Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi

PERSEMAIAN SISTEM BASAH PADI HIBRIDA

Sumber Gambar: www.google.com

Padi sebagai tanaman penghasil beras menjadi komoditas yang sangat penting bagi Indonesia, selain sebagai penghasil bahan pangan pokok, komoditas padi juga merupakan sumber penghasilan utama dari jutaan petani. Upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memenuhi kecukupan pangan secara nasional. Program peningkatan produksi padi dimulai pada tahun 1960 dengan program BIMAS kemudian ditingkatkan menjadi INMAS, INSUS, SUPRAINSUS, Gema Palagung, IP Padi 300, penerapan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) dan saat ini dengan UPSUS.

Strategi utama yang ditempuh dalam upaya peningkatan produksi padi meliputi intensifikasi dan ekstensifikasi pertanaman padi. Salah satu upaya dalam intensifikasi pertanaman padi dilakukan dengan penerapan teknologi varietas unggul. Akan tetapi dalam meningkatkan produktivitas padi dengan penerapan teknologi varietas unggul ini masih menghadapi berbagai kendala antara lain potensi hasil yang tidak terlalu tinggi dari varietas unggul yang ada yaitu hanya 6,0 ton/hektar sedangkan luas areal lahan budidaya padi semakin sempit, sehingga sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan produktivitas padi dapat dilakukan dengan penggunaan varietas padi hibrida.

 

Pilihan penggunaan varietas padi hibrida lebih banyak didasarkan atas : a) potensi hasilnya yang sangat tinggi, yaitu sekitar 12 – 15 ton/hektar; b) vigor lebih baik sehingga lebih kompetitif terhadap gulma; c) keunggulan dari aspek fisiologi, seperti aktivitas perakaran yang lebih luas, area fotosintesis yang lebih luas, intensitas respirasi yang lebih rendah dan translokasi asimilat yang lebih tinggi; serta d) keunggulan pada beberapa karakteristik morfologi seperti sistem perakaran lebih kuat, anakan lebih banyak, jumlah gabah per malai lebih banyak, dan bobot 1000 butir gabah isi yang lebih tinggi.

 

Berdasarkan keunggulan di atas, benih padi hibrida dapat digunakan sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas padi. Adapun untuk mendapatkan hasil yang optimal, penanaman benih padi hibrida harus sesuai dengan karakteristik tertentu. Hal ini dikarenakan sifat unggul yang ada dalam padi hibrida tidak dirancang khusus untuk meningkatkan hasil panen tetapi untuk meminimalisir hilangnya potensi hasil panen karena masalah biotik dan abiotik yang dihadapi petani. Untuk itu salah satu faktor penting dalam budidaya padi hibrida adalah persemaian.

 

Teknik persemaian padi hibrida dilakukan menggunakan sistem basah. Sistem basah pada teknik persemaian padi hibrida dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Lahan diolah dalam kondisi macak-macak, kemudian dibuat bedengan setinggi 5 cm. Lahan persemaian harus sudah siap, paling lambat sehari sebelum sebar benih.
2. Untuk setiap 1 kg benih dibutuhkan lahan persemaian seluas 20 meter persegi. Sedangkan untuk penanaman seluas satu hektar dibutuhkan lahan persemaian 300 – 400 meter persegi.
3. Benih direndam dalam larutan Tetramicin 20 ppm selama 12 – 24 jam, kemudian ditiriskan di tempat yang aman hingga berkecambah 1 mm. Benih disebar merata dengan kepadatan 1 kg benih per 20 meter persegi lahan atau setara dengan kepadatan sebar 50 – 75 gr/m2.
4. Sehari sebelum sebar, persemaian dipupuk SP 36 sebanyak 5 gr/m2 dan KCl 5 gr/m2. Setelah persemaian umur 10 hari ditambahkan pupuk urea 10 gr/m2 luas persemaian.
5. Sehari setelah sebar hingga hari ke tujuh, diberikan pengairan pada pagi hari hingga ketinggian 5 cm dan dikeringkan pada sore harinya. Sedangkan pada hari ke delapan dan seterusnya ketinggian air di jaga 2 – 5 cm.
6. Setelah bibit berumur 15 – 18 hari setelah sebar atau setelah berhelai daun 5 – 6 helai, bibit tanaman dipindah di lahan pertanaman.

 

Selama masa persemaian secara periodik dilakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya serangan hama dan penyakit tumbuhan (OPT).

Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan)
Sumber :
1) Menakar Kembali Padi Hibrida, Solusi Alternatif Ungkit Produktivitas. Sinar Tani Edisi 15 – 21 Agustus 2018.
2) Agrivinie Rainy Firohmatillah dan Rita Nurmalina. 2012. Pengembangan Padi Varietas Unggul Hibrida : Pendekatan Metode Quality Function Development dan Sensitivity Price Analisis. Jurnal Ekonomi Pembangunan 13 (1), 2012. hlm.29-45
3) Benyamin Lakitan. 2007. Padi Hibrida: Apakah ini Jawabnya. http://www.drn.go.id
4) Keunggulan dan Kelemahan Padi Hibrida. Agro-Farming Agent.co. https://sergabblog.wordpress.com

Tanggal Artikel : 14-09-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Wereng Hijau Pembawa Virus Penyebab Penyakit Tungro
  2. Mengenal Dan Teknik Produksi Benih Padi
  3. Menghitung Rendemen Beras Pada Padi Atau Gabah
  4. Sawah Apung Sebuah Alternatif Di Lahan Banjir