Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Serealia >> Jagung >> Budidaya

Manfaat, Budidaya dan Pasca Panen Sorgum

Sumber Gambar: www.google.com/search?q=gambar+pohon+sorgum&hl=en-ID&safe=strict&tbm=isch&tbs=rimg:Cd2NnQR6y3xbIjgqgF

Sorgum adalah tanaman C4, yaitu tanaman yang adaptif yang dapat tumbuh didaerah panas dan kering, dapat mencapai tinggi 3-5 m. Sebagai tanamam C4 maka sorgum adalah tanaman efesien karena dapat menghasilkan produk fotosintesis yang tinggi.
Kegunaan tanaman sorgum antara lain: 1) sebagai penghasil nira dari batangnya; 2) bijinya dapat dimanfaatkan untuk bahan pangan dan pakan; 3) limbah tanaman berupa daun dapat digunakan sebagai hijauan pakan; 4) ampas batang setelah diperah niranya dapat digunakan untuk pakan atau bahan bakar. Pada umumnya biji sorgum di pedesaan digunakan sebagai pengganti beras atau jagung, sedangkan daun dan batangnya untuk pakan ternak, terutama pada saat paceklik.
Kelebihan sorgum sebagai bahan pangan, pakan, dan industri adalah kaya akan komponen pangan fungsional. Beragamnya antioksidan, unsur mineral terutama Fe, serat, oligosakarida, dan ?-glukan termasuk komponen karbohidrat nonstarch polysakarida (NSP) yang terkandung dalam biji sorgum menjadikannya potensial sebagai sumber pangan fungsional. Keunikan sorgum adalah adanya tanin dan asam fitat yang mengangkat kontroversi negatif dan positif terhadap kesehatan. Sifat antioksidan tanin lebih tinggi daripada vitamin E dan C, demikian juga antioksidan antosianin sorgum lebih stabil. Unsur pangan fungsional yang mengandung komponen bioaktif memberikan efek fisiologis multifungsi bagi tubuh, termasuk memperkuat daya tahan tubuh, mengatur ritme kondisi fisik, memperlambat penuaan, dan membantu pencegahan penyakit regeneratif. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri.
Pemanfaatan sorgum untuk diversifikasi pangan dalam bentuk berbagai produk olahan memerlukan teknologi pengolahan yang tepat sehingga komponen pangan fungsional tersebut tetap berada dalam pangan siap konsumsi
Produk olahan sorgum setengah jadi dalam bentuk beras sorgum (dhal sorgum) dan tepung sorgum. Sedangkan produk olehan pangan siap konsumsi, adalah hasil olahan yang siap konsumsi, dikelompokan menjadi produk pangan non instan (berbasis beras sorgum dan tepung sorgum) dan produk pangan instan
Budidaya
Jenis sorgum ditentukan berdasarkan warna bijinya. Kulit biji sorgum terdiri atas 3 bagian, yaitu bagian luar (epicarp) merupakan lapsan lilin yang sangat tipis (4-8% dari bobot biji), berfungsi melindungi bagian dalam terhadap kekeringan. Bagian ini mengandung zat warna (pigment) yang menentukan warna biji sorgum, yaitu putih hingga sawo matang tua. Biji sorgum yang berwarna tua, banyak mengandung tanin sehingga tidak disukai burung, sehingga mengurangi kehilangan hasil dilapangan. Lapisan kedua (mesocarp) dan lapisan ketiga (pericarp) terdekat dengan endosperma mengadung sedikit karbohidrat tetapi tidak mengandung minyak. Dalam pembuatan tepung seluruh kulit biji sorgum harus dihilangkan.
Sorgum termasuk jenis Andropogonae dan family Poacea merupakan tanaman musim panas meskipun beberapa varietasnya dapat beradaptasi dengan iklim setempat. Sorgum dapat hidup diiklim setengah kering atau kurang subur, temperatur pertumbuhan antara 16 - 32ÂșC. Tanaman sorgum dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis maupun subtropis. Sorgum mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap iklim panas dan kering. Tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi di daerah-daerah yang memiliki curah hujan hanya 400 mm//th. Di daerah yang subur dan curah hujannya lebih tinggi produktivitasnya meningkat. Ketahanan terhadap kekeringan ditunjukan dengan angka kebutuhan air realtif sbb: jagung 100%, sorgum 90%, padi 190%, kedelai 180% dan kentang 170%. Tanaman ini dapat tumbuh di tanah-tanah berat hingga tanah yang banyak mengandung pasir.
Pasca Panen
Panen dilakukan bila biji sudah masak optimal. Di lapangan dapat dilakukan dengan mengambil beberapa biji sorgum lalu digigit, bila biji waktu digigit terasa keras dan terasa tepungnya, maka biji sorgum dianggap sudah cukup tua. Biji yang sudah tua harus segera di panen, bila terlambat akan turun mutunya. Hal ini karena biji mudah tumbuh bila kelembaban udara cukup tinggi. Selain itu, hasil panen makin menurun karena dimakan burung.
Tanda saat panen lainnya yaitu daun mulai mengering dari bawah keatas. Kadar air panen rata-rata 20%, namun didaerah yang kering dapat mencapai 16%. Untuk memudahkan perontokan, malai buah dipotong dengan tangkainya malainya cukup panjang (20-30 cm) agar memudahkan pemegangannya.
Pada kebun sorgum yang tidak luas, petani dapat langsung menjemur malai buah dengan tangkainya. Bila sudah kering lalu diikat seperti padi lokal. Penyimpanan dilumbung atau didapur (di para-para di atas tungku atau disisipkan di bilik). Penyimpanan di dapur bertujuan agar biji sorgum awet, tidak diserang hama. Pada kebun yang luas, perontokan dilakukan di lapangan secara manual (digebot) atau menggunakan alat perontok. Selanjutnya biji dijemur hingga kadar air 14%.
Penulis:
Ir. Marwati (Penyuluh Pertanian, Pusat Penyuluhan Pertanian-Badan PPSDM Pertanian-Kementrian Pertanian
Sumber:
1) Inovasi Teknologi Pasca Panen Pertanian Bioindustri, Badan Litbangtan 2015;
2) Sorgum: Penanganan dan Pengolahan Berbagai Produk Pangan, Badan litbangtan 2015
3) Sumber pendukung lainnya

Tanggal Artikel : 01-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Budidaya Jagung
  2. Pengeringan Jagung Yang Baik Mendukung Swasembada Berlanjutan
  3. Teknologi Tot (tanpa Olah Tanah) Jagung
  4. Pemupukan Jagung Komposit Di Lahan Kering