Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Umbi-Umbian >> Talas

Penyiraman Air Dalam Jumlah Tepat Akan Berpengaruh Terhadap Produksi Talas

Sumber Gambar: Tuquh.com

Talas ialah salah satu tanaman penghasil umbi yang berasal dari suku Araceae atau talas-talasan. Tanaman dengan nama ilmiah Colocasia esculenta ini diduga berasal dari Asia Tenggara atau Asia Tengah bagian selatan. Terdapat 4 macam jenis talas yaitu Talas Pandan, Talas Ketan, Talas Banteng, dan Talas Lahun Anak.
Umbi talas adalah satu diantara beberapa komoditas umbi-umbian yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan pangan alternatif selain beras yang bersifat sehat dan aman terutama bagi penderita penyakit diabetes dan bagi orang yang melakukan program diet. Tingkat keamanan dari umbi talas tersebut terletak pada rendahnya kandungan karbohidrat (22,25 %), dibandingkan dengan kandungan karbohidrat dalam beras (67,89 %). Tinggi tanaman talas antara 0,5 hingga 1 m. Daun berukuran cukup lebar antara 12-25 cm dan panjang antara 20-50 cm, berbentuk tameng yang muncul dari tunas apikal kormus yang berupa gulungan dengan tangkai daun yang panjang dan tegak. Umbi talas dapat dikonsumsi dengan cara direbus. Selain itu dapat juga di olah menjadi beberapa macam bentuk olahan seperti keripik talas, bubur instan (terutama untuk makanan bayi dan orang tua), serta dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan dasar pembuat roti. Berdasar pada tingginya tingkat pemanfaatan tersebut, yang diikuti dengan semakin meningkatnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap sumber bahan pangan yang berkualitas, mengakibatkan permintaan umbi talas mengalami peningkatan. Akan tetapi peningkatan tersebut belum dapat dipenuhi sebagai akibat masih rendahnya tingkat produktivitas umbi.
Indonesia merupakan negara produsen talas, tercatat produksinya sekitar 57.000 ton pada tahun 2008. Sebagai informasi, pada tahun 2006, Indonesia pernah mengekspor talas Jepang atau satoimo sebanyak 25 ton ke Jepang. Talas satoimo merupakan salah satu jenis talas dari 125 jenis talas di dunia dan talas satoimo asal Indonesia ini dilaporkan lebih kenyal dan enak, sehingga prospek usahatani talas satoimo memberikan peluang yang tinggi untuk ekspor. Umbi talas ini memiliki potensi besar dan bernilai tinggi. Di beberapa daerah tanaman umbi talas telah banyak dimanfaatkan tidak hanya sebagai bahan pangan tapi juga sebagai bahan pakan ternak serta bahan baku industri untuk kebutuhan industri farmasi ataupun kosmetik. Pemanfaatannya semakin meluas mengingat hampir sebagian besar bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi manusia. Apalagi komoditi ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan adaptasi yang tinggi dan produktivitasnya cukup tinggi. Bisa juga ditanam sebagai tumbuhan selingan pada pertanian. Bahkan, masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan. Namun demikian karena umumnya tanaman talas hanya di tanam 1 kali dalam 1 tahun, yaitu hanya pada awal musim penghujan. Sehubungan dengan adanya permasalahan tersebut dan dalam upaya untuk meningkatkan tingkat ketersediaan umbi talas, serta agar umbi talas tetap tersedia sepanjang musim maka perlu dicarikan jalan keluarnya agar talas bisa berproduksi tinggi. Salah satunya perlu diperhatikan penyiramannya. Kekurangan pasokan air baik sementara atau secara permanen mempengaruhi morfologi dan fisiologis dan bahkan proses biokimia dalam tanaman dapat terganggu. Stres air juga dapat mempengaruhi seluruh anatomi atau semua organ pada tanaman. Oleh karena itu jumlah dan waktu pemberian air perlu diperhatikan, karena akan berpengaruh pada pertumbuhan. Sedangkan saat pertumbuhan akan berpengaruh pada hasil tanaman talas. Hal tersebut, karena air merupakan senyawa yang sangat penting dalam kaitannya dengan proses metabolisme dan fisiologis tanaman, terbukti dari penelitian Agus Nurchaliq, Medha Baskara, Nur Edy Suminarti, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jawa Timur, meneliti pengaruh jumlah dan waktu pemberian air pada pertumbuhan dan hasil tanaman talas (colocasia esculenta (l.) Schott var. Antiquorum). Penelitiannya bertujuan untuk mempelajari respon tanaman talas pada berbagai tingkatan jumlah dan waktu pemberian air serta untuk menentukan jumlah dan waktu pemberian air yang tepat pada tanaman talas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman talas yang diairi sebanyak 1500 mm per musim yang diberikan 1 hari sekali, menunjukkan hasil yang paling tinggi pada seluruh komponen pertumbuhan dan hasil. Hal ini disebabkan karena fungsi air sebagai bahan pelarut unsur hara bisa menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga unsur hara N,P,K dapat dengan mudah diserap oleh tanaman. Sebagaimana telah diketahui bahwa unsur hara Nitrogen (N) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Sedangkan unsur hara fosfor (P) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar. Unsur hara Kalium (K) berfungsi untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat serta berperan juga dalam menjaga turgor tanaman dan membukanya pori-pori daun.
Penyunting: Yulia Tri S
Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id
Sumber:
1. JURNAL Prouksi Tannaman http://protan.studentjournal.ub.ac.id/index.php/protan/article/view/118
2. http://www.faunadanflora.com/cara-budidaya-talas/
3. Sinar Tani http://tabloidsinartani.com/content/read/bioindustri-umbi-talas/

Tanggal Artikel : 07-12-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Budidaya Talas
  2. Keunggulan Talas Dan Ubi Jalar
  3. Berbagai Jenis Talas Bogor