Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Serealia >> Kedelai >> Hama, Penyakit, Gulma

PENGELOLAAN EKOSISTEM UNTUK PENGENDALIAN KUTU KEBUL KEDELAI

Sumber Gambar: www.google.com

Salah satu hambatan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). OPT penting pada kedelai yang memicu menurunnya produksi antara lain hama kutu kebul. Selain sebagai hama pemakan daun, kutu kebul juga sebagai serangga hama pembawa virus yang dapat menularkan penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV). Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul dapat mencapai 80% bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen).

 

Tanaman kedelai yang terserang hama kutu kebul daunnya menjadi keriting dan apabila serangan parah dan disertai infeksi virus daun keriting berwarna hitam dan pertumbuhan terhambat. Serangan berat pada usia tanaman muda menyebabkan tanaman kerdil, daun keriput dan polong tidak berisi.

 

Usaha pengendalian kutu kebul umumnya bertumpu pada aplikasi insektisida. Akan tetapi pengendalian menggunakan insektisida tidak mampu mengendalikan hama kutu kebul, bahkan aplikasi insektisida ini menimbulkan resistensi pada hama. Hal ini menunjukan bahwa pengendalian menggunakan insektisida saja tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu perlu pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengkombinasikan berbagai komponen pengendalian secara sinergi didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi harus dilakukan. Salah satu komponen pendekatan PHT yang dapat diaplikasikan untuk mengendalikan hama kutu kebul pada tanaman kedelai adalah pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam.

 

Pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam dilakukan untuk membuat lingkungan tanaman menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan pengembangbiakan hama dan penyakit serta mendorong berfungsinya agensi pengendali hayati.

 

Pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam dapat dilakukan dengan cara :


1. Penanaman varietas tahan kutu kebul seperti Detam 1, Detam 2, Wilis, Gepak Kuning, Gepak Ijo, Kaba dan Argomulyo. Untuk daerah endemis kutu kebul tidak dianjurkan menanam varietas Anjasmoro.
2. Penanaman benih sehat yang berdaya tumbuh tinggi. Benih yang sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat pula. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama karena mempunyai kemampuan tumbuh kembali yang lebih cepat.
3. Sanitasi atau membersihkan tanaman inang di sekitar kebun. Rotasi tanaman dengan tanaman non inang juga dianjurkan.
4. Waktu tanam yang tepat dan diusahakan dalam satu hamparan tanam serempak atau selisih tanam tidak boleh lebih dari 10 hari. Hindari waktu tanam yang tumpang tindih pada satu areal tanam kedelai yang luas,. Perbedaan waktu dan stadia tanaman dalam areal yang luas akan mendorong pertumbuhan populasi hama. Hal ini menyebabkan ketersediaan makanan bagi hama kutu kebul terus tersedia sepanjang waktu.
5. Penanaman tanaman penghalang. Tanaman penghalang akan menghambat penerbangan/migrasi hama. Penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai dapat menghalangi atau mengganggu penerbangan/migrasi kutu kebul.

 

Pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam juga dapat dilakukan dengan menjaga keberadaan dari musuh alami. Musuh alami (parasit, predator dan pathogen serangga) merupakan faktor pengendali hama alami yang penting, sehingga perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama di lapangan. Untuk itu dalam usaha bercocok tanam, penggunaan pestisida harus tepat dan rasional. Gunakan pestisida yang sifatnya tidak membunuh musuh alami. Selain itu harus tetap dilakukan pemantauan secara regular dan intensif keberadaan hama di lapangan, sehingga pengendalian yang tepat dapat dilakukan sedini mungkin sebelum hama merusak tanaman.

Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan)
Sumber :
1) Marwoto dan A. Inayati. 2011. Kutu Kebul: Hama Kedelai yang Pengendaliannya Kurang Mendapat Perhatian. Iptek Tanaman Pangan (6) 1, 2011.
2) Mengatasi Kutu Kebul pada Tanaman Kedelai. Sinar Tani Edisi 3 – 9 Januari 2018.

Tanggal Artikel : 14-09-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Pengendalian Gulma Secara Kimiawi Pada Kedelai
  2. Pengendalian Gulma Secara Mekanis, Biologis Dan Terpilih Pada Kedelai
  3. Embun Tepung Microsphaera Diffusa, Merugikan Pada Tanaman Kedelai
  4. Hama Pengisap Polong Riptortus Liniaris Fabriccius Pada Tanaman Kedelai Di Musim Kemarau