Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Sawah >> Panen dan Pasca Panen

Cara Panen Padi Sawah Tadah Hujan (Varietas Mekongga)

Sumber Gambar: http://serikat-tani-nasional.blo..
Pemanenan padi, merupakan kegiatan yang cukup penting dari tahapan budidaya tanaman padi. Meskipun cara bertanamnya benar dan benih yang ditanam menggunakan varietas unggul baru, namun bila penanganan saat panen kurang benar, maka hasil panen tidak maksimal karena menghasilkan mutu gabah yang rendah serta tingkat kehilangan hasil yang cukup tinggi (9,52%). Oleh karena itu pemanenan padi harus ditangani dengan baik.

Untuk mendapatkan hasil panen padi yang baik, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan yaitu : 1) umur panen; 2) peralatan panen; 3) sistem panen padi; 4) pengumpulan hasil panen.

Umur panen
Tanda-tanda umur panen layak dipanen adalah : 1) umur tanaman sesuai dengan diskripsi varietas (varietas Mekongga berumur 116 - 125 hari); 2) bila padi telah masak fisiologis yaitu bila 90 -95 persen gabah dari malai tampak kuning; 3) kadar air gabah 21 - 26 persen (diukur dengan moisture tester.; 4) kenampakan malai.

Cara lain dalam penentuan umur panen padi adalah dengan metode optimalisasi. Dengan meode ini, padi dipanen pada saat malai berumur 30 - 35 hari setelah berbunga rata, sehingga dihasilkan gabah dan beras bermutu tinggi. Bila pemanenan dilakukan pada saat padi masak optimum, maka kehilangan hasil hanya mencapai angka 3,35 persen, sedangkan bila panen dilakukan padi lewat masak 1 - 2 minggu, akan menyebabkan kehilangan hasil sekitar 5,63 persen dan 8,64 persen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi umur tanaman layak panen diantaranya adalah varietas, iklim dan tinggi tempat. Sehingga umur panen dapat berbeda antara 5-10 hari. Padi yang dipanen pada kadar air 21-26 persen memberikan hasil yang optimal dan menghasilkan beras yang bermutu baik.

Peralatan panen
Alat yang dipergunakan untuk panen padi harus mempertimbangkan secara teknis, ekonomis dan sosial. Secara teknis, alat panen (mesin, ani-ani, sabit) yang digunakan harus sesuai dengn jenis varietas yang akan dipanen. Saat ini alat dan mesin panen padi telah mengalami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan makin terbatasnya tenaga kerja untuk panen di pedesaan. Ada beberapa jenis alat pemanen yaitu :
1. Ani-ani
Ani-ani merupakan alat panen padi yang terbuat dari bamboo diameter 10 - 20 mm, panjang sekitar 10 cm dan pisau baja setebal 1,5 - 3 mm. Ani-ani digunakan untuk memotong padi varietas lokal yang berpostur tinggi;
2. Sabit
Sabit merupakan alat panen manual untuk memotong padi secara cepat. Ada dua macam sabit, yaitu sabi biasa dan sabit bergerigi. Sabit digunakan untuk memotong varietas unggul baru termasuk varietas Mekongga dengan cara memotong bagian atas, tengah atau dibawah rumpun tanaman tergantung cara perontokan padinya. Pemotongan dengan cara potong bawah, dilakukan bila perontokan dilakukan dengan cara dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher. Pemotongan dengan cara potong atas atau tengah, dilakukan bila perontokan menggunakan power thresher.
3. Reaper
Reaper merupakan mesin pemanen padi yang sangat cepat. Prinsip kerjanya mirip dengan cara kerja orang panen dengan menggunakan sabit. Mesin ini sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman dan menjatuhkan atau merobohkan tanaman tersebut kearah samping mesin.
4. Reaper binder
Reaper binder merupakan jenis mesin reaper untuk memotong padi dengan cepat dan mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti sapu lidi.

Sistem panen
Untuk memperkecil persentase angka kehilangan hasil, sesuai Pedoman Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan, dari Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, pemanenan dilakukan dengan sistem berkelompok dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Pemanenan dilakukan dengan system beregu/ kelompok
2. Pemanenan dan perontokan dilakukan oleh kelompok pemanen
3. Jumlah pemanen antara 5-7 orang yang dilengkapi dengan satu unit pedal thresher atau 15-20 orang yang dilengkapi satu unit power thresher.

Pengumpulan hasil panen
Untuk mengurangi terjadinya kehilangan hasil, sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengumpulan hasil panen menggunakan alas dari terpal atau plastik. Dengan cara ini, kehilangan hasil panen dapat ditekan antara 0,94 - 2,36 persen.

Perontokan padi
Perontokan padi harus ditangani dengan baik, bila tidak kehilangan hasil sebagai akibat ketidak tepatan dalam melakukan perontokan mencapai lebih dari 5 %. Hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah penundaan perontokan dan alat dan mesin yang digunakan

Penyimpanan gabah basah
Masalah lain yang tak kalah pentingnya adalah penanganan gabah basah hasil panen. Mengingat jumlah lantai jemur terbatas, tidak munculnya sinar matahari karena hujan, sulitnya mendapatkan mesin pengering dan biaya pengeringan cukup mahal yang mengakibatkan petani kesulitan menyimpan gabah sehingga gabah hasil panen mereka menjadi rusak dan berkecambah.

Untuk itu diperlukan teknologi penyimpanan gabah basah yang sederhana, biaya murah dan mudah diterapkan. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi kadar air gabah sampai pada kadar air simpan atau dapat dilakukan juga dengan cara menghambat kenaikan suhu dalam tumpukan gabah dengan menggunakan zat higroskopis.

Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian)
Sumber : Pedoman Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan, Ditjen Pengolahan dan pemasaran Hasil pertanian. tahun 2006; Padi Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan.

Tanggal Artikel : 27-01-2011

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Proses Penggilingan Padi Yang Baik (lanjutan)
  2. Panen Dan Pasca Panen Padi Varietas Ir-66
  3. Panen Dan Pasca Penen Padi Varietas Memberamo
  4. Cara Pengeringan Padi