Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Ameliorasi Lahan Gambut Untuk Tanaman Pangan

Sumber Gambar: https://mitalom.com/sifat-sifat-tanah-masam-tentang-tanah-masam-gambut-dan-tanah-masam-ultisol/

Lahan gambut berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian yang produktif. Komoditas yang dapat dikembangkan antara lain tanaman pangan seperti: padi, palawija; tanaman hortikultura seperti jeruk, lidah buaya, dan berbagai sayuran; dan tanaman perkebunan seperti karet, kelapa, kopi, dan kelapa sawit. Pengembangan lahan gambut harus memperhatikan aspek biofisik lahan, sosial ekonomi dan lingkungan. Keterpaduan antara ketiga aspek tersebut diharapkan dapat berdampak terhadap keberlanjutan sistem pertanian di lahan gambut.
Beberapa daerah gambut telah menunjukkan keberhasilan yang menggembirakan seiring dengan waktu berkembang hingga menjadi sentra-sentra produksi pertanian setelah mengalami masa-masa "sulit". Misalnya Desa Kalampangan, Kecamatan Kereng Bengkel, Kalimantan Tengah yang dibuka tahun 1982, sekarang menjadi daerah sentra produksi jagung manis dan sayuran; Desa Sungai Slamet dan Desa Rasau, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat merupakan sentra hortikultura (sayuran dan lidah buaya), daerah Kertak Anyar dan Gambut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan sebagai sentra padi serta beberapa daerah lainnya di Sumatera seperti daerah Telang I, Kecamatan Telang, Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan menjadi daerah sentra padi.
Produktivitas Lahan Gambut
Dari beberapa hasil pemantauan dan penelitian ditunjukkan bahwa produktivitas tanaman pangan di lahan gambut secara umum relatif rendah dan sangat bervariasi, tergantung pada kondisi tanah dan pengelolaan lahannya. Produktivitas padi lokal, misalnya hanya mencapai antara 2,0-2,8 ton gabah kering giling (GKG)/ha, padi sawah unggul antara 3,4-5,5 ton GKG/ha, kedelai antara 0,6-1,7 ton biji kering/ha, dan jagung antara 0,5-2,0 ton pililan kering/ha. Peningkatan pemberian input pada lahan gambut dapat meningkatkan produktivitas tanaman, seperti padi dapat mencapai 5,0-7,0 ton GKG/ha/musim, jagung 2,0-2,5 ton pipilan kering/ha, dan kedelai 2,0-2,3 ton biji kering/ha.
Teknologi Inovatif Pengelolaan Lahan
Pemanfaatan lahan gambut dapat berhasil jika pengelolaan lahan mengikuti konsep dan teknologi yang tepat, yaitu sesuai dengan karakterisitik lahan dan lingkungannya. Pengelolaan lahan gambut sejatinya secara terpadu dan holistik yang meliputi penyiapan lahan, pengelolaan air, perbaikan atau ameliorasi tanah dan pemupukan
Peningkatan produktivitas lahan gambut seringkali terkendala dengan kekahatan hara, kemasaman tanah tinggi, daya menahan beban tanah yang rendah dan kekeringan pada musim kemarau dan kebanjiran pada musim hujan. Komponen inovasi teknologi pengelolaan tanaman terkait dengan sumber daya lahan antara lain: penyiapan lahan, penanaman, pengelolaan air atau drainase, pemberian amelioran/ameliorasi, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Ameliorasi
Ameliorasi berperan untuk memperbaiki kesuburan tanah gambut yaitu memperbaiki lingkungan akar bagi pertumbuhan tanaman melalui peningkatan pH, meningkatkan ketersediaan hara, dan menurunkan asam organik dan ion-ion toksin (Attiken et al.., 1998). Amelioran yang dapat memperbaiki kesuburan dapat berupa amelioran organik dan anorganik. Amelioran anorganik berupa kapur pertanian, terak baja, tanah mineral, abu, lumpur sungai, sedangkan amelioran organik berupa kompos, pupuk kandang dan biochar.
Pengapuran pada lahan gambut perlu kehati-hatian. Pada takaran yang terlampau tinggi mempercepat dekomposisi sehingga dapat menyebabkan degradasi gambut. Pemberian kapur dengan takaran 0,2% dari berat kering bahan gambut dapat meningkatkan daya menyimpan P bahan gambut sebesar 45% (Maas, 1993). Pada tanah gambut yang telah diusahakan secara intensif takaran kapur umumnya diberikan antara 1-2 to/ha (Agus dan Subiksa, 2008), sedangkan untuk gambut yang telah terdegradasi berkisar antara 2-5 ton/ha (Maftu'ah, 2012).
Amelioran yang mengandung kation polivalen (Fe, Al, Cu, dan Zn) seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai sangat efektif mengurangi dampak buruk asam fenolat (Sabiham dan Ismangun, 1997 dan Salampak, 1999).
Pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar Fe 6% dengan takaran 7,5% erapan maksimum Fe pada tanah gambut Air Sugihan Kin, Sumatera Selatan dapat menurunkan konsentrasi asam siringat, asani kumarat dan asam vanilat berturut-tunit 88%, 67% dan 36%, meningkatkan ikatan P dalam tanah gambut. Penurunan asam-asam fenolat disebabkan interaksi antara kation Fe dalam tanah mineral sebagai jembatan kation dan asam-asam fenolat melalui proses polimenisasi (Hartatik, 2003). Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995).
Pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Salampak, 1999; Mario, 2002; dan Suastika, 2004). Formula amelioran dan pupuk gambut (Pugam) yang dikembangkan Balai Penelitian Tanah juga efektif meningkatkan produktivitas lahan. Pugam juga mengandung kation polivalen dengan konsentrasi tinggi, sehingga takaran amelioran yang diperlukan tidak terlalu besar yaitu hanya 750 kg/ ha (Subiksa et al., 2009).
Penggunaan abu sebagai amelioran oleh petani di lahan gambut sudah sejak lama dilakukan. Abu dapat berasal dari pembakaran sisa-sisa gulma, kayu (tunggul-tunggul) bekas pohon, sisa-sisa ikan, kulit udang, kotoran ayam, limbah industri kayu dan lainnya. Namun yang perlu sekali diperhatikan adalah cara pembuatan abu harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pembakaran dilaksanakan pada suatu tempat didekat lahan yang telah dipersiapkan. Abu dari pembakaran tersebut dinilai kaya unsur P. Ca, Mg dan K. Banyaknya kation basa dalam abu gambut dapat digunakan sebagai bahan penjerap P, sehingga dapat meningkatkan daya simpan P tanah. Karakteristik abu juga berbeda-beda tergantung pada jenis bahannya. Namun umumnya abu mengandung basa-basa tinggi, pH tinggi, dan kejenuhan basa (KB) yang tinggi.
Pemberian abu gergaji (50 ton/ ha) dan dolomit (14,5 ton/ ha) pada lahan gambut dalam di Siantan Hilir, Kalimantan Barat meningkatkan pH tanah, Ca, Mg dan K dapat ditukar serta P tersedia. Kombinasi pemupukan 40 kg P/ha dan 50 kg K/ha dengan abu gergaji 5 ton/ ha meningkatkan hasil kedelai 1,2 ton/ ha (Hartatik et al, 1995). Ameliorasi dengan abu bakaran 5 ton/ha dan 10 ton/ha pada tanah gambut Air Sugihan Kiri, Sumatera Selatan nyata meningkatkan hasil jagung berturut-turut sebesar 3,9 ton/ha dan 4,5 ton/ha Namun pembuatan abu secara langsung di lahan perlu dilakukan secara terkendali dan berhati-hati, agar tidak terjadi kehilangan lapisan gambut serta emisi CO2.
Ameliorasi dapat menggunakan biochar yaitu arang dari bahan organik yang diperoleh dari proses pembakaran tidak sempurna (pyrolisis). Pengaruh pemberian biochar ke dalam tanah gambut, tergantung pada kualitas biochar. Kualitas biochar antara lain ditentukan oleh kadar air, luas permukaan, ukuran pori, kandungan hara (Lehmann dan Joseph, 2009). Komposisi hara biochar berbeda-beda tergantung pada bahan baku yang digunakan. Pencampuran biochar dan pupuk kandang memberikan komposisi kimia yang berbeda, dibandingkan dengan sifat biochar. Peranan biochar antara lain memberikan tempat (habitat) bagi mikroorganisme tanah, dapat menyimpan hara dan air serta menjadikan lebih tersedia bagi tanaman (Lehmann dan Rondon, 2006; Rondon et al., 2007).
Pupuk kandang telah lama digunakan oleh petani di Kalampangan (Kalteng) untuk meningkatkan kesuburan tanah gambut. Biasanya petani mengkombinasikan pupuk kandang dengan abu untuk bertanam sayur-sayuran. Kelemahan pupuk kandang sebagai bahan amelioran adalah kemampuannya dalam menaikkan pH dan kandungan basa-basa terbatas, sehingga diperlukan dalam jumah yang banyak berkisar antara 2,5-10 t/ha (Prastowo, 1993).
Ameliorasi di lahan gambut dapat dilakukan dengan menggunakan bahan tunggal maupun kombinasi dari beberapa bahan. Pengaruh atau keuntungan yang diperoleh dari ameliorasi pada lahan gambut tergantung pada jenis amelioran. Takaran ameliorannya pun berbeda-beda tergantung pada jenis amelioran. Cara aplikasi amelioran umumnya diberikan di lubang tanam atau dilarik di samping tanaman pada tanaman pangan. Bahan amelioran diaduk dengan tanah sampai kedalaman 15-20 cm.
Rekomendasi Amelioran
Amelioran yang direkomendasikan di lahan gambut, yaitu: 1) kapur dengan takaran 1-2 ton/ha (tergantung pH tanah) dapat meningkatkan pH tanah dan basa-basa; 2) Abu dengan takaran 10-20 ton/ha dapat meningkatkan pH tanah dan basa-basa; 3) Biochar 5-10 ton/ha dapat meningkatkan pH tanah, basa- basa dan habitat mikroorganisme; 4) Pupuk Kandang 10-20 to/ha dapat memperkaya unsur hara baik makro maupun mikro; 5) Tanah Mineral 10-20 ton/ha dapat menurunkan keracunan asam- asam organik: 6) pupuk kandang 80% + dolomit 20% dengan takaran 10-20 ton/ha dapat meningkatkan pH dan unsur hara

Penulis: Marwati (PP, Pusat Penyuluhan Pertanian-Badan PPSDMP)
Sumber: Litbang Pertanian

Tanggal Artikel Diupload : 08-10-2018
Tanggal Cetak : 12-12-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386