Materi Penyuluhan >> Tanaman Pangan >> Padi >> Padi Pasang Surut

Varietas Unggul Baru Padi Lahan Rawa

Sumber Gambar: http://kalteng.litbang.pertanian.go.id

Seiring pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan semakin meningkat. Lahan merupakan salah satu sumberdaya yang sangat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Disisi lain, saat ini telah terjadi penurunan kualitas dan kesuburan lahan serta alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri. Untuk menghadapi masalah tersebut, pemanfaatan lahan rawa merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan. Lahan rawa sebagian besar terdapat di empat pulau besar di luar Jawa, yaitu Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta sebagian kecil di Pulau Sulawesi.

Lahan rawa merupakan salah satu ekosistem yang sangat potensial untuk pengembangan pertanian. Lahan rawa memiliki ciri jenuh air atau tergenang dalam waktu yang panjang dalam setahun. Ditinjau dari kegunaannya, wilayah rawa yang paling potensial bagi pengembangan pertanian adalah rawa lebak, kemudian lahan rawa pasang surut air tawar. Salah satu komoditas yang cocok dikembangkan di lahan rawa adalah padi. Pada umumnya tanaman padi varietas lokal yang ditanam di lahan lebak berumur 4-5 bulan, atau lebih genjah dari pada yang ditanam di lahan pasang surut (7-9 bulan). Hasil gabah beragam antara 1-3 ton per hektar. Pertimbangan petani dalam memilih varietas lokal berdasarkan sifat kemampuan tumbuh dan berkembang tanaman pada kondisi lahan, serta rasa nasinya yang dianggap enak dengan tekstur nasi pera dan pulen.

Untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi lahan rawa, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan beragam varietas unggul baru (VUB) padi rawa. Jenis benih yang direkomendasikan adalah kelompok inbrida. Penamaan VUB padi rawa ini dikelompokkan dalam nama Inbrida Padi Rawa atau disingkat INPARA. Sejak tahun 2008, setidaknya sudah dilepas 8 (delapan) VUB padi INPARA. Berikut ciri-ciri dan sifat beberapa VUB INPARA.

 

INPARA 1

Varietas INPARA 1 dapat dipanen pada umur 131 hari setelah tanam, dengan potensi hasil sebanyak 6,47 ton per hektar. Pada lahan rawa lebak, rata-rata hasil varietas ini sebanyak 5,65 ton gabah per hektar, sedangkan jika diusahakan di lahan rawa pasang surut dapat mencapai 4,45 ton gabah per hektar. INPARA 1 memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 1,11 meter. Gabah INPARA 1 berwarna kuning, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, tekstur nasinya pera, dengan kadar amilosa sekitar 27,93 persen. Varietas ini agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2, dan tahan terahadap hawar daun bakteri patotipe III dan tahan terhadap blas.

 

INPARA 2

Varietas INPARA 2 baik ditanam pada daerah rawa lebak dan pasang surut. Varietas ini dapat dipanen pada umur 128 hari setelah tanam. Varietas ini dapat menghasilkan 6,08 ton gabah per hektar. Jika ditanam pada lahan rawa lebak, rata-rata hasil varietas ini sebanyak 5,49 ton gabah per hektar, sedangkan jika diusahakan di lahan rawa pasang surut, dalam satu hektar dapat menghasilkan gabah sebanyak 4,82 ton. INPARA 2 memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 1,03 meter. Gabah INPARA 2 berwarna kuning, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, tekstur nasinya pulen, dengan kadar amilosa sekitar 22,05 persen. Varietas INPARA 2 agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, dan tahan terahadap hawar daun patotipe III dan tahan terhadap blas. Selain itu, varietas ini toleran terhadap keracunan Fe (besi) dan Al (Alumunium).

 

INPARA 4

Varietas INPARA 3 memiliki potensi hasil yang cukup tinggi, yaitu 7,6 ton per hektar. Varietas ini baik dItanam pada daerah rawa lebak dangkal dan sawah banjir. INPARA 3 memiliki keunggulan kemampuan bertahan dalam rendaman selama 14 hari pada fase vegetatif. Varietas ini dapat dipanen pada umur 135 hari setelah tanam. Dalam satu hektar, rata-rata hasil varietas ini sebanyak 4,7 ton gabah. INPARA 3 memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 94 centi meter, dan tahan rebah. Gabah INPARA 3 berwarna kuning, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, rekstur nasinya pera, dengan kadar amilosa sekitar 29 persen. Varietas ini agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, dan tahan terahadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII.

 

INPARA 5

Varietas INPARA 5 dapat dipanen pada umur 115 hari setelah tanam, dengan potensi hasil sebanyak 7,2 ton per hektar, dengan rata-rata hasil perhektar mencapai 4,5 ton per hektar. Varietas ini baik ditanam pada daerah rawa lebak dangkal dan sawah rawan banjir. INPARA 5 memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 92 centimeter. Gabah INPARA 5 berbentuk gabah ramping dengan warna kuning, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, tekstur nasinya sedang, dengan kadar amilosa sekitar 25,2 persen. Varietas ini rentan terhadap wereng coklat biotipe 3, dan tahan terahadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII. Selain itu, varietas ini toleran terendam selama 14 hari pada fase vegetatif.

 

INPARA 6

Varietas INPARA 6 baik ditanam pada daerah rawa pasang surut sulfat masam potensial dan rawa lebak. Varietas ini dapat dipanen pada umur 117 hari setelah tanam. Varietas ini dapat menghasilkan 6 ton gabah per hektar, dengan rata-rata hasil sebanyak 4,7 ton gabah per hektar. INPARA 6 memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 99 centimeter. Gabah INPARA 6 berwarna kuning bersih, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, tekstur nasinya sedang, dengan kadar amilosa sekitar 24 persen. Varietas INPARA 6 rentan terhadap wereng coklat, tahan terahadap blas, dan agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV. Selain itu, varietas ini toleran terhadap keracunan Fe (besi).

 

INPARA 7

Varietas INPARA 7 memiliki potensi hasil 5,1 ton gabah kering giling per hektar. Varietas ini baik dItanam pada daerah rawa pasang surut dan lebak. INPARA 7 memiliki toleransi terhadap keracunan Fe (besi) dan Al (alumunium). Varietas ini dapat dipanen pada umur 114 hari setelah tanam. Dalam satu hektar, rata-rata hasil varietas ini sebanyak 4,5 ton gabah kering giling. INPARA 7 memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 88 centimeter, dan tahan rebah. Gabah INPARA 7 berwarna kuning jerami, cukup mudah dirontokkan dari malainya, rekstur nasinya pulen, dengan kadar amilosa sekitar 20 persen. Varietas ini tidak tahan terhadap wereng coklat, agak tahan ungro isolat Subang, tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan 173 serta agak tahan penyakit blas ras 133.

 

INPARA 8 Agritan

Varietas INPARA 8 Agritan dapat dipanen pada umur 115 hari setelah sebar, dengan potensi hasil sebanyak 6 ton gabah kering giling per hektar, dengan rata-rata hasil perhektar mencapai 4,7 ton per hektar. Varietas ini cocok ditanam pada lahan rawa pasang surut, Lebak dangkal dan tengahan. INPARA 8 Agritan memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 107 centimeter. Gabah INPARA 8 Agritan berwarna kuning, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, tekstur nasinya pera, dengan kadar amilosa sekitar 28,5 persen. Varietas ini Agak rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 1,2 dan rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 3. Tahan terhadap hawa daun bakteri patotipe III, agak tahan terhadap hawa daun bakteri patotipe IV dan hawar daun bakteri patotipe VIII. Agak tahan terhadap blas ras 133. Selain itu, varietas ini toleran terhadap keracunan Fe (besi).

 

INPARA 9 Agritan

Varietas INPARA 9 Agritan Cocok ditanam di lahan rawa pasang surut, Lebak dangkal dan tengahan. Varietas ini dapat dipanen pada umur 114 hari setelah sebar. Varietas ini dapat menghasilkan 5,6 ton gabah kering giling per hektar, dengan rata-rata hasil sebanyak 4,2 ton gabah kering giling per hektar.
INPARA 9 Agritan memiliki bentuk tanaman yang tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 107 centimeter. Gabah INPARA 9 Agritan berwarna kuning bersih, dan cukup mudah dirontokkan dari malainya, tekstur nasinya pera, dengan kadar amilosa sekitar 25,2 persen.
Varietas INPARA 9 Agritan agak rentan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, dan 3, Tahan terhadap hawa daun bakteri patotipe III serta tahan terhadap tungro inokulum Garut dan Purwakarta. Selain itu, varietas ini toleran terhadap keracunan Fe (besi).

 

Sumber: 

Balai Besar Penelitian Padi. Tersedia di: http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/public/1560/inbrida-padi-rawa-(inpara)/
Didi Ardi, Undang K., Mamat H.S., Wiwik H, Diah S. 2006. Karakteristik dan Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Wayan Sudana. 2005. Potensi dan prospek lahan rawa sebagai sumber produksi pertanian. Analisis Kebijakan Pertanian. Vol 3(2): 141-151.

 

Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Email: ume_humaedah@yahoo.com

Tanggal Artikel : 11-06-2015

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Mengoptimalkan Lahan Rawa Lebak Untuk Usahatani Padi
  2. Teknis Persemaian Padi Di Lahan Rawa / Lebak
  3. Penggunaan Varietas Padi Toleran Rendaman Akibat Banjir
  4. Pemupukan Padi Sawah Di Lahan Rawa Dengan Menggunakan Perangkat Uji Tanah