Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Sawah >> Budidaya

Membudidayakan Padi Gogo Varietas Batutegi

Sumber Gambar:
Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dilakukan sekitar sebulan menjelang hujan turun, semak-semak dibabat, tanggul dicabut, lalu dikumpulkan di pinggir lahan. Untuk memperbaiki tanah agar lebih subur, tanah perlu diberi bahan organik (pupuk hijau, pupuk kandang, kompos) sebanyak 5-10 t/ha.

Pada budidaya padi gogo, ada beberapa cara dalam mengolah tanah. Diantaranya:
1. Olah Tanah Sempurna (OTS) yang dilakukan dengan mencangkul atau ditraktor merata diseluruh areal lahan.
2. Olah Tanam Minimum (OTM), pada cara ini tanah yang diolah hanya pada bagian (alur) yang akan ditanami padi. Cara ini ada yang menyebutnya olah jalur.
3. Tanpa Olah Tanah (TOT), pada cara ini, lahan hanya dibersihkan dari gulma/rumput.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan setelah musim hujan tiba dan sudah stabil atau mencapai 60 mm/10 hari, biasanya terjadi antara bulan Oktober sampai bulan Nopember. Berikut cara penanaman padi gogo:
1. Lahan ditugal sedalam 3-5 cm dengan menggunakan cara tanam jajar legowo dengan jarak tanam (30 cm X 20cm X 10 cm ).
2. masukkan 4-5?? benih/lubang, kemudian tutup kembali menggunakan tanah disekitar lubang tanam.
3. Benih yang dibutuhkan untuk luas lahan 1 ha adalah 40 kg.
4. Untuk lokasi baru yang banyak terdapat ulat grayak, uret, dan lalat bibit, benih perlu dicampur dengan insektisida butiran Furadan atau Dharmafur dengan takaran 2 kg/20 kg benih.

Penanaman padi gogo dapat dilakukan dengan ditumpangsarikan dengan tanaman lain. Kentungan ditanam dengan sistem tumpang sari adalah:
1. Persiapan tanam dan pemeliharaan tanaman pokok
2. Residu pupuk dan tambahan bahan organik
3. Tegakan tanaman pokok lebih baik
4. Membantu masyarakat sekitar perkebunan/hutan
5. Mengurangi penjarahan dan kebakaran hutan
6. Penggembalaan bebas dapat dikurangi, karena ternak dikandangkan, adanya penambahan pupuk kandang, serta terjadi substitusi pupuk an-organik.

Memupuk

Untuk mempertahankan dan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sebaiknya dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang akan diberikan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi hara tanah dan kebutuhan tanaman. Untuk menentukan kebutuhan unsur Nitrogen dapat dilakukan dengan menggunakan Bagan warna daun (BWD). Nilai pembacaan BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih tepat sesuai dengan kondisi tanaman.

Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif, 21-28 HST, hari setelah tanam) dan pemupukan ketiga (tahap primordia, 35-40 HST).
Pembacaan BWD adalah sbb:
• Apabila warna daun berada pada skala 3 BWD, gunakan 75 kg urea/ha bila tingkat hasil 5 ton/ha GKG. Tambahkan 25 kg urea untuk kenaikan setiap kenaikan 1 ton/ha
• Apabila warna daun mendekati skala 4 BWD, gunakan 50 kg urea/ha bila tingkat hasil 5 ton/ha GKG. Tambahkan 25 kg urea untuk kenaikan setiap kenaikan 1 ton/ha.
• Apabila warna daun pada skala 4 BWD atau mendekati skala 5 BWD tanaman tidak perlu dipupuk N bila tingkat hasil 5-6 ton/ha GKG. Tambahkan 50 kg/ha urea jika tingkat hasil di atas 6 ton/ha

Cara pemberian pupuk:
• Urea diberikan ½ bagian pada saat tanaman berumur 14 hari setelah tugal bersama dengan keseluruhan takaran SP36 dan KCl.
• Sisa urea diberikan saat tanaman berumur + 40 hari setelah tugal.
• Pemberian pupuk disertai dengan penyiangan.
• Seluruh pupuk diisikan dalam larikan yang dibuat sepanjang baris tanaman pada saat tanah dalam kondisi lembab, kemudian tutupkembali dengan tanah atau dengan cara tugal pada jarak + 5 cm dari lubang tanam sedalam 7 cm.

Menyiang
Menyiang sangat penting dilakukan, penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 3 minggu, penyiangan kedua dan seterusnya tergantung kondisi gulma. Penyiangan dilakukan dengan mencabut atau membuang gulma yang tumbuh dalam pertanaman atau sekitar areal tanaman.

Mengendalikan Hama Penyakit
Untuk mengendalikan hama penyakit, dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Diantaranya dengan penanaman serempak pada areal minimal 50 ha, menanam varitas yang tahan hama penyakit utama, pertanaman selalu bebas dari gulma (bersih), serta menghindari penggunaan pupuk yang berlebih.
Varietas Batutegi merupakan salah satu varietas yang tahan terhadap Tahan terhadap blas daun, blas leher, bercak daun coklat.
Beberapa hama dan penyakit yang biasa menyerang pertanaman padi gogo adalah lalat bibit, penggerek batang dan hama lundi. Pada pertumbuhan lebih lanjut, hama penggerek batang dan penggulung daun. Bila tanaman sudah mulai keluar malai hama yang sering menyerang adalah hama kepik hijau dan walang sangit. Adapun untuk mengurangi hama yang muncul di lapangan, perlu melakukan monitoring yang teratur agar keberadaan hama dan penyakit sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dapat menggunakan pestisida yang sesuai.

Panen dan Pasca Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman telah masak fisiologis, yang ditandai 95% gabah berwarna kuning. Cara pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan ani-ani, atau dengan cara digebot. Bila pemanenan dengan cara digebot dengan memakai perontok banting, gunakan alas cukup lebar untuk menghindari kegilangan hasil.
Jemur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali. Pada musim hujan, gunakan pengering buatan dan pertahankan suhu pengering 500C untuk gabah konsumsi atau 420C untuk mengeringkan benih. Pengeringan dilakukan sampai kadar air gabah mencapai 12-14% untuk gabah konsumsi dan 10-12% untuk benih. Gabah yang sudah kering dapat digiling dan disimpan.

Penulis :
Ume Humaedah
Calon Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Sumber tulisan:
http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_varietas&controller=Profil&task=detail&id=29&Itemid=81?=in [ahad, 22 Februari 2010; pukul 11.21 WIB]

Lalu Wirajaswadi, 2005. Perbaikan Teknologi Bertanam Padi Googo. http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ntb0501.pdf [Senin, 1 Maret 2010; pukul 13.00 WIB]

Mezuan, Iin P. Handayani, Entang Inoriah. 2002. Penerapan Formulasi Pupuk Hayati untuk Budidaya Padi Gogo. http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2002/27.PDF [Ahad, 22 Februari 2010; pukul 11.28 WIB]


Toha M. Husain, 2008. Pengembangan dan Peningkatan Produktivitas Padi Gogo melalui Inovasi Teknologi dan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu.

Suprihatno, B., et al, 2007. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian.

Tanggal Artikel : 27-01-2011

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. “budidaya Padi Unggulan” Varietas Ciherang
  2. Budidaya Padi Varietas Ir-66
  3. Intani-1 Dengan Sistem Tanam Legowo 2 : 1
  4. Teknik Pengolahan Lahan Sawah Untuk Padi Hibrida Intani-1