan ukuran Ø 1 inch. Dari ujung pipa ini dibuat kran yang disambung dengan slang plastik yang panjangnya 25 m dan pada ujung selang diberi kepala gembor untuk penyiraman.
4) Penyiraman dengan sprinkler, terdiri dari beberapa komponen utama meliputi jaringan pipa (pipa induk, pipa utama dan pipa distribusi), nozzle sprinkler dan pompa air. Penyiraman dengan sistem sprinkler memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari sistem sprinkler adalah distribusi air yang merata pada setiap bibit dan biaya operasional penyiraman lebih murah. Sedangkan kekurangannya dilihat dari mahalnya biaya investasi, kebutuhan air lebih banyak dan memungkinkan terjadinya penggenangan di areal pembibitan bila sistem drainasenya kurang berfungsi.
5) Pemancangan, dilaksanakan bila pembuatan jaringan pipa penyiraman telah selesai. Pola tanam yang digunakan adalah pola tanam segitiga sama sisi dengan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm. Jarak antar barisan di pembibitan adalah 0,867 x 90 cm = 77,9 cm ~ 78 cm. Pemancangan dapat menggunakan metode empat persegi panjang dengan sisi 90 cm x 156 cm. Empat titik sudut empat persegi panjang dan titik temu diagonalnya adalah titik tanam.
6) Pengisian tanah ke polybag, tanah yang digunakan untuk pengisian p[olybag diusahakan tanah yang kering. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pengayakan. Pengisian tanah dilakukan sampai 3 cm dari permukaan polybag. Rata-rata bobot tanah untuk setiap polybag ± 20 kg. Setelah pengisian tanah, media perlu disiram setiap hari selama 7 - 10 hari sebelum penanaman. Pemilihan jenis tanah sebagai media tanam merupakan faktor penentu untuk keberhasilan pembibitan. Tanah yang berasal dari lokasi dengan tingkat kesuburan yang baik akan sangat membantu pertumbuhan vegetatif bibit.
7) Pembuatan lubang pada polybag, untuk mempercepat dan mempermudah pembuatan lubang pada media tanam di polybag perlu dibantu dengan alat khusus seperti sekop kiecil, tugal, bor dan tanah. Kedalaman lubang disesuaikan dengan ukuran polybag kecil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat persiapan transplanting adalah :
- Media tanam pada polybag perlu disiram air sampai jenuh sehari sebelumnya untuk mempermudah pembuatan lubang;
- Pembuatan lubang dengan alat tanam diusahakan pada bagian tengah permukaan tanah polybag, agar pertumbuhan akar tanaman merata.
- Pada setiap lubang diberi pupuk NPKMg (15-16-6-4) sebanyak 5 gram.
8) Penanaman bibit, kelancaran penanaman bibit ke main nursery bergantung pada kecepatan membuat lubang tanaman di pembibitan utama, kecepatan mengangkut bibit dari pembibitan awal ke pembibitan utama dan kecepatan serta ketrampilan menanam bibit. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam setelah kantong polybag kecil dibuang. Tanah di sekeliling lubang ditekan hingga padat merata, selanjutnya dilakukan penambahan tanah sampai sebatas leher akar. Bagian atas kantong plastik setinggi 2-3 cm dibiarkan kosong sebagai tempat meletakkan pupuk, air ataupun mulsa pada saat diperlukan.
9) Pemeliharaan pembibitan utama meliputi penyiraman, penyiangan, pemberian mulsa, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Kebutuhan air di pembibitan utama 2 ltr/hari/polybag, disiram 2x sehari pagi dan sore hari. Penyiraman dilakukan dengan selang berkepala gembor atau sprinkler, bila curah hujan >8 mm tidak dilakukan penyiraman. Penyiangan dilakukan di sekitar dan di dalam polybag dengan tujuan membersihkan pembibitan dari vegetasi selain bibit kelapa sawit dan mencegah terbentuknya lapisan kedap air di permukaan tanah yang dapat menurunkan kemampuan menerima air siraman. Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi penguapan air maupun pupuk, diberikan dalam bentuk sisa tanaman atau cangkang sawit disekeliling bibit pada saat berumur 2 bulan dengan ketebalan 1-2 cm. Pemupukan menggunakan pupuk majemuk NPKMg (15-15-6-4) sampai umur ± 5 bulan dan selanjutnya dipakai pupuk majemuk (12-12-17-2), penambahan unsur lain jika terdapat gejala defisiensi. Beberapa hama umum yang dijumpai adalah Kumbang Apogonia, belalang dan ulat api, keong dan tikus. Pengendalian kumbang Apogonia, belalang dan ulat api dilakukan dengan menyemprotkan Sevin 0,15% (1,5 g bahan aktif/liter air) ketanaman dengan interval 10 hari sekali hingga hama menghilang. Pengendalian tikus dengan racun tikus sedangkan keong secara manual atau menggunakan racun. Sedangkan penyakit yang dijumpai adalah penyakit daun Anthracnosa dan Culvularia. Pengendalian Curvularia dilakukan melalui penyemprotan fungisida Kaptafol 0,2% dengan rotasi 2 minggu. Kegiatan pengendalian tidak menggunakan fungisida yang mengandung tembaga (copper), air raksa (mercury) dan timah.
10) Seleksi bibit, dilaksanakan bertahap pada umur bibit 4 bulan, 8 bulan dan saat akan dipindahkan ke lapangan(12 bulan), karena munculnya gejala bibittidak normal sejalan dengan bertambahnya umur. Beberapa faktor yang dapat memperbesar bibit tidak normal antara lain: kesalahan menanam saat pindah tanam dari pembibitan awal ke pembibitan utama, terlalu cepat sehingga terjadi scorching atau terlambat sehingga terjadi penumbuhan meninggi (etiolasi), penyiraman kurang merata, terlalu deras atau air tidak cukup, kesalahan pemberian pupuk, herbisida atau pemakaian obat-obatan serta jarak tanam terlalu rapat.
11) Persiapan bibit untuk penanaman, umur 10-12 bulan bibit siap untuk dipindahkan ke lapangan, pada 15 - 20 hari sebelum diangkut dilakukan pemutusan akar-akar bibit yang menembus polybag dan untuk menjaga kondisi agar tetap baik perlu dilakukan penyiraman yang intensif. Bibit dikelompokkan berdasarkan persilangan, diatur sesuai dengan kapasitas angkut mobil. Bibit diangkut tegak lurus dengan dipegang bagian polybag, bukan bagian daun atau batang untuk menghindari pecahnya tanah dalam polybag dan rusaknya polybag sebelum ditanam. Sebelum diangkut disiram dengan air sebanyak-banyaknya menghindari kekeringan jika beberapa hari setelah ditanam tidak turun hujan.
Disusun kembali oleh : Siti Hafsah Husas
Sumber : Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Kelapa Sawit, Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta, 2006

Tanggal Artikel : 28-01-2011

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Pemeliharaan Penutup Tanah Pada Kelapa Sawit Yang Belum Menghasilkan
  2. Memelihara Kelapa Sawit Belum Menghasilkan Dengan Penunasan Dan Kastrasi
  3. Pemeliharaan Kelapa Sawit Tanaman Belum Menghasilkan (tbm)
  4. Pemeliharaan Penutup Tanah Kelapa Sawit Tanaman Belum Menghasilkan (tbm)