Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Serealia >> Kedelai >> Pengolahan Hasil

Pengaruh Pengeringan Terhadap Kualitas Benih Kedelai

Sumber Gambar: indiamart.com

Penggunaan benih yang berkualitas tinggi merupakan prasyarat utama dalam budi daya kedelai, karena akan menjamin diperolehnya populasi tanaman sesuai yang dikehendaki (optimal), berkecambah menjadi bibit sehat dan vigor sehingga akan diperoleh tanaman yang tumbuh seragam. Teknik Produksi dan Pengembangan Benih yang berkualitas harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. asal benih atau nama varietasnya jelas, b.bernas atau tidak keriput, c. bersih dari kotoran dan tidak bercampur dengan biji tanaman maupun varietas lain, d. tidak membawa bibit penyakit, serta e. berdaya kecambah minimal 85%. Jika benih berdaya kecambah rendah (kurang dari 85%) ada tiga permasalahan yang menyebabkan potensi hasilnya tidak optimal dan atau biaya produksi meningkat, sebab: a) Vigor tanaman/bibit rendah, b) populasi tanaman di bawah optimal, dan c) akibat butir a dan b tersebut gulma akan berpotensi kuat untuk bersaing dengan tanaman kedelai dalam memanfaatkan sinar matahari, unsur hara, dan air; serta gulma akan menjadi sarang atau sumber hama dan penyakit. Gulma yang tumbuh lebih lebat dalam penyiangannya membutuhkan tenaga/biaya yang lebih besar. Sehubungan dengan itu, maka proses produksi benih kedelai harus memperoleh perhatian yang serius. Guna memperoleh benih yang berkualitas, benih kedelai hendaknya diperoleh dari pertanaman musim kemarau. Benih yang diperoleh dari pertanaman musim hujan di samping persentase biji yang menjadi benih rendah karena mutu fisiknya buruk, juga daya kecambahnya rendah, dan banyak terinfeksi penyakit Setelah dipanen, brangkasan tanaman harus segera dikeringkan, penundaan pengeringan brangkasan lebih dari dua hari akan menghasilkan benih yang berkualitas rendah. Untuk merangsang tumbuh-berkembangnya penangkar benih kedelai, harga benih kelas benih sebar perlu ditingkatkan, yang sekarang hanya sekitar 1,5 kali ditingkatkan menjadi sekitar 2,5-3,0 kali harga kedelai konsumsi. Untuk mewujudkan sistem perbenihan kedelai yang mampu menyediakan benih yang berkualitas, maka sistem perbenihan Jabalsim harus disertai dengan pembentukan penangkar benih tingkat pedesaan atau produksi benih berbasis komunitas. Dalam sistem perbenihan ini, skala produksi tidak besar mungkin cukup puluhan ton per tahun dengan jumlah penangkarnya dua atau tiga penangkar untuk setiap kabupaten.
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksii kedelai dalam negeri dibutuhkan serangkaian proses produksi kedelai yang baik. Dalam hal ini pengolahan benih menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas produksi kedelai, dii antaranya yaitu proses pengeringan.
Di Indonesia kedelai dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan seperti tempe, kecap, susu dll. Selain itu, nilai gizi yang terkandung dalam kedelai cukup tinggi. Kedelai di daerah tropika dan subtropika mengandung kira-kira 39-42 % protein dan 18-22 % lemak sehingga sangat baik untuk dikonsumsi. Agar dapat memaksimalkan pemanfaatannya, produksi kedelai harus dioptimalkan, mulai dari pengadaan benih, sistem budidaya, hingga tataniaganya. Hal yang paling mendasar dalam produksi kedelai adalah penggunaan benih. Untuk menghasilkan kedelai yang baik, benih yang digunakan harus merupakan benih unggul dan bermutu tinggi. Syarat benih bermutu tinggi adalah: (1) murni dan diketahui varietasnya; (2) memiliki daya kecambah yang tinggi (>80%); (3) mempunyai vigor yang baik, yaitu dapat tumbuh cepat dan serempak, serta kecambahnya sehat; (4) bersih dan tidak tercampur biji rumput, kotoran benih atau biji tanaman lain; (5) sehat, tidak terinfeksi cendawan yang dapat menyebabkan kecambah menjadi busuk; (6) bernas, tidak keriput, tidak ada bekas gigitan serangga, serta telah benar-benar kering.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa panen kedelai yang tepat untuk keperluan benih adalah apabila warna polong telah 50% berubah menjadi cokelat. Pada tingkat masak tersebut benih lebih tahan lama disimpan dibandingkan dengan kedelai yang dipanen lebih awal atau lebih lambat. Sifat genetik benih dapat tampak pada permeabilitas dan warna kulit benih yang berpengaruh pada daya simpan benih kedelai. Biji kedelai termasuk biji-bijian yang sangat mudah rusak sehingga penanganannya harus dilakukan secara cermat. Benih kedelai akan turun daya kecambahnya dalam jangka waktu satu bulan jika tidak dilakukan tindakan perawatan terhadap benih. Untuk dapat menghasilkan benih kedelai yang bermutu tinggi harus dilakukan proses produksi dan pengolahan yang baik dan sesuai dengan kondisi sifat benih tersebut. Benih kedelai adalah jenis benih ortodok, yaitu benih yang dapat diturunkan kadar air benihnya hingga di bawah 11%. Pengeringan adalah suatu metode untuk menurunkan kadar air benih yang bertujuan untuk mengurangi laju respirasi dan metabolisme benih, sehingga benih tersebut dapat mempertahankan mutunya dalam waktu yang lebih lama. Pengeringan benih dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu dengan penjemuran di bawah sinar matahari (sun drying) atau dengan mengalirkan udara panas dalam boxdryer ataupun oven. Kedua metode pengeringan dapat memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap benih, karena suhu yang dialirkan ke benih pun berbeda tiap metode tersebut. Untuk itu, dalam pengeringan benih harus memperhatikan suhu pengeringan yang aman dan paling baik agar viabilitas benih tetap tinggi. Penelitian tentang pengeringan dan masa simpan benih kedelai ini mengacu kepada viabilitas dan vigor benih dengan pemberian perlakuan suhu pengeringan dan masa simpan yang berbeda-beda untuk beberapa varietas benih kedelai.
Dari hasil penelitian Fauzah Shaumiyah , Damanhuri dan Nur Basuki disimpulkan bahwa Pengeringan benih kedelai varietas Wilis yang paling baik yaitu dengan suhu 32 째C (penjemuran), 35 째C dan 45 째C. Sedangkan untuk varietas Anjasmoro yang paling baik yaitu dengan suhu 32 째C (penjemuran) dan 45 째C. Benih kedelai varietas Wilis yang dikeringkan dengan suhu tinggi (oven suhu 55 째C) mengalami kemunduran sejak 4 bulan penyimpanan. Sedangkan varietas Anjasmoro mengalami kemunduran sejak awal sebelum disimpan. Varietas Anjasmoro lebih peka terhadap suhu pengeringan yang tinggi dan masa simpan yang lebih lama karena kandungan proteinnya lebih tinggi serta memiliki ukuran benih yang lebih besar dari varietas Wilis.
Penyunting: Yulia Tri S
Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id

Sumber:
1. Hasil penelitian yang berjudul : Pengaruh Pengeringan Terhadap Kualitas Benih Kedelai oleh Fauzah Shaumiyah , Damanhuri dan Nur Basuki, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, 2013
2. Teknik Penyimpanan Benih Kedelai Varietas Wilis pada Kadar Air dan Suhu Penyimanan yang Berbeda

Tanggal Artikel : 07-12-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Pengelolaan Panen Kedelai
  2. Pengembangan Industri Pengolahan Kedelai
  3. Pengolahan Kedelai Menjadi Kecap
  4. Pengolahan Kedelai Menjadi Tauco