Materi Penyuluhan >> Perkebunan >> Tanaman Tahunan >> Pala

Pengembangan Agroindustri Minyak Pala

Sumber Gambar: 2. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/03/20/jalan-panjang-dan-sejarah-pala-dari-kepulauan-banda

Pala sebagai tanaman lokal Indonesia memiliki kegunaan yang sangat banyak. Indonesia sebagai penghasil pala terbesar di dunia dengan kontribusi senilai 75 %. Tingginya permintaan pala disebabkan adanya peningkatan penggunaan minyak pala. Perbedaan menjual buah pala dengan minyak pala sangat tinggi menyebabkan tingginya keinginan para industri pala untuk menjual dalam bentuk minyak. Saat ini sudah banyak agroindustri yang mulai menjual dalam bentuk minyak. Permintaan dalam bentuk minyak tinggi juga meningkatkan persaingan usaha antar petani yang menjual produk tidak dalam bentuk buah. Mutu yang tinggi menjadi prasyarat yang harus dipenuhi. Mutu sangat berkaitan erat dengan kepuasaan pelanggan. Keselarasan antara yang diproduksi dan permintaan pelanggan adalah kunci tercapainya mutu produk yang dijual. Minyak pala dianggap memiliki mutu tinggi bila telah memenuhi standar produk yang menjadi penilaian atas produk yang dihasilkan. Usaha pencapaian standar mutu pala harus memperhatikan setidaknya 2 hal, yaitu: (1) manajemen mutu produk; dan (2) penerapan manajemen mutu.
Manajemen mutu produk
. Produksi pala harus diperhatikan, yaitu: daging, fuli, tempurung, dan biji pala. Biji pala memiliki kegunaan sebagai rempah-rempah dan minyaknya dapat dihasilkan dengan melakukan penyulingan. Dalam proses pencapaian standar mutu minyak pala dipengaruhi oleh: (1) budidaya pala melliputi: varietas, penanaman, pemupukan, waktu panen; dan (2) faktor non budidaya seperti: penanganan bahan, penyulingan, pengemasan. Biji pala dapat menghasilkan ± 12 % minyak dan fuli pala dapat menghasilkan ± 7-18 %. Upaya pencapaian standar mutu SNI 06-2388-2006 mensyaratkan minyak tidak berwarna, terdapat bau khas pala, bobot jenis, indek bias, kelarutan dalam etanol. Hal-hal yang harus diperhatikan dengan baik yaitu: (1) melaksanakan pensortiran buah dan jenis pala bila mendapatkan dari daerah yang berbeda (buah muda, tua, sehat dan berpenyakit); (2) penanganan pasca panen yang tidak hiegienis; (3) pengeringan pala yang kurang baik; (4) kadar air masih diatas 12%; dan (5) bahan dan pengemasan yang tidak baik. Upaya-upaya tersebut penting dilakukan agar pala tidak terserang jamur Aspergillus Flavus yang menghasilkan aflatoxin.
Produksi minyak pala Indonesia ditujukan untuk ekspor ke manca negara. Jaminan produk minyak yang dihasilkan telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan menjadi sangat penting. Penerapan manajemen mutu produk diharapkan tidak hanya memperbaik sisi teknis namun strategi dengan meningkatkan produktivitas dan kualitas dari minyak pala; (2) pengendalian kualitas yang terdiri dari: evaluasi kinerja pencapaian mutu dengan membandingkan senjang akibat yang ditimbulkan dalam proses pelaksanaan pencapaian hasil produk; dan (3) peningkatan kualitas yang terdiri dari langkah-langkah diperlukan dalam mencapai pemenuhan standar mutu produk.
Penerapan manajemen mutu
. Agroindustri pala menerapkan manajemen mutu untuk dapat bersaing dan dapat menembus pasar ekspor maupun domestik. Penerapan ini bertujuan agar terjadi peningkatan daya saing produki secara berkelanjutan dengan melakukan perbaikan secara berkesinambungan pada pelaksana, produk, jasa, dan proses produksi. Beberapa faktor penting dalam penerapan manajemen, yaitu: (1) konsumen; (2) kepemimpinan; (3) perbaikan kesinambungan; (4) manajemen data produk dan produksi yang dihasilkan.
Untuk pencapaian mutu minyak pala yang baik beberapa aspek teknis yang perlu dikendalikan dalam pemilihan bahan baku dan bahan pendukung, proses penyulingan, pengemasan dan penyimpanan produk harus dikelola dengan baik dengan basis manajemen data. Hal ini penting agar suatu produk yag dihasilkan dapat terukur mutu yang dihasilkan. Dalam mengelola industri pala maka buah pala yang digunakan harus didata dengan baik dengan persyaratan-persyaratan mutu buah yang telah disepakati antara petani dan agroindustri; data pemasok pala harus terkelola dengan baik.
Dalam proses penyulingan, penerapan manajemen mutu dapat dilakukan dengan mengendalikan bahan. Penyimpanan bahan sebelum disuling harus sangat dijaga agar mutu tidak berubah, manajemen tata kelola alat penyulingan termasuk didalamnya pemeliharaan alat suling, pengendalian dalam pelaksanaan penyulingan seperti besarnya api sehingga tidak menyebabkan rusaknya bahan dalam proses penyulingan.
Proses penerapan mutu yang terakhir adalah sangat memperhatikan cara dan pelaksanaan pengemasan. Pengemasan yang baik menyebabkan minyak atsiri tidak terkontaminasi atau tercampur dengan bahan lainnya. Fungsi pengemasan untuk melindungi produk dari kontaminasi lingkungan, manusia, dan hal-hal lainnya dalam proses distribusi produk.
Bila agroindustri pala memperhatikan manajemen mutu produk dan menerapkan manajemen mutu dalam usahanya maka ekspor produk minyak pala dapat terlaksana dengan baik dan meningkatkan daya saing produk untuk memenuhi pangsa pasar ekspor yang sangat terbuka.


Sumber: Suci Wulandari dan Agus Wahyudi. 2015. Peningkatan Daya Saing Melalui Penerapan Strategic Quality Management Pada Agroindustri Minyak Pala. Prosiding Seminar Teknologi Budidaya Cengkeh, Lada, dan Pala. IAARD Press.
Penyusun: Miskat Ramdhani-Penyuluh Pertanian BBP2TP

Tanggal Artikel : 04-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Strategi Pemerintah Daerah Fakfak Dalam Memberdayakan Petani Pala
  2. Pengolahan Pala
  3. Manfaat Perbanyakan Tanaman Pala Dengan Cara Vegetatif (sambung)
  4. Penangkaran Benih Pala

  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani