Materi Penyuluhan >> Hortikultura >> Tanaman Sayuran

Bertanam Sayuran Secara Vertikultur

Sumber Gambar: www.google.com

Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas. Misalnya, lahan 1 meter persegi umumnya hanya bisa untuk menanam 5-9 batang tanaman. Tetapi dengan sistem bertanam vertikal bisa menanam sampai puluhan batang tanaman.

Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur sangat beragam. Tinggal disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segitiga, atau dibentuk mirip anak tangga, dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak. Bahan dapat berupa bambu atau pipa paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras pun bisa. Salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan benda-benda bekas di sekitar kita. Kali ini yang akan dibahas adalah wadah vertikultur tunggal dari bahan pipa paralon.

Persyaratan wadah vertikultur adalah kuat dan mudah dipindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar pendek. Jenis tanaman sayuran yang sering ditanam secara vertikultur antara lain selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya.

Untuk tujuan komersial, pengembangan vertikultur ini perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya. Tujuannya agar biaya produksi jangan sampai lebih tinggi dari pendapatan hasil penjualan tanaman. Sedangkan untuk hobis, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.

Pembuatan Wadah Tanam Vertikultur
Wadah tanam vertikultur bisa dibuat dari pipa paralon diameter 4 atau 6 inchi. Potong masing-masing paralon yang disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya ukuran potongan sekitar 1,7 meter. Ukuran ini disesuaikan agar saat penanaman tanaman, proses perawatan dan pemanenan tidak merepotkan.

Kemudian buat lubang pada masing-masing paralon yang sudah dipotong-potong. Caranya, buat titik-titik yang nantinya akan dibuat lubang. Lubang ini bisa dibuat model menyilang atau lurus. Sangat tergantung keinginan pembuatnya. Dari satu titik ke titik lain dibuat dengan jarak sekitar 20 cm. Kalau bisa jarak ini jangan terlalu dekat, agar mudah dalam perawatannya.

Kemudian titik-titik lubang tanam yang sudah ditentukan digergaji secara melintang dengan ukuran 8-10 cm. Setelah semua titik-titik lubang tanam digergaji, kemudian siapkan api atau bisa juga menggunakan alat api yang untuk membakar daging barbeque. Panaskan paralon di sekitar lubang yang sudah digergaji. Setelah paralon terlihat lunak, tekan bagian yang lunak tersebut dengan menggunakan botol kaca (botol beling) sampai membentuk lubang yang diinginkan.

Jika pembuatan lubang tanam sudah selesai, kemudian bagian bawah paralon dibenamkan (ditanam) ke tanah agar paralon berdiri tegak. Atau bisa juga bagian bawah paralon tidak dibenamkan di tanah tetapi dibenamkan ke wadah ember dan diisi dengan adonan semen dan pasir. Jika proses pembenaman paralon selesai, langkah selanjutnya adalah pengisian media tanam ke dalam paralon.

Pengisian Media Tanam
Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang perakaran. Dari media tanam inilah tanaman menyerap makanan berupa unsur hara melalui akarnya. Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah, pupuk kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1.

Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung air di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman.

Campuran media tanam kemudian dimasukkan ke dalam paralon hingga penuh. Untuk memastikan tidak ada ruang kosong, dapat digunakan bambu kecil atau kayu untuk mendorong tanah hingga ke dasar wadah (ruas terakhir). Media tanam di dalam bambu diusahakan agar tidak terlalu padat, agar air mudah mengalir. Media tanam yang terlalu padat membuat akar tanaman kesulitan "bernafas", dan tidak leluasa dalam mempertahankan air dan menjaga kelembaban.


Persiapan Bibit Tanaman dan Penanaman
Sebelum berencana membuat wadah vertikal, terlebih dahulu mempersiapkan sejumlah bibit tanaman, Ketika tanaman sudah mencapai umur siap dipindahkan. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam proses budi daya secara vertikultur, yaitu penyemaian benih, pemindahan, dan penanaman.

Penyemaian benih memerlukan wadah dan media tanam. Wadah yang digunakan umumnya berupa nampan plastik yang berukuran sekitar 20 x 30 cm dengan tinggi wadah sekitar 5 cm. Untuk media tanamnya bisa menggunakan campuran kompos dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1. Jika ingin menggunakan wadah penyemaian jenis lain, silahkan saja.

Kemudian isi nampan dengan media tanam yang sudah disiapkan dengan ketebalan sekitar 3 cm saja. Ratakan media tanam. Kemudian siram media tanam dengan air menggunakan sprayer hingga basah merata. Tetapi jangan terlalu banyak air. Kemudian buat lubang tanam dengan menggunakan pensil atau sumpit bekas. Lubangi media tanam dengan jarak tanam sekitar 2x2 cm. Setelah membuat lubang tanam selesai, isi setiap lubang tanam dengan benih sayuran sebanyak 2-3 biji. Tutup kembali lubang tanam yang sudah diisi benih dengan media tanam.


Contoh bibit tanaman
Kemudian 2-3 minggu setelah penyemaian, umumnya benih sudah berkecambah dan mengeluarkan 3-4 daun. Benih yang sudah tumbuh daun dan sudah berjumlah 4-5 lembar daun atau bibit sayur sudah berumur sekitar satu bulan, sudah layak dipindahtanamkan ke wadah vertikultur.

Sebelum bibit-bibit ditanam di wadah vertikultur, terlebih dahulu menyiramkan air ke dalam wadah hingga jenuh. Bisa ditandai dengan menetesnya air keluar dari lubang-lubang tanam. Setelah cukup, mulailah menanam bibit satu demi satu. Semua bagian akar dari setiap bibit harus masuk ke dalam media tanam. Setiap jenis bibit , sebaiknya ditanam pada wadah vertikultur terpisah.

Pemeliharaan tanaman
Tanaman sayur yang ditanam secara vertikultur juga membutuhkan perawatan, seperti tanaman yang ditanam dengan cara lain. Selain penyiraman dilakukan setiap hari juga perlu pemupukan, dan juga pengendalian hama penyakit. Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk organik misalnya pupuk kompos, pupuk kandang atau pupuk bokashi. Kalau ingin menggunakan pupuk daun cair organik juga bisa dibeli di toko pertanian. Demikian pula dengan pestisida organik juga sudah dijual di toko pertanian. Kontrol tanaman sesering mungkin, terutama pada tanaman yang masih berumur rendah. Pasalnya, pada umur-umur rendah inilah tanaman rentan terserang penyakit.

Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, dan lain-lain) dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk.

Pemanenan
Pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan sistem cabut akar (sawi, bayam, seledri, kemangi, selada, kangkung dan sebagainya). Apabila kita punya tanaman sendiri dan dikonsumsi sendiri akan lebih menghemat apabila panen dilakukan dengan mengambil daunnya saja. Dengan cara tersebut tanaman sayuran bisa bertahan lebih lama dan bisa panen berulang-ulang. (Ibrahim Saragih)

Sumber : - Bertanam Sayuran Secara Vertikultur, Balai Penelitian Tanaman Sayuran
- http://nuansatani.com/budidaya-sayuran-secara-vertikultur/

Tanggal Artikel : 13-11-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Hama Dan Penyakit Tanaman Kailan (brassica Oleraceae)
  2. Pemeliharaan Tanaman Kailan Selama Pertanaman Di Lahan
  3. Cara Tanam Brokoli
  4. Diskripsi Brokoli Hibrida Parietas Lucky