Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Sawah >> Panen dan Pasca Panen

Proses Penggilingan Padi yang Baik (Lanjutan)

Sumber Gambar:
3. Proses Penyosohan Beras

Penyosohan adalah proses pemisahan lapisan testa, aleuron dan perikarp dari butir Beras Pecah Kulit (BPK) sehingga diperoleh beras giling, menir dan bekatul. Diperkirakan bahwa berat bagian testa, aleuron dan perikarp ini sekitar 10% dari BPK. Hasil penyosohan yang berupa beras giling kualitasnya dinyatakan dengan derajat sosoh. Derajat sosoh adalah bagian dari ketiga lapisan testa, aleuron dan perikarp yang terpisahkan dan dinyatakan dalam persen. Derajat sosoh 100% adalah beras giling dimana lapisan testa, aleuron dan perikarp semuanya telah terpisahkan dari BPK, sedangkan derajat sosoh 90% adalah beras giling dimana lapisan testa, aleuron dan perikarp hanya terpisahkan sekitar 90% dan sekitar 10% masih menempel pada beras giling.
Untuk mendapatkan beras giling dengan derajat sosoh tertentu, maka perlu pengaturan pada bandul beban pada mesin penyosoh. Makin tinggi derajat sosoh beras giling yang diperoleh makin berat beban yang dipasang pada mesin penyosoh.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyosohan beras adalah :

a. Sebaiknya Beras Pecah Kulit (BPK) disosoh 2 (dua) kali, pertama menggunakan mesin penyosoh tipe kulit friksi yaitu gesekan antar butiran, sehingga dihasilkan beras yang penampakannya bening. Dalam hal ini bisa menggunakan merk ICHI N 120 kapasitas 1200 kg per jam, dan penyosohan kedua dengan menggunakan mesin penyosoh merk ICHI N 70 kg per jam;
b. Kecepatan putaran untuk menghasilkan beras bermutu adalah 1100 rpm, dengan menyetel gas pada mesin penggerak dan menyetel katup pengepresan keluarnya beras;
c. Proses penyosohan berjalan baik bila rendemen beras yang dihasilkan sama atau lebih dari 65% dan derajat sosoh sama atau lebih dari 95%;
d. Pengelompokan kelas mutu beras dilakukan dengan menambah ayakan beras. Dianjurkan menggunakan alat penyosoh tipe friksi karena menghasilkan kehilangan hasil selama penggilingan terendah (3,14% dibanding alat penyosoh tipe abrasive (3,54%).
Usaha meningkatkan mutu beras hasil giling tergantung dari produk akhir yang diinginkan konsumen. Ada 3 jenis beras yang diinginkan oleh konsumen, yaitu beras bening, beras putih dan beras mengkilap. Untuk memproduksinya diperlukan proses yang berbeda. Untuk pembuatan beras dengan penampakan bening menggunakan alat penyosoh tipe friksi, untuk beras putih menggunakan alat penyosoh tipe abrasive dan untuk beras putih mengkilap menggunakan alat penyosoh sistem pengkabutan.

4. Pengemasan
Pengemas adalah alat yang digunakan sebagai wadah bahan khususnya beras agar beras tidak tercecer-cecer. Pengemas berfungsi (a) sebagai wadah, (b) untuk melindungi beras dari serangan ayam, burung dan tikus, (c) untuk mempermudah pengangkutan. Agar dapat berfungsi seperti tersebut diatas, maka pengemas harus dibuat dari bahan yang kuat, fleksibel dan murah yang sesuai dengan tujuannya. Sebaiknya pengemas harus diberi label antara lain nama varietas beras yang dikemas, klas mutu beras, nama perusahan penggilingan padi (untuk menghindari pemalsuan).
Jika untuk kebutuhan lokal pengemas cukup dengan karung plastik dan jika untuk dipasarkan antar pulau atau provinsi sebaiknya digunakan pengemas rangkap yaitu kantong plastik dirangkap dengan karung plastik.
Setelah pengemas siap, maka beras giling dimasukkan ke pengemas, kemudian di timbang sesuai kapasitasnya misalnya 50 kg, 25 kg atau 10 kg. Beras hasil giling sebaiknya tidak langsung dikemas, sampai sisa panas akibat penggilingan hilang. Untuk kemasan lebih dari 10 kg sebaiknya menggunakan karung plastik yang dijahit tutupnya. Sedangkan untuk yang ukuran 5 kg dapat dengan kantong plastik dengan tebal 0,8 mm. Fakta yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis kemasan adalah kekuatan kemasan, bahan kemasan (sebaiknya bersifat tidak korosif dan tidak mencemari produk beras, kedap udara atau pori-pori penyerapan uap air dari luar tidak mengganggu peningkatan kadar air beras dalam kemasan).

5. Penyimpanan
Tempat penyimpanan beras yang harus diperhatikan adalah :
a. Kondisi tempat penyimpanan harus aman dari pencurian dan tikus, bersih, bebas kontaminasi hama (Caliandra sp. Dan Tribolium sp.) dan penyakit gudang, ada pengaturan aerasi, tidak bocor dan tidak lembab;
b. Sebelum beras disimpan sebaiknya dilakukan pemeriksaan, terhadap kebocoiran kemasan;
c. Karung keras diletakkan diatas bantalan kayu yang disusun berjejer dengan jarak 50 cm untuk pengaturan aerase, tidak langsung kontak dengan lantai untuk menghindari kelembaban, memudahkan pengendalian hama (fumigasi), serta teknik penumpukan beras.

Penulis : Wiwiek Hidajati (Penyuluh Peranian Madya)
Sumber : 1. Modul Teknologi Penanganan Pasca Panen Padi, Agus Setyono, Balai Besar Penelitian Tanaman
Padi, Sukamandi,
2. Prosedur Penggilingan Gabah Sesuai GHP (Usman Ahmad), Departemen Teknik Pertanian, Fateta IPB, 2009

Tanggal Artikel : 27-01-2011

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Panen Dan Pasca Panen Padi Varietas Ir-66
  2. Panen Dan Pasca Penen Padi Varietas Memberamo
  3. Cara Pengeringan Padi
  4. Menyimpan Gabah Dengan Karung Super Irri