Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Serealia >> Jagung >> Budidaya

TEKNOLOGI ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM PADA TANAMAN JAGUNG

Sumber Gambar:

Dampak perubahan iklim di beberapa negara mempengaruhi pasokan bahan pangan dunia khususnya tanaman serealia utamnya jagung. Sehingga memaksa tiap negara mengamankan lebih dulu kepentingan pangan di dalam negerinya. Hal ini, mengindikasikan perlunya melakukan upaya antisipasi dampak perubahan iklim baik melalui teknolgi adaptasi maupun teknologi mitigasi khususnya bagi tanaman jagung. Peran teknologi menjadi semakin penting untuk memenuhi target pemerintah untuk mencapai swasembada jagung. Produksi dan produktivitas jagung selain dipengaruhi oleh varietas tanaman, mutu bibit, kesehatan tanaman dan juga lingkungan termasuk iklim. Menyikapi adanya fenomena iklim yang tidak menentu seperti ini diperlukan teknologi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pada jagung.
Teknologi adaptif adalah teknologi yang dapat diadaptasikan terhadap kondisi tertentu. Teknologi yang dapat diterapkan antara lain dengan penggunaan varietas unggul adaptif terhadap perubahan lingkungan. Terkait dengan hal tersebut Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan varietas unggul dengan berbagai sifat yang menguntungkan antara lain varietas toleran kekeringan, varietas berumur genjah dan super genjah, varietas toleran genangan, dan pengelolaan hara spesifik lokasi dan budidaya tanaman jajar legowo
1. Varietas toleran kekeringan
Pada lahan sawah irigasi, jagung ditanam dengan pola tanam padi-padi-jagung atau padi-jagung-jagung. Pada lahan kering beriklim basah jagung dapat ditanam dua kali dalam setahun, sedang pada lahan kering beriklim kering, jagung hanya dapat ditanam sekali dalam setahun. Dengan pola tanam demikian disertai curah hujan tidak menentu, tanaman jagung berpotensi mengalami penurunan hasil. Dan pada musim kemarau panjang, pilihan terbaik adalah menanan varietas toleran kekeringan.
Badan Litbang Pertanian, telahmenghasilkan varietas jagung toleran kekeringan dari jenis hibrida yaitu varietas Bima 3 (umur 100 hari) dan Bima 4 (umur 102) sedang untuk jenis jagung komposit yaitu varietas Lamuru (umur 90 hari) dengan potensi hasil masing-masing 10,5 ton/ha, 11,7 ton/ha dan 7,6 ton/ha. .
Selain itu Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan beberapa galur harapan jagung komposit toleran kekeringan dengan umur panen kurang dari 90 hari dan potensi hasil berkisar antara 9,1-9,7 ton//ha. Dengan menggunakan jagung komposit akan menguntungkan petani karena dapat menggunakan benih hasil panen sebelumnya tanpa penurunan hasil.
2. Varietas Genjah dan Super Genjah
Untuk meminimalisasi kegagalan panen akibat pendeknya periode hujan sebagai dampak perubahan iklim, Badan Litbang juga telah menghasilkan varietas unggul jagung umur genjah (80-90 hari) dan super genjah (70-80 hari). Dengan varietas unggul jagung berumur genjah dan super genjah dapat dimanfaatkan petani dalam menyesuaikan pola tanam dan ketersediaan air bagi tanaman pada saat kekeringan.
Selanjutnya dengan varietas genjah dan super genjah diintegrasikan dalam system Pengelolaan Tanaman Terpadu guna meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari 1-2 kali setahun menjadi 3-4 kali jagung dengan system tanam sisip.
Sampai saat ini Badan Litbang Pertanian telah berhasil melepas varietas jagung hibrida dan komposit berumur genjah sebagai berikut: jenis hibrida varietas Bima 7 (umur 89 hari) dan Bima 8 (umur 88) dan jenis komposit varietas Gumarang (umur 82 hari) dengan potensi hasil masing-masing 8-12 ton/ha, 11,7 ton/ha dan 8 ton/ha. Selain itu Badan Litbang juga telah menghasilkan dua galur harapan jagung ST201054 dan ST201043 dengan umur kurang dari 80 hari dengan potensi hasil sekitar 9,4 -10,74 ton/ha..
3. Varietas Toleran Genangan
Selain kekeringan,perubahan iklim juga berdampak pada tinggi dan panjangnya periode hujan sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman jagung, terutama pada stadium vegetative awal. Jagung tidak tahan akan genangan karena mengganggu proses aerasi tanah dan respirasi akar tanaman. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut Badan Litbang telah berhasil melakukan skrining galur dengan tingkat toleransi tinggi terhadap genangan. Dengan pengujian di lapangan terdapat empat galur yang toleran terhadap genangan dengan potensi hasil 8-9 ton/ha.
4. Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi
Badan Litbang juga telah mengembangkan teknologi Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi (PHSL) yang merupakan teknik melakukan pemupukan jagung sesuai kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Teknologi ini diimplementasikan dalam Sistim Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang meliputi pengaturan jarak tanam, jumlah bibit per lubang dan dosis pupuk yang tepat (waktu, ukuran dan cara). Melakukan pemupukan dengan cara membenamkan ke dalam.tanah agar pupuk tidak banyak terbuang karenamenguap atau hanyut terbawa hujan.
5. Budidaya Tanam Legowo
Penerapan budidaya jagung dengan cara legowo dilakukan untuk menyiasati kanopi daun tanaman agar dapat memanfaatkan energi.matahari seefisien mungkin sehingga fotosintesis berjalan dengan optimal. Bertanam dengan jarak tanam antar baris tanaman bgian luar lebih lebar sehingga memudahkan pemeliharaan dan pengendalian hama tanaman. Meskipun jarak antar baris tanaman bagian luar lebih lebar namun populasi optimal tanaman jagung dalam satuan luas dapat dipertahankan.

Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : 1) Anonim, 2012. Perubahan Iklim dan Inovasi Teknologi Produksi Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Kementan; 2) Dihimpun dari beberapa sumber
Sumber gambar: https//www.google.co.id/search..../.....

Tanggal Artikel : 22-12-2016

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Budidaya Jagung
  2. Pengeringan Jagung Yang Baik Mendukung Swasembada Berlanjutan
  3. Teknologi Tot (tanpa Olah Tanah) Jagung
  4. Pemupukan Jagung Komposit Di Lahan Kering