Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Sawah >> Budidaya

BUDIDAYA PADI DISAWAH BUKAAN BARU

Sumber Gambar: www.google

Guna mendukung keberhasilan swasembada beras, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi diantaranya melalui pembukaan sawah baru. Namun untuk bisa berproduksi secara stabil perlu waktu sekitar 10-15 tahun. Hal ini disebabkan selain faktor teknis seperti ketersediaan sarana prasarana maupun factor non teknis seperti para petani yang perlu kerja keras namun hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan hasil yang diperoleh bahkan secara ekonomis sering menimbulkan kerugian petani, hal ini menyebabkan petani kurang antusias. Untuk percepatan berproduksi dalam mengelola sawah baru harus memperhatikan aspek-aspek pengolahan tanah, varietas yang sesuai, system pengelolaan air yang tepat, pemupukan berimbang, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu.

Pengolahan tanah
Sawah bukaan baru sangat berbeda dengan sawah yang sudah mantap yaitu kesuburan tanah rendah, Pada umumnya lahan kering mengandung oksida besi yang tinggi dan dengan penggenangan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dari oksidasi besi dari Fe yang tidak larut menjadi Fe yang larut. Untuk pembukaan sawah dapat dilakukan dengan dua cara pengolahan tanah kering dan olah tanah basah. Pengolahan tanah kering lahan diolah sempurna dengan dua kali bajak dan satu kali garu. Benih ditanam dengan system tugal dengan jarak tanam 20 x 20 cm sebanyak 5-7 biji per lubang. Sedangkan pada pengolahan lahan basah lahan dibajak satu kali dan dihaluskan sampai melumpur. Penanaman dapat dilakukan dengan tanam bening langsun (Tabela)atau tanam pindah dengan umur bibit muda (15-17 hari) sebanyak 2-3 batang/rumpun. Tabeladapat dilakukan dengan cara sebar langsung atau menggunakan alat tabela. Dapat juga dengan cara tanam cicil 3-5 biji/lubang tanam.

Varietas yang sesuai
Varietas yang adaptif terhadap sawah bukaan baru berkadar besi tinggi yaitu IR 66, IR 64, Punggur, Sintanur, Batang Piaman dan Ciujung.

Sistem pengelolaan air
Air merupakan komponen yang sangat menentukan dalam budidaya padi sawah bukaan baru terutama dalam pengendalian keracunan kandungan besi/Fe. Keracunan besi disebabkan karena kekurangan hara makro seperti N, P, K, Ca dan Mgkarena hara ini tidakbisa diserap oleh akar sebagai akibat terselimutioleh oksida-oksida zat besi. Untuk itu perlu dilakukan pengaturan air agar lahan dalam keadaan lembab pada fase awal pertumbuhan tanaman.Jika tidak adahujan maka lahan dapat digenangi selama 12 jam dan dibiarkan mengerin sendiri. Pengeringan dengan cara membuang air keluar petakan sawah. tidak dianjurkan Karen unsur hara makro akan ikut terbuang. Pada keadaan kapasitas lapangan, komposisi air dan oksigen dalam tanahrelatif seimbang. Penetrasi oksigen yang cukup dari udara akan menciptakan lingkungan perakaran berada dalam keadaan oksidatif dan zat besi dalam bentuk yang tidak larut sehingga tidak membahayakan pertumbuhan tanaman. Penggenangan dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hari dengan ketinggian air 5-7 cm sampai tanaman berumur 45-50 hari. Kemudian sawah dibiarkan kering kembali selama 7-10 hari sehingga petakan sawah dalam keadaan kapasitas lapang dan mempercepat turunnya kadar besi dalam tanah. Setelah tanaman berumur 55 hari,lahan kembali digenangi sampai 15 hari menjelang panen. .

Pemupukan berimbang
Dosis pupuk ditentukan hasil analisis tanah di laboratorium. Pada musim tanam pertama dilakukan pemupukan P dan K yang diberikan 1,5 kali dosisi berdasarkan hasil analisis tanah. Pada musim tanam kedua dan seterusnya pupuk P dan K diberikan dengan dosis sesuai hasil analisis tanah. Sedangkan pupuk dasar N diberikan 50 kg Urea/ha pada umur 10 hari setelah tanam dan pupuk susulan diberikan berdasarkan hasil pembacaan bagan warna daun (BWD). Dianjurkan jerami pada setiap musim tanam dikembalikan ke lahan baik dalam bentuk segar atau dalam bentuk kompos dan tidak diperbolehkan melakukan pembakaran jerami setelah panen. Pupuk organik (pupuk kandang/kompos jerami) diberikan dengan takaran 1-2 ton/ha tergantung pada kandungan C-organik dalam tanah.Jika kandungan C-organik < 2% diberikan 2 ton pupuk kandang/ha. Jika hasil analisis tanah menunjukkan kejenuhan Al dalam tanah > 40% dan kandungan Ca dan Mg kurang dari 2 cmol/kg, diberi kapur yang mengandung Ca dan Mg tinggi berupa dolomite dengan takaran 1-1,5 ton/ha/3MT atau300-500 kg/ha/MT.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu
Pengendalian OPT tanaman dilakukan dengan menerapkan PHT (Pengendalian Hama Terpadu), Bila serangan sudah diatas ambang ekonomi, maka dilakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida ramah lingkungan. Penyiangan gulma dilakukan sesuai dengan keadaan pertumbuhan gulma, jika pertumbuhan gulma cepat, maka pengendalian gulma dapat menggunakan herbisida sesuai anjuran.


oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Dihimpun dari beberapa sumber

Tanggal Artikel : 07-08-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Menanam Padi Di Lahan Gambut
  2. Mengenal Budidaya Padi Organik Sistim Sri
  3. Teknologi Zero Waste Mendukung Pengembangan Padi Organik
  4. Teknologi Budidaya Mina Padi