Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Pasang Surut

BUDIDAYA PADI RAWA PASANG SURUT SISTEM TANAM PINDAH

Sumber Gambar: BB Padi, litbang Pertanian.go.id

Pengembangan padi di lahan rawa pasang surut merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan peningkatan produksi padi yang makin kompleks. Dengan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), peningkatan produktivitas dan produksi padi di lahan rawa pasang surut, serta peningkatan pendapatan petani dapat tercapai.
Potensi lahan rawa pasang surut sebesar 9,25 juta ha, diantaranya 5,29 juta ha telah dimanfaatkan (eksisting), dan 4,0 juta ha yang masih belum dimanfaatkan. Dengan optimalisasi lahan baik berupa ekstensifikasi, intensifikasi, maupun diversifikasi maka dapat dihasilkan jutaan ton gabah padi dan tanaman pangan lainnya.
Budidaya padi di lahan rawa pasang surut dihadapkan pada keragaman sifat fisika-kimia lahan berupa kesuburan dan pH tanah yang rendah, zat beracun (aluminium, besi, hidrogen sulfida dan natrium), dan lapisan gambut, kekeringan/genangan air dan intrusi air asin. Permasalahan pada lahan pasang surut tersebut terutama berpangkal pada lapisan pirit atau bahan sulfidik yang bila mengalami oksidasi dan menimbulkan proses pemasaman serta racun. Perlunya jaringan tata air yang baik serta pemberian bahan ameliorasi kapur sebagai upaya perbaikan kemasaman lahan.
Budidaya padi melalui pengelolaan tanaman terpadu di lahan pasang surut dapat menggunakan sistem tanam pindah atau sistem tanam benih langsung. Aspek yang harus diperhatikan dalam budidaya padi pasang surut dengan menggunakan sistem tanam pindah adalah:
1) Penggunaan benih. Varietas benih yang digunakan sebaiknya verietas unggul bermutu yang mempunyai potensi hasil tinggi, toleran keracunan besi dan tahan terhadap penyakit blast serta daya tumbuh >80% . Varietas benih unggul untuk lahan rawa pasang surut diantaranya adalah: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6, Inpara 7, Inpara 8, Inpara 9, Margasari, Indragiri, Martapura dan Banyuasin.
2) Persiapan lahan. Persiapan lahan untuk pengembangan padi lahan pasang surut diantaranya: melakukan aplikasi herbisida berbahan aktif glyphosate dengan dosis 4-5 lt/ha, satu minggu sebelum olah tanah. Olah tanah dapat menggunakan traktor (bajak singkal/modifikasi), dilanjutkan rotary atau glebek. Untuk lahan pirit dangkal (< 50 cm), olah tanah tanpa bajak singkal. Selanjutnya aplikasi amelioran (kapur dolomit sebanyak 0,5 t/ha) sebelum atau saat pengolahan tanah. Amelioran lain seperti arang sekam dapat ditambahkan sesuai ketersediaan.
3) Persemaian. Penggunaan benih padi lahan rawa pasang surut dengan sistem pindah sebanyak 25 kg/ha, dengan luas lahan pesemaian sekitar 300 m2. Persiapan bedengan pesemaian dengan lebar 1-2 m, tinggi 15-20 cm dan jarak antar bedengan 30 cm satu minggu sebelum semai. Menggunakan 500 g/m2 pupuk kandang atau kompos dan pupuk urea sebanyak 5 gram/m2 dengan cara dibenamkan. Pemberian aplikasi insektisida granule di pesemaian untuk mencegah penyakit dipersemaian. Perendaman benih selama 24 jam dan pemeraman selama 24 jam, serta penyebaran benih di bedengan secara merata. Umur benih di persemaian diusahakan tidak lebih dari 25 hari setelah sebar.
4) Tanam Pindah. Penanaman padi lahan rawa pasang surut dengan sistem pindah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: a). Tanam pindah manual dengan jumlah bibit 2-3 / lubang. Menggunakan jarak tanam sistem legowo 2:1 (25cm x 12,5cm) x 50 cm menggunakan tali atau caplak untuk memudahkan penanaman. Melakukan penyulaman menggunakan bibit dari pesemaian yang sama. b). Tanam Pindah dengan menggunakan mesin transplanter menggunakan indo-jarwo dengan jarak tanam sistem legowo 2:1 (25 cm x 12,5 cm) x 50 cm.
5) Pengendalian Gulma. Penyiangan pada sistem barisan/legowo dilakukan antar barisan 15-20 HST secara manual atau menggunakan gasrok atau power weeder jika tersedia, atau menggunakan herbisida selektif pascatumbuh, bispyribac sodium, diaplikasikan sekitar 14 hari setelah tanaman tumbuh dengan takaran sesuai anjuran.
6) Pengendalian tikus. Sinkronisasi waktu tanam dalam satu hamparan (150 ha), dalam jangka waktu maksimum 2 minggu. Lebar pematang maksimal 30 cm dan mengurangi vegetasi tanaman padi di pinggiran lahan. Dapat menggunakan sistem Trap Barrier System (TBS). dengan cara membuat parit dengan lebar ±50cm. Menggunakan perendaman, penggalian, fumigasi, atau mercon tikus di sarang tikus. Serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
7) Pengelolaan Hara Tanaman. Gunakan perangkat uji tanah rawa (PUTR), untuk menentukan kebutuhan pupuk, atau menggunakan anjuran umum pemupukan: 200 kg NPK/ha + 150 kg Urea/ha. Pupuk NPK diberikan seluruhnya pada umur 0 – 10 hari setelah tanam, pemberian pupuk urea 50% pada umur 24-27 hari setelah tanam dan sisanya diaplikasikan pada 43-47 hari setelah tanam..
8) Pengelolaan Air Mikro (TAM). Tata air mikro menggunakan kombinasi sistem aliran satu arah dan tabat konservasi (SISTAK) menggunakan pintu stoplog. Kemalir atau parit kecil dibuat pada petakan dengan jarak antar kemalir 3 - 6 m (bila kedalaman lapisan pirit < 50 cm) dan 6 – 9 m (bila kedalaman lapisan pirit 50 – 100 cm). Pengairan sawah dilakukan dengan memasukan air saat puncak pasang dan mengeluarkan air pada saat air surut.
9) Pengendalian Hama dan Penyakit. Perlunya pemantauan populasi hama atau serangan penyakit, agar dapat dikendalikan. Gunakan pupuk N secukupnya, karena penggunaan N secara berlebihan dapat memperparah serangan hama dan penyakit. Pemberian Fungisida, bakterisida dan insektisida yang tepat saat dibutuhkan. Perlu dipertimbangkan cara pengendalian lokal yang terbukti efektif, contohnya : penanaman purun tikus (Eliocharis dulcis) untuk mengendalikan penggerek padi di lahan rawa tanah dan air masam.
10) Panen dan Penanganan Pascapanen. Panen dilakukan saat 80-90% gabah telah masak atau telah bewarna kuning keemasan. Panen dapat menggunakan power threaser atau mini-combine harvester. Pengeringan dapat menggunakan lantai jemur atau di atas terpal/plastik atau menggunakan mesin pengering jika tersedia. Pengeringan padi sampai batas kadar air aman untuk digiling, yaitu 14%, sedangkan untuk disimpan/benih penyimpanan dilakukan dengan kadar air 12%.
Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan)

Sumber:
Noor,M. dan Rahman, A. 2015. Biodiversitas dan kearifan lokal dalam budidaya tanaman pangan mendukung kedaulatan pangan: Kasus di lahan rawa pasang surut. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Kalimantan Selatan.
Busyra,B.S., Andri, Endrizal. 2014. Optimalisasi Lahan Sub Optimal Rawa Pasang Surut Melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu Dan Peningkatan Indek Pertanaman. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi.
Hutahaean,L., Ananto E.E., Raharjo,B. 2015. Pengembangan Teknologi Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut Dalam Mendukung Peningkatan Produksi Pangan: Kasus di Sumatera Selatan. IAARD Press n

Tanggal Artikel : 20-12-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Selamatkan Rawa Melalui Program Serasi
  2. Keragaan Varietas Padi Rawa Pasang Surut Meningkatkan Produksi Padi
  3. Pembuat Sistem Lahan Surjan Untuk Usahatani Padi Di Lahan Pasang Surut
  4. Varietas Unggul Baru Padi Lahan Rawa