Materi Penyuluhan >> Hortikultura >> Tanaman Buah >> Pisang >> Pengendalian Hama

Pengenalan Penyakit Layu Tanaman Pisang

Sumber Gambar: google.com

Pisang merupakan buah yang banyak diminati konsumen, karena buah pisang kaya akan vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, buah pisang harganya murah dan dapat tersedia sepanjang tahun. Indonesia memiliki banyak varietas pisang, baik untuk jenis yang dikonsumsi segar seperti pisang raja, pisang mas, pisang ambon, pisang barangan serta jenis pisang olahan seperti pisang tanduk, pisang kapok, pisang nangka dan lain-lain. Pisang merupakan kontributor utama produk nasional. Dengan beragam jenis varietas, penyebaran yang cukup luas serta berproduksi yang tidak tergantung musim, maka pisang telah menjadi andalan utama pemenuhan konsumsi buah-buahan di Indonesia. Dalam upaya peningkatan pendapatan petani buah beserta keluarganya, pengembangan kebun pisang perlu terus digalakkan, sehingga produk dapat meningkat dan mutu yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan permintaan pasar domestik maupun internasional

Sebagian besar pertanaman pisang rakyat di Indonesia ditanam di pekarangan dan tegalan sebagai tanaman campuran dengan tanaman pangan atau perkebunan, ada pula dengan menerapkan pola tumpang sari. Keterampilan petani dalam pengelolaan kebun masih terbatas. Pemeliharaan kebun seperti pemupukan, penjarangan anakan atau pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) hampir tidak ada, sehingga pertanaman yang ada hampIr tidak pernah tersentuh oleh teknologi. Oleh karena itu, buah yang dihasilkan kurang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kondisi ini menyebabkan pertanaman pisang rentan terhadap serangan penyakit, salah satunya adalah penyakit layu (layu bakteri dan Fusarium). Sebelum terjadi serangan penyakit layu, pisang juga telah menjadi salah satu andalan ekspor buah Indonesia, namun sejak tahun 1998 ekspor pisang menurun tajam seiring dengan meningkatnya serangan penyakit layu.

Hampir di semua wilayah sentra produksi pisang terjadi serangan penyakit layu yang mngakibatkan kerusakan tinggi, sehingga ada kecenderungan produksi mengalami penurunan. Serangan penyakit layu pada tanaman pisang sangat merugikan petani. Sebelum melakukan upaya rehabilitasi kebun sebagai cara untuk mengembalikan produktivitas kebun, perlu mengenali gejala serangan penyakit layu, baik yang dissebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum E.F. Smith pv. celebensis maupun cendawan Fusarium oxisporum f.sp. celebensis. Untuk itu diperlukan upaya-upaya untuk merehabilitasi kebun pisang rakyat yang terserang penyakit layu Fusarium atau layu bakteri. Cara terbaik untuk menghindari serangan penyakit layu adalah dengan melakukan implementasi rehabilitasi kebun yang dilaksanakan dengan penanaman di lahan baru yang masih bebas penyakit layu. Namun demikian pada kenyataan di lapangan hal ini sulit untuk diterapkan dengan keterbatasan keahlian dan permodalan. Petani pisang membutuhkan rekomendasi teknologi budidaya yang masih memungkinkan petani untuk bertanam pisang di kebunnya yang sudah terserang penyakit Fusarium.

Gejala/Ciri-ciri Kebun Pisang terserang Penyakit Layu Bakteri
Penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum E.F. Smith pv celebensis) pada tanaman pisang menyerang tanaman melalui akar. Gejala khas yang tampak pada tanaman yang terserang penyakit layu bakteri adalah sebagai berikut:

• Timbulnya gejala serangan layu bakteri pada daun biasanya baru tampak setelah munculnya tandan buah atas fase generatif

• Daun muda berubah warna menjadi kuning, ibu tulang daun keluar garis coklat kekuning-kuningan. Setelah itu dalam waktu 1 (satu) minggu semua daun menguning lalu menjadi coklat dan akhirnya mengering;

• Cairan merah keluar melalui luka pada batang, adakalanya cairan keluar bersamaan dengan keluarnya jantung pisang;
• Jika batangnya dipotong melintang akan tampak garis-garis coklat hitam pada bagian dalam menuju ke semua arah;

• Pada buah, gejalanya agak lambat, pada umumnya pada buah hamper menyelesaikan proses pemasakan/pemetangan buah. Isi buah menjadi cairan seperti lendir merah kecoklatan;

• Buah tampak seperti dipanggang berwarna kuning coklat, layu dan busuk.

Apabila ditemukan gejala seperti tersebut diatas, maka perlu segera dilakukan upaya pengendalian agar serangan penyakit layu bakteri tidak menyebar ke pertanaman lainnya.

Gejala/Ciri-ciri Kebun Kebun Pisang terserang Penyakit Layu Fusarium
Penyakit layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp.cubense) merupakan penyakit layu yang juga sangat merugikan petani. Penyakit layu ini dapat menyerang sendiri atau bersama-sama dengan penyakit layu bakteri. Penyakit layu Fusarium menyerang tanaman melalui akar. Gejala khas yang tampak pada tanaman yang terserang penyakit layu Fusarium sbb:

• Cendawan F. oxysporum menyerang jaringan empelur batang melalui akar yang luka;

• Batang yang sakit akan banyak kehilangan cairan dan akan berubah warna menjadi kecoklatan, bagian tepi bawah daun berubah warna menjadi kuning tua, coklat dan akhirnya mongering. Srdangkan tangkai daun patah sebagai pangkal;

• Kadang kala lapisan luar dari btang palsu (pelepah) terbelah mulai dri permukaan tanah;

• Tanaman yang terserang tidak mapu berbuah atau buahnya tidak berisi;

• Jika pangkal batang dibelah membujur terlihat garis coklat atau hitam menuju ke semua arah dari pangkal batang (bonggol) ke atas, melalui jaringan pembuluh pangkal dan tangkai daun.

Cendawan F. Oxysporum dapat bertahan lama di dalam tanah selama puluhan tahun. Patogen dapat bertahan secara alami di dalam tanah dan pada akar-akar tanaman yang sakit. Pelukaan pada akar (yang dapat terjadi karena mekanis, serangan nematode dan penggunaan alat-alat pertanian) dapat mendorong pertumbuhan spora.
Kedua penyakit layu ini mudah menular melalui bibit dan pemakaian alat-alat pertanian, terutama alat pengolahan tanah seperti cangkul, parang dan lain sebagainya. Selain itu, penyakit layu mudah menyerang pada tanah-tanah yang aerasinya kurang baik, becek dan air tanahnya menggenang, serta tanaman yang kurang pemeliharaan.

Penulis: Susi Deliana Siregar (Penyuluh Pertanian Pusat)
Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan

Tanggal Artikel : 09-07-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Mengenal Penyakit Speckle Pada Daun Pisang
  2. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Pisang