Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Pasang Surut

Penyiapan dan pengelolaan air pada Lahan Gambut Untuk Tanaman Pangan

Sumber Gambar: : http://8villages.com/full/petani/article/id/5a9d373ddc2ada6b3fb96fb7

Lahan gambut berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian yang produktif. Komoditas yang dapat dikembangkan antara lain tanaman pangan seperti: padi, palawija; tanaman hortikultura seperti jeruk, lidah buaya, dan berbagai sayuran; dan tanaman perkebunan seperti karet, kelapa, kopi, dan kelapa sawit. Pengembangan lahan gambut harus memperhatikan aspek biofisik lahan, sosial ekonomi dan lingkungan. Keterpaduan antara ketiga aspek tersebut diharapkan dapat berdampak terhadap keberlanjutan sistem pertanian di lahan gambut.
Beberapa daerah gambut telah menunjukkan keberhasilan yang menggembirakan seiring dengan waktu berkembang hingga menjadi sentra-sentra produksi pertanian setelah mengalami masa-masa "sulit". Misalnya Desa Kalampangan, Kecamatan Kereng Bengkel, Kalimantan Tengah yang dibuka tahun 1982, sekarang menjadi daerah sentra produksi jagung manis dan sayuran; Desa Sungai Slamet dan Desa Rasau, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat merupakan sentra hortikultura (sayuran dan lidah buaya), daerah Kertak Anyar dan Gambut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan sebagai sentra padi serta beberapa daerah lainnya di Sumatera seperti daerah Telang I, Kecamatan Telang, Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan menjadi daerah sentra padi.
Produktivitas Lahan Gambut
Dari beberapa hasil pemantauan dan penelitian ditunjukkan bahwa produktivitas tanaman pangan di lahan gambut secara umum relatif rendah dan sangat bervariasi, tergantung pada kondisi tanah dan pengelolaan lahannya. Produktivitas padi lokal, misalnya hanya mencapai antara 2,0-2,8 ton gabah kering giling (GKG)/ha, padi sawah unggul antara 3,4-5,5 ton GKG/ha, kedelai antara 0,6-1,7 ton biji kering/ha, dan jagung antara 0,5-2,0 ton pililan kering/ha. Peningkatan pemberian input pada lahan gambut dapat meningkatkan produktivitas tanaman, seperti padi dapat mencapai 5,0-7,0 ton GKG/ha/musim, jagung 2,0-2,5 ton pipilan kering/ha, dan kedelai 2,0-2,3 ton biji kering/ha.
Inovasi Pengelolaan Lahan
Pemanfaatan lahan gambut dapat berhasil jika pengelolaan lahan mengikuti konsep dan teknologi yang tepat, yaitu sesuai dengan karakterisitik lahan dan lingkungannya. Pengelolaan lahan gambut sejatinya secara terpadu dan holistik yang meliputi penyiapan lahan, pengelolaan air, perbaikan atau ameliorasi tanah, pemupukan. pengendalian hama dan penyakit tanaman. Peningkatan produktivitas lahan gambut seringkali terkendala dengan kekahatan hara, kemasaman tanah tinggi, daya menahan beban tanah yang rendah dan kekeringan pada musim kemarau dan kebanjiran pada musim hujan. Komponen inovasi teknologi pengelolaan tanaman terkait dengan sumber daya lahan antara lain: penyiapan lahan, penanaman, pengelolaan air atau drainase, pemberian amelioran dan pemupukan.
Penyiapan lahan
Penyiapan lahan bertujuan untuk menciptakan kondisi lahan yang baik dan ideal untuk budidaya tanaman. Penyiapan lahan di lahan gambut tergantung pada kondisi gambut. Pada lahan yang baru dibuka masih banyak terdapat tunggul-tunggul kayu, sehingga memerlukan upaya pencabutan. Namun kebanyakan petani membiarkan tunggul-tunggul tersebut, karena jika dicabut akan memerlukan waktu dan tenaga yang besar, serta bekas tunggul yang tercabut akan berlubang besar dapat menyingkap pirit sehingga terjadi pemasaman tanah. Pada lahan gambut yang sudah digunakan intensif penyiapan lahan hanya dengan penebasan gulma, pencangkulan seperlunya, perataan, pemupukan, pemadatan dan pembuatan bedengan atau petakan sesuai keperluan tanaman. Gulma-gulma yang terkumpul biasanya dimanfaatkan oleh petani sebagai bahan organik untuk pembuatan kompos atau abu yang berfungsi sebagai amelioran.
Pengelolaan Air
Lahan gambut terutama kubah gambut berperan penting dalam tata air kawasan. Gambut mampu menyerap kelebihan air saat musim hujan sehingga mencegah banjir dan akan melepaskannya secara perlahan-lahan saat musim kemarau. Kondisi ini terkait dengan sifat gambut seperti "sponge" akibat dan tingginya daya serap terhadap air.
Pada kawasan lahan rawa pasang surut, pengelolaan air tidak bisa terlepas dari pengelolaan atau tata kelola air makro dan mikro. Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk: (1) pencegahan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, (2) pencucian asam-asam organik yang berlebih dan senyawa beracun dari dalam tanah, (3) pengaturan tinggi muka air untuk pemenuhan kebutuhan tanaman, dan (4) pencegahan oksidasi yang berlebihan dan antisipasi kebakaran lahan. Pengelolaan air skala makro yang sudah dikenal adalah sistem anjir, garpu, dan sisir.
Pengelolaan air yang dikembangkan oleh petani di lahan gambut pasang surut Kalimantan adalah sistem handil. Handil adalah saluran atau parit yang dibuat menjorok masuk dari pinggir sungai sejauh ± 3 km dengan dimensi dalam 0,5-1,0 m dan lebar 2-3 m. Selain berfungsi untuk irigasi dan drainase, handil dibuat juga untuk pencucian racun-racun.
Petani lokal Kalimantan Tengah, mengelola air dengan sistem tatah yaitu menggunakan saluran air dari alam yang sudah ada. Selain itu di lahan usaha taninya petani membuat parit dan pintu air untuk mempertahankan ketebalan lapisan gambut. Parit dibuat di sekeliling lahan dengan dimensi lebar 40 cm dan dalam 50 cm. Pada bagian tengah lahan dibuat saluran cacing yang membelah lahan menjadi empat bagian. Parit keliling (20 cm x 20 cm x 20cm) ini tidak pernah ditutup agar apabila tiba-tiba terjadi hujan lebat, maka air dapat keluar lahan usaha tani sehingga lahan tidak tergenang. Untuk mencegah kekeringan pada lahan usaha tani saluran cacing ditutup
Pengelolaan air yang dimaksud dalam uraian berikut adalah pengelolaan skala mikro atau disebut dengan tata air mikro (TAM) yaitu pada jaringan tersier, kuarter dan petakan usaha tani. Pengelolaan air skala mikro dapat didasarkan pada tipe luapan (Sarwani et al. 1995) yaitu (1) tipe luapan A dan B, yaitu lahan rawa pasang surut yang mendapatkan luapan pasang langsung saat pasang ganda (neap tide) dan pasang purnama (spring tide), dan (2) tipe luapan C, yaitu lahan rawa pasang surut yang tidak mendapatkan luapan pasang, tetapi muka air tanah dipengaruh pasang sehingga mempunyai tinggi muka air tanah (ground waler table) < 50 cm.
Pengelolaan air pada budidaya padi di lahan rawa gambut pada tipe luapan A dan B dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman dengan pola tanam introduksi dengan Indeks Pertanaman dua kali setahun (IP 200). Penggenangan dan pengeringan secara bergantian akan menciptakan kondisi oksidatif dan reduktif (potensial redoks) sehingga menekan pembentukan CH4. Pengelolaan air mikro (tata air mikro) dapat menerapkan sistem tata air satu arah (one flow system) dan sistem tabat (dam overflow) atau integrasi antara keduanya yang disebut Sistem Tata Air Satu Arah dan Tabat Konservasi (SISTAK).
Pengelolaan air di lahan gambut untuk tanaman palawija pada dasarnya adalah untuk mempertahankan muka air tanah agar selain memenuhi kebutuhan tanaman juga tidak menimbulkan overdrain. Pembuatan saluran yang terlalu dalam akan meningkatkan laju oksidasi dan dekomposisi gambut. Kedalaman muka air tanah dan fluktuasinya memiliki peranan kunci dalam ekosistem gambut. Turunnya kedalaman muka air tanah menguntungkan bagi beberapa jenis tanaman, tetapi dapat menyebabkan gambut menjadi kering tak balik dan meningkatkan laju dekomposisi, sebaliknya tanah yang jenuh air relatif berdampak positif bagi tanah tetapi tidak menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman palawija. Menurut Noor (2001) tinggi muka air tanah yang optimum berkisar 60-100 cm untuk mencegah kekeringan dan kebakaran, 40-50 cm untuk mencegah ambelasan, dan 30-40cm untuk mendukung pertumbuhan tanaman palawija.
Keberadaan air dalam tanah gambut tidak terlepas dari potensi munculnya sifat kering tak balik yang dapat terjadi akibat kekeringan atau kesalahan kelola. Hasil penelitian pada gambut oligotropik di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa sifat kering tak balik muncul pada kadar air 73% untuk gambut hemis dan 55% untuk gambut sapris dari berat keringnya (Masganti et al. 2002). Upaya untuk menjaga lahan gambut selalu dalam keadaan basah atau lembab penting. Pemasangan pintu-pintu air mempunyai peran penting dalam pengelolaan air atau menjaga kedalaman muka air tanah tetap dangkal (< 70 cm)
Penulis: Marwati (PP, Pusat Penyuluhan Pertanian-Badan PPSDMP
Sumber: Litbang Pertanian

Tanggal Artikel : 08-10-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Ameliorasi Lahan Gambut Untuk Tanaman Pangan
  2. Inovasi Pengelolaan Air Pada Lahan Rawa
  3. Pemupukan Pada Lahan Gambut Untuk Tanaman Pangan
  4. Keragaan Varietas Padi Rawa Pasang Surut Meningkatkan Produksi Padi