Materi Penyuluhan >> Perkebunan >> Tanaman Rempah dan Penyegar >> Kakao

Meningkatkan Kesejahteraan Pekebun Kakao

Sumber Gambar: https://1.bp.blogspot.com/

Cokelat merupakan produk yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Produk ini dapat dijumpai dalam berbagai bentuk makanan dan minuman seperti permen cokelat, cokelat batangan, minuman cokelat, cokelat bubuk sebagai bahan kue dan roti, hingga produk kecantikan seperti masker dan lulur cokelat. Produk tersebut dibuat dengan bahan dasar biji dari buah kakao yang relatif mudah didapatkan di Indonesia. Dengan demikian kakao merupakan bahan baku makanan yang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi dan saat ini sudah mencapai pasar internasional.
Perkebunan kakao terdiri dari 87% perkebunan kakao rakyat, 6% perkebunan negara dan 7% perkebunan swasta besar. Penikmat kakao tidak jarang adalah orang yang paling kaya di muka bumi, namun banyak petani kakao di Indonesia tidak sejahtera. Ketidaksejahteraan petani ini diantaranya disebabkan oleh rendahnya mutu dan produktivitasnya. Mutu dan produktivitas yang rendah ini diantaranya disebabkan karena kelembagaan yang lemah. Dengan kelembagaan yang lemah, maka petani akan sulit terkoneksi langsung dengan industri cokelat. Secara individu pekebun hanya akan menghasilkan biji kakao dalam jumlah sedikit sehingga pengiriman langsung ke industri cokelat menjadi tidak efisien. Kondisi demikian menyebabkan tidak jarang pekebun menjual biji kakaonya kepada pengepul yang tidak mensyaratkan mutu terbaik. Dengan demikian maka petani juga tidak mengutamakan mutu, yang penting dapat segera mendapatkan uang, sementara pasar dunia sangat mengutamakan mutu.
Permasalahan lain yang menyebabkan pekebun kakao kurang sejahtera yaitu banyak pekebun yang mengelola kebun kakao dengan luasan yang minim sehingga tidak memenuhi skala ekonomi. Pengelolaan kebun yang tidak memenuhi skala ekonomi akan tidak afisien, sehingga keuntungan yang diperoleh pekebun semakin kecil. Bila dilihat dari pengelolaannya, pengelolaan kebun kakao juga tidak dilakukan sesuai standar teknis dan masih fokus pada satu sumber pendapatan. Dari berbagai permasalahan tersebut, diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun kakao.
Strategi untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun kakao.
1. Pengelolaan perkebunan kakao rakyat dilakukan secara kolektif melalui kelembagaan ekonomi. Dengan pengelolaan secara kolektif melalui kelembagaan ekonomi, maka luas areal petani yang relatif sempit dapat dikelola dalam basis kluster. Dengan pengelolaan secara kolektif maka akan lebih efisien dalam pengadaan saprodi, pelaksanaan budidaya, pengolahan dan pemasaran. Disamping itu, dalam pengelolaan kebun harus dilakukan sesuai dengan teknologi anjuran sehingga produktivitas dapat lebih meningkat. Untuk menjamin diterapkannya teknologi anjuran, diperlukan seorang pendamping yang menguasai budidaya sebagai supervisor. Buat pekebun yang tidak bisa mengelola kebunnya dapat dilakukan oleh tenaga yang ditugaskan merawat kebun;
2. Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat. Pekebun kakao dihimpun dalam suatu lembaga ekonomi masyarakat, seperti Lembaga Keuangan Mikro, koperasi dan sebagainya. Dengan adanya Kelembagaan ekonomi masyarakat, maka petani kakao dapat menghimpun dana melalui simpanan pokok, simpanan wajib dan simpana sukarela. Jika diasumsikan dalam satu desa ada 200 KK, maka , jika simpanan anggoya dapat berjalan secara berkesinambungan hingga masing-masing dapat menabung satu Juta rupiah, maka sebuah kelembagaan petani memiliki dana hingga Rp. 200 juta. Dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan posisi tawar pekebun terhadap perusahaan pupuk atau perbankan untuk memberikan bantuan kredit. Dengan demikian maka pekebun memiliki modal kerja untuk merawat kebun, meningkatkan akses terhadap sarana produksi dan akses terhadap pasar.
3. Pengembangan diversifikasi usaha. Diversifikasi usaha bisa diwujudkan dengan mengembangkan sistem tumpangsari dengan tanaman semusim dan tanaman tahunan lain, agroindustri maupun agrowisata. Tumpangsari adalah suatu bentuk pertanian campuran (poly culture) berupa pelibatan dua atau lebih jenis tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan sehingga tumpangsari menjadi salah satu metode memaksimalkan lahan. Dengan tumpangsari maka pekebun akan dapat memaksimumkan pendapatan dan meminimumkan resiko. Dengan sistem tumpangsari maka pekebun akan dapat memperoleh keuntungan, diantaranya adalah pekebun akan memperoleh penghasilan dari tanaman semusim sebelum tanaman kakao berproduksi, akan memperoleh pendapatan tambahan dari tanaman tahunan yang ditumpangsarikan, dan pekebun akan dapat memanfaatkan limbah tanaman semusim sebagai pakan ternak, pupuk hijau dan mulsa kakao. Dengan agroindustri petani bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari produk turunannya selain dari hasil penjualan biji, sehingga akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi, dan dengan agrowisata, pekebun akan dapat mendapatkan tambahan penghasilan dari turis. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusluhtan).
Sumber:
1. Mengenal Rantai Pemasaran Biji Kakao di Indonesia oleh Fatkhiyah Rokhmah, SP., M. Sc. 2017
2. https://www.kakao-indonesia.com/index.php/news-feeds

 

 

 

 

 

 

Tanggal Artikel : 05-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Upaya Penunjang Dalam Rehabilitasi Tanaman Kakao.
  2. Perkembangan Cokelat Indonesia (2)
  3. Sejarah Penyebaran Coklat
  4. Pemeliharaan Hasil Sambung Samping Pada Tanaman Kakao